Menjadi Detektif di Pustarda Banjarbaru

13 Februari, 2011 at 12:18 pm 8 komentar


Menikmati Layanan Perpustakaan Banjarbaru

Sudah lama tidak berkunjung ke perpustakaan Banjarbaru. Adakah yang berubah atau sesuatu yang nantinya membuat saya akan lebih sering ke sana?

Kemarin (12/02/2011), Randu Alamsyah pengarang novel Jazirah Cinta sekaligus Redaktur Buku dan Sastra Radar Banjarmasin mengingatkan tentang janji sehari sebelumnya. Ya, ada janji kami akan berkunjung ke perpustakaan yang lengkapnya kini bernama Kantor Perpustakaan dan Arsip Daaerah (Pustarda) kota Banjarbaru.

Entah sejak kapan (tidak memperhatikan) kalau perpustakaan Banjarbaru itu kini telah menjadi bangunan yang sangat nyaman. Ukurannya lebih luas, tersedia lahan parkir yang cukup, dan juga tenaga pelayanan yang cukup banyak.

Bersama Randu kami menghadap kepala Pustarda, Dra. Hj. Nurliany Dardie, M.AP, yang akrab dengan panggilan ‘Bunda’. Saya pun akhirnya Cuma ikut-ikutan saja memanggil dengan ‘Bunda’ walau sesekali lidah saya sering terpeleset memanggilnya dengan ‘Ibu’.

Kenapa harus menemui kepala Pustarda? Bukankah ke perpustakaan itu umumnya untuk meminjam buku?

Kuncinya ada pada Randu Alamsyah. Saya sih hanya ingin masuk ke dalam sana. Jika dulu-dulu hanya berada di luar pagar Pustarda, melihatnya sekilas lalu melengos pergi, sekarang ingin menyaksikan Pustarda lebih dekat. Melewati pagar itu, memegang dinding beton yang kokok, mencium aroma buku, berdiri di depan rak-rak buku yang tak lagi sempit, memilih buku yang kini semakin banyak jumlah koleksinya, mengintip aktifitas pengunjung Pustarda Banjarbaru, lalu menyerahkan buku pilihan saya ke penjaga Pustarda untuk dicatat lalu pergi pulang untuk membacanya.

Sebagai redaktur yang mengulas dunia perbukuan, kewajiban Randu untuk berdekatan dengan hal-hal yang berbau buku. Contohnya adalah perpustakaan. Baginya, itu adalah pekerjaan. Bagi saya, itu adalah pengalaman. Paling tidak, akhirnya saya kenal dengan Bunda Nurliany, mengenal lebih jauh perkembangan Pustarda Banjarbaru saat ini. Betapa beruntungnya saya bisa mendapat semua informasi itu. Jejak rekam yang terjadi selama bertahun-tahun akhirnya bisa saya dapatkan hanya dalam waktu 1 jam. Ya, Pustarda Banjarbaru tampaknya sedang dikelola oleh seorang yang profesional. Bersungguh hati mengelolanya dengan baik demi nama Banjarbaru. Luar biasa, saya kagum dengan apa yang sudah dilakukan Pustarda Banjarbaru saat ini.

Jargon Banjarbaru Membaca bisa jadi hanya isapan jempol. Semua itu perlu proses dan tekad baja untuk mewujudkannya. Jangankan untuk Banjarbaru Membaca, meminta seseorang untuk rajin membaca saja repotnya bukan main. Ini kerja nyata, Bunda. Melelahkan sekali pastinya. Di hari sabtu yang harusnya para PNS menikmati hari libur, Bunda ada di ruanganya, mengatur rencana-rencana Mobil Pintar untuk Minggu Ceria di lapangan Murdjani. Sesekali waktu saya juga memperhatikan hilir mudik para bawahannya masuk ke ruangan Bunda Nurliany yang pintunya tak pernah tertutup itu. Ada yang membawa laporan, ada yang sekadar mengingatkan rencana-rencana pihak ketiga yang akan ikut meramaikan Minggu Ceria. Belum lagi urusan mencari sponsor agar banyak pihak ketiga yang terlibat, walau sekadar memberikan doorprize. Sibuk dan lelah saya jamin ada pada hari sabtu itu. Sebuah rasa lelah hasil akumulasi kerja di hari-hari sebelumnya. Sungguh melelahkan, dan itu bisa saya tangkap dari kantung mata ‘Bunda’ yang cembung.

Menjadi Detektif di Pustarda Banjarbaru

Setelah ngobrol, kami kembali menuruni anak-anak tangga menuju ruangan koleksi buku. Randu berusaha merekomendasikan buku yang menurutnya harus dibaca. Saat itu saya tidak merekomendasikan buku apa pun untuk Randu, kecuali merekomendasikan buku untuk diri saya sendiri. Tidak melulu harus sastra,bukan?

Proses mencari buku yang akan dipinjam dalam ruangan yang dipenuhi buku-buku ibarat pergi ke pasar. Jika mulai dari rumah tidak menentukan dan membawa catatan buku apa yang akan dibaca atau barang-barang yang akan dibeli hasilnya adalah kebingungan. Itu pun terkadang saat di pasar kita akan tergoda dengan barang-barang lain.

Tapi ini di ruangan yang semuanya hanya buku. Selama dalam fase kebingungan memilih judul buku yang akan dipinjam, kami hanya asyik mengambil buku milik teman-teman penulis di Kalsel. Setelah buku itu diambil, selanjutnya adalah membuka bagian sampul belakang. Di situ biasanya pihak perpustakaan memberi tanda tanggal waktu peminjaman buku. Dari situ juga kami bisa menemukan informasi berapa kali buku itu dipinjam. Kami terdiam, sepertinya ada impuls-impuls dalam syaraf kami yang berusaha menyimpulkan sesuatu.

Buku ini hanya dipinjam 1 kali sejak 2005, yang ini 2 kali pada tahun 2007, dan yang ini tidak pernah sama sekali. Randu diam, dan saya masih sibuk membuka halaman sampul belakang. Tanpa direncakanan, akhirnya kami sibuk membuat riset kecil-kecilan. Sebuah riset tentang pengunjung Pustarda Banjarbaru terhadap minat buku penulis lokal. Tak ada hasil yang harus disampaikan dalam tulisan ini, karena apa yang telah kami lakukan pun, bisa anda lakukan sendiri di setiap perpustakaan daerah kalian.

Apa yang sedang diminati pembaca? Kenapa pembaca lebih menyukai buku yang itu ketimbang yang ini? Sungguh proses menjadi detektif semacam ini memberikan kesenangan tersendiri.

Entry filed under: Esai. Tags: , , , .

Pemenang Lomba Aruh Sastra 2010 Sesuatu Indonesia

8 Komentar Add your own

  • 1. warm  |  13 Februari, 2011 pukul 6:46 pm

    itu artinya, indikasi bahwa kualitas penulis lokal harus ditingkatkan lg, biar nyaman dibaca, mungkin demikian hehe

    Balas
  • 2. hariesaja  |  13 Februari, 2011 pukul 7:52 pm

    @Warm: Begitu nampaknya…namun entahlah…:)

    Balas
  • 3. nia  |  14 Februari, 2011 pukul 8:18 am

    Atau mungkin penulis lokal kurang gencar promosi?

    Balas
  • 4. TerGapteK.coM  |  19 Februari, 2011 pukul 11:37 am

    Banjarbaru memang mantap banaaaar.

    o eeh,,

    mas.. lam kenal lah..

    lun newbie Blogger Banjarmasin Jua nah🙂

    Balas
  • 5. Anak Shaleh  |  10 Maret, 2011 pukul 9:47 am

    semoga bisa cepat menjadi penulis kaya pian jua om ai. lagi sibuk banar ulun heee

    Balas
  • 6. Amiie Amoy  |  11 Agustus, 2011 pukul 1:20 am

    salam kenal ..
    berhubung saya penulis baru,tidak tau apa-apa ,miskin pengalaman, jadi saya iseng-iseng menulis cerpen atau apa lah jenisnya, jadi saya ingin minta tolong , mengoreksi tulisan saya di amistruelife.blogspot.com , saya juga blogger baru, jadi klo berkunjung ke blog saya tidak ada tulisan apapun.kecuali sedikit dan kebanyakan belum selesai. saya msih ragu-ragu untuk menulis .

    Balas
  • 7. yuni  |  13 Juli, 2012 pukul 11:11 pm

    perpustakaan ini tempatnya dimana ya? saya orang baru di banjarbaru, pengen ke perpustakaan tapi ga tau tempat pastinya dimana…. thanks

    Balas
    • 8. Anonim  |  16 Juli, 2012 pukul 8:34 am

      alamat pustarda jln wijaya kusuma no.7. Kalau tak tahu, cari Polresta Banjarbaru,- silakan menyeberang – lurus saja, samping kiri nanti ada Pustarda Banjarbaru

      Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: