Ketika Listrik Padam

17 Juli, 2011 at 5:01 am 4 komentar


Seringnya listrik padam membuat emosiku terlatih, kawan. Tidak lagi ngomel jika pekerjaan di komputer belum tersimpan. Tidak perlu ngambek saat bola yang baru saja ditendang keras ke arah gawang mendadak hilang dari layar televisi. Tidak perlu ada teriakan, kemarahan, apalagi anarkis menendang pintu kamar. Bukankah untuk menjadi warga negara yang manis kita harus pandai menggigit jari manis?

Jangan curiga, kawanku. Ini bukan sindiran. Apalah guna menyindir di sebuah tempat yang tak lagi santun dengan syair dan pantun. Sudahlah! Kuharap kau pun tak langsung emosi ketika listrik padam meski akibatnya buruk bagi barang-barang elektronikmu.

Bagiku, emosi itu akan membuat tubuh kita menjadi keras, darah mengalir cepat dan panas, bahkan pikiran tidak terkendali dan mengakibatkan mudah lelah. Bukankah itu juga kerugian?

Beranjaklah dari meja kerjamu, lupakan kalau kau baru saja kehilangan data penting yang belum tersimpan. Pergilah ke luar rumah. Lihatlah pintu-pintu rumah tetanggamu sudah terbuka lebar. Ada nyala lilin menerangi halaman rumah mereka. Anak-anak riang mengitari lilin sambil menyanyikan lagu-lagu cinta populer genre dewasa. Pun jika ada lagu yang sesuai dengan usia mereka, paling itu adalah ‘selamat ulang tahun’ atau happy birthday to you. Tahukah kau alasannya?

Baiklah. Kau sendiri barangkali sudah bersama orang tua mereka dan asyik membicarakan segala macam hal. Entah itu tentang seringnya listrik padam, para koruptor yang melarikan diri ke Sigapura, atau gosip-gosip murahan yang belum teruji kebenarannya. Maaf, aku tak peduli dengan apa yang kalian bicarakan tapi ijinkan aku menanyakan hal ini. Kapan terakhir kali kau meluangkan waktu bersama para tetanggamu? Setahun lalu, sebulan lalu atau minggu lalu? Dimana kita saat siang hari, sedang apa saat itu? Begitu pula saat menjelang malam, apa yang sedang kau kerjakan? Apakah larut menyelesaikan pekerjaan yang tak habis diselesaikan siang hari? Atau mengasyikkan diri bersama internet yang memabukkanmu hingga larut malam?

Maafkan aku yang terlalu ingin tahu kesibukan pribadimu, kawan. Tulisan ini hanya ingin berbagi cerita saat listrik padam. Telah kujumpai sesuatu yang lain dalam diriku di luar sana. Sesuatu yang hilang dan hancur berkeping-keping. Justru ketika listrik padam, di luar sana aku menemui diriku yang asing. Wajah-wajah tetangga yang seharusnya kukenal dengan baik, ternyata hanya oase saat menutup tirai jendela ketika senja tiba. Tanpa ada percakapan, keramah-tamahan, dan kebersamaan. Padahal, bukankah tetangga adalah orang yang pertama kali mengetahui jika kita sedang tertimpa musibah atau mendapat kebahagiaan. Saat kematian sekalipun, tetanggalah yang mengurus jenazah kita. Begitulah, kawanku. Mereka akan ikut merayakannya, mereka pun juga akan ikut mengupacarainya.

Listrik tampaknya akan selalu padam, kawan. Itu artinya kegelapan juga akan selalu menghiasi kehidupan kita. Namun di dalam kegelapan itu, ada nyala lilin yang akan melengkapi diri kita sebagai manusia yang utuh, manusia yang ditakdirkan sebagai  makhluk sosial. Kurasa, di dalam catatan ini, tak perlu kukutip firman Tuhan dan sabda para nabi, karena kuyakin, kau pun sudah mengetahuinya lebih dulu.

Menutup catatan sederhana ini, ijinkan pula aku bertanya satu hal lagi, “Bagaimana jika listrik tak pernah padam, kawanku?” []

Entry filed under: Esai. Tags: , .

MGR, Dewa Turun ke Bumi Mingguraya dalam Novel

4 Komentar Add your own

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: