MGR, Dewa Turun ke Bumi

10 Juli, 2011 at 9:33 pm 2 komentar


Bagi saya, mencatat sesuatu yang lampau memerlukan ingatan yang rapi. Tapi ini hanya sepenggal ingatan yang kusut tentang MGR. MGR adalah komunitas yang berdiri sejak 10 Juli 1978 lalu di Banjarbaru. Itu artinya, saat MGR berdiri, saya belum lahir.

Mencatat MGR sebagai komunitas tak bisa meninggalkan nama Dewa Pahuluan selaku presidennya. Saya punya tafsir sendiri kenapa Dewa Pahuluan menggunakan istilah presiden MGR. Jika sebutan Dewa itu lebih dekat dengan hal-hal di langit atas sana, maka presiden itu urusannya di bumi. Jika digabungkan, inilah catatan kusut tentang seorang Dewa yang turun ke bumi dan membangun istana bernama MGR.

Saya bahagia tahun ini MGR menerbitkan buku untuk menandai 33 tahun MGR. Setidaknya, buku yang berjudul Mingguraya ditulis oleh Rico Hasyim bisa digunakan untuk mengabadikan lipatan sejarah tentang MGR juga tentang kota Banjarbaru dalam genangan waktu.

Sebagai komunitas independen, komitmen MGR dalam mendukung aktifitas seni dan budaya cukuplah mengesankan. Entah sekadar kelakar atau bukan, atas nama MGR, Dewa Pahuluan pernah mengaku uang gaji sebulan habis untuk memberikan dukungan penuh untuk sanggar, organisasi atau komunitas lain yang ingin melaksanakan kegiatan. Sekadar guyon atau tidak, tidaklah penting. Satu hal yang pasti, MGR adalah fakta sebagai komunitas yang terus mendukung kegiatan positif yang tak mengenal musim. Banyak sih pribadi-pribadi seperti Dewa Pahuluan, tapi cenderung musiman. Biasanya musim Pilkada dan musim Caleg. Meski begitu tetap wajib hukumnya saya sebutkan di sini. Seperti musim-musim lainnya, toh musim Pilkada dan Caleg juga akan datang lagi. Bukan begitu? Hehehe..!

Nama MGR sendiri ternyata tidak sebatas apa yang saya ketahui selama ini.  Dalam kesempatan ngobrol dengan Dewa Pahuluan, panjang sekali ceritanya. Intinya adalah, ketika dulu Dewa Pahuluan bersama teman-teman tinggal di Jakarta, mereka sering berkumpul di sebuah tempat bernama Manggarai. Saat kembali ke Banjarbaru, aktifitas ngumpul terus berlangsung, lokasinya saja yang berpindah. Dari Manggarai ke Mingguraya. Jika disingkat dari dua nama tersebut, ketemulah tiga huruf, MGR.

Jika Anda kurang puas dengan catatan ini, atau ingin mengenal lebih jauh tentang MGR, maka tulisan ini tak akan pernah memberikan kepuasan. Tapi ada satu hal yang patut digugu tentang Dewa Pahuluan bersama MGRnya. Jika Anda mengundang Dewa Pahuluan ke resepsi pernikahan, janganlah heran dan bingung jika ada kado istimewa berupa buku. Entah sejak kapan Dewa Pahuluan berinisiatif semacam itu. Dalam konteks materi, boleh jadi Anda berpikir kado buku adalah hal sederhana.  Sebaliknya dalam konteks budaya, kado buku sangatlah berbudaya. Bukankah ini adalah contoh sederhana yang patut ditiru ketimbang hanya menyeru, AYO MEMBACA!? Saya tidak meragukan pikiran-pikiran hebat, rumit dan besar, tapi bukankah hal-hal kecil dan sederhana kelak juga akan membesar?

Lewat ritual memberi kado buku tersebut ternyata masih memiliki efek domino. Dewa Pahuluan sengaja mendatangkan buku-buku yang akan dijadikan kado dari kawan-kawan penulis di banua. Apa yang sudah dilakukan Dewa Pahuluan sangatlah meringankan kebuntuan para penulis dalam penjualan bukunya selama ini. Andaikan ada 10 orang saja mencontoh cara-cara di atas, barangkali para penulis banua semakin subur. Mereka akan terus menulis, menghasilkan karya-karya bagus karena di luar sana ada orang-orang yang peduli dengan hasil karya mereka. Saya yakin banyak orang mampu berbuat sama seperti yang dilakukan Dewa Pahuluan, hanya soal mau atau tidak?

Dalam sisa halaman yang tersedia ini, saya mengucapkan selamat hari jadi komunitas MGR ke-33. Selamat! []

Entry filed under: Esai. Tags: , , , .

Aruh Sastra Ketika Listrik Padam

2 Komentar Add your own

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: