Sesuatu Indonesia

29 Maret, 2011 at 7:44 pm 4 komentar


Seorang kawan menanyakan apakah saya akan menghadiri agenda Temu Sastrawan Indonesia (TSI) IV di Ternate, 25-29 Oktober 2011 mendatang? Saya jawab, tidak. Teman saya itu lantas menganjurkan agar saya harus pergi ke Ternate, sekalipun momennya tidak saat TSI. “Kau harus menjejakkan kakimu ke sana. Setelahnya kau akan tahu bahwa Indonesia itu sangat indah,” kata kawan saya terkesan promosi. Itulah alasan kenapa dulu Portugis menjadikan Ternate sebagai tujuan utama mereka. Apalagi kalau bukan karena indahnya itu!” sambungnya dan kali ini ia sudah benar-benar seperti agen wisata saja.

Promosi kota Ternate berkaitan dengan agenda TSI IV memang sedang gencar-gencarnya. Paling tidak sudah dilakukan melalui media internet. Kalau membaca rencana kegiatan yang akan dilaksakan, sesuatunya tampak luar biasa dan penuh daya tarik. Ir. Arifin Djafar selaku Wakil Walikota Ternate sekaligus Ketua Umum TSI IV mendukung penuh dan siap turun tangan untuk mensukseskan TSI IV mendatang. Tidak tanggung-tanggung, acara pembacaan puisi, gelaran musik rock dan Reggae pun siap menyemarakkan agenda tersebut. Strategi membudayakan minat baca kepada masyarakat pun menjadi perhatian khusus pihak panitia dengan mengadakan Bazar Buku di Mall terbesar kota Ternate selama empat hari. Hebat, bukan?

Kembali pada kawan saya tadi. Kenapa untuk memastikan Indonesia itu indah harus pergi ke Ternate? Bukankah Indonesia punya Bali, Jawa, Kalimantan dan lain-lain. Saya yakin bukan itu yang dimaksud. Ini pasti soal budaya dalam makna tersempit. Saya katakan tersempit karena kata ‘budaya’ sekarang sudah nempel di banyak tempat seperti; budaya korupsi, budaya malas, budaya antri dan lain sebagainya.

Budaya tersempit di sini sebatas unsur kesenian, sejarah, kekayaan dan keindahan alam saja. Baiklah. Jika ini soal budaya yang saya maksud, betapa kasihan sekali Indonesia. Sesuatu yang Indonesia hanya memiliki kebanggaan jika membicarakannya lewat lorong sempit bernama budaya. Bagaimana dengan lorong-lorong lain? Barangkali dari lorong olahraganya, politiknya atau ekonominya. Apakah setiap masuk ke lorong di atas kita seperti masuk ke dalam lorong gelap tanpa cahaya?

Sejauh pengalaman ketika bertemu dengan orang-orang yang pernah berkunjung ke daerah atau negeri lain, oleh-oleh yang mereka bawa pulang adalah cerita tentang kekaguman mereka terhadap budaya tersempit yang saya maksud di atas. Entah itu keindahan alamnya, birunya laut, bersihnya pasir pantai, karya-karya para senimannya, situs-situs purbakala yang terjaga rapi hingga soal kebersihan kota dan keramahan orang-orang lokal. Selalu begitu. Jika demikian, bukankah budaya yang saya maksud merupakan titik konsentrasi sekaligus pusat perhatian ketika seseorang datang dan pergi kesebuah tempat? Sesuatu yang ‘budaya’ adalah alasan utamanya. Lantas, kenapa masih sering terdengar ‘pembantaian identitas budaya’ di berbagai tempat. Bagunan-bangunan kuno yang memiliki historis panjang tidak dirawat, bahkan tega merobohkannya. Kesenian tradisi yang justru menjadi pusat perhatian dibiarkan terkubur bersama masa lalu. Demikian pun fasilitas umum untuk para pelaku budaya kian sulit didapati, pun dipersulit penggunaannya jika ada.

Akhirnya, maklumlah kenapa kawan saya menyarankan agar pergi ke Ternate untuk melihat Indonesia. Sesuatu yang Indonesia itu pastilah menunjuk pada keindahan, kenyamanan dan kekayaan budayanya. Lantas bagaimana dengan Kalsel sendiri? Paling tidak apa yang bisa meyakinkan orang-orang jika kalimat ini meledak-ledak,“Datanglah ke Kalsel, di sana juga ada Indonesia yang indah! Datanglah dan lihatlah!”

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , .

Menjadi Detektif di Pustarda Banjarbaru Print On Demand, Menerbitkan Buku Semakin Mudah

4 Komentar Add your own

  • 1. setting dns nawala ubuntu  |  29 Maret, 2011 pukul 8:33 pm

    Selamat malam. Makasih atas infonya.

    Balas
  • 2. baburinix!  |  9 April, 2011 pukul 1:57 pm

    “Datanglah ke Kalsel, di sana juga ada Indonesia yang indah! Datanglah dan lihatlah!”

    mungkin saja banyak yang berminat dengan promo seperti ini,
    namun sangat di sayangkan, ada kalimat yang masih melekat pada mereka bahwa orang kalimantan suka makan orang…hehehehehe..

    dan itu salah satunya

    Balas
  • 3. Anak Shaleh  |  12 April, 2011 pukul 11:59 pm

    padahal yang suka makan orang cuman satu orang saja ya om! hehhehehe

    Balas
  • 4. sandi firly  |  30 April, 2011 pukul 3:33 am

    –sesuatu Indonesia = afrizal malna

    Kalsel = pasar terapung, loksado, soto banjar, bekantan, … (antara lupa, dan tak ada yang bisa disebutkan lagi..)

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,195 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: