Ndeso

5 November, 2011 at 2:20 am 4 komentar


ndesoApa kabar ndeso? Hahaha…kawan-kawan yang beberapa waktu lalu mengikuti kegiatan kopdar blogger nusantara pastinya langsung ngeh dengan kata ndeso. Sambil nulis tentang ndeso, saya juga akan menyerempet ke ajang kopdar blogger nusantara.

Saya tidak yakin apakah pantas ikut tertawa ketika ada yang mengucapkan kata ndeso. Apakah kata ndeso itu terdengar lucu sehingga laik untuk dibuat bahan tertawaan? Baiklah, mari kita maknai kembali arti ndeso tanpa harus tertawa (kecuali kepepet).

Ndeso termaknai sebagai orang desa dengan pola pikir yang tidak modern. Bagi orang-orang yang agamanya modern, tentunya berhadapan dengan orang ndeso akan mengundang kegelian. Sebaliknya, wong ndeso berhadapan dengan orang-orang modern akan menimbulkan kebingungan. “NDESOOO…!”

Dalam konteks humor, menertawakan Ndeso masih bisa diterima. Apa sih yang tidak bisa diterima dalam humor? Humor-humor rasis pun terkadang terdengar lucu meskipun bisa membuat telinga memerah panas. Wilayah seks pun tidak akan membuat pikiran menjadi kotor apalagi tersengat nafsu birahi jika sudah dipoles dengan humor. Ups, saya lupa. Ada humor yang justru berbahaya, khususnya di Indonesia. Yakni, humor agama.

Menertawakan ndeso, seperti halnya cara Thukul Arwana mengucapkannya, sebenarnya bermuatan unsur penghinaan. Namun seperti yang tadi saya katakan, posisi Thukul Arwana menempatkan Ndeso sebagai bisnis dalam humor. Maka, well…well sajalah.

Meski Ndeso itu menjadi bahan tertawaan, sebenarnya ndeso itu tidak selalu dalam posisi pesakitan. Ndeso itu justru luhur. Lihatlah perilaku dan cara hidup orang-orang di desa sana. Begitu santun, ramah dan sederhana. Bandingkan dengan yang modern.

Satu sisi, menjadi ndeso itu perlu. Dalam pandangan hidup khususnya. Jika orang-orang bermazhab cinta modernitas bisa mengadaptasi, atau kembali menjalani rutinitas hidup yang penuh kesantunan, ramah dan kesederhanaan, tentu sesuatu yang ideal bisa kita temui di zaman sekarang ini.

Jika blogger nusantara kadung di cap ndeso, no problemo lah. Kenyataannya, saya pribadi merasakan, ada kesantunan, keramahan juga kesederhanaan yang bisa saya cicipi ketika mengikuti blogger nusantara. Bukankah itu lebih baik ketimbang menjadi modern namun seperti piring retak yang kapan saja bisa terpecah belah? Ndesoooo…!

Entry filed under: Ulasan. Tags: , .

Ayam Goreng Ala Kentucky dicampur dengan Lilin Leecher Tips Download Cepat

4 Komentar Add your own

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: