Mengeluhkan Layanan Bandara Syamsudin Noor?

8 Oktober, 2010 at 8:22 am 10 komentar


Bersama tiga orang anak yang masih kecil, lelaki berusia antara 40 tahun itu menyeka keringat. Sebut saja namanya Bahrun. Setelah melewati ruang pemeriksaan, seharusnya Bahrun bersama istri dan tiga orang anaknya bisa bernapas lega menghirup udara AC.  Tapi baru beberapa langkah menuju ruang check in, dua orang lelaki sedang memperhatikan kedatangan Bahrun yang tampaknya kerepotan membawa barang bawaan. Segera saja dua orang tadi menawarkan jasa untuk mengikatkan tali pada barang-barang yang dibawa oleh Bahrun.

Bahrun awalnya bingung, baru pertama kali ini ia berkesempatan untuk berangkat ke Jawa menaiki pesawat. Tapi rasa bingung itu hanya bertahan sebentar, apalagi dua orang tadi mengatakan barang bawaan Bahrun bisa diikat menjadi satu, selain lebih praktis juga menenteng barang bawaan pun menjadi enak. Bahrun sumringah,  ia serahkan semua barang bawaan kepada dua orang lelaki tadi, kecuali tas gendong yang tetap ia biarkan bergelayut di pundaknya.

“Enam puluh ribu, Pak!” kata dua orang tadi usai mengikat kuat barang bawaan Bahrun. Sedikitpun tak terlintas kalau semua jasa itu diakhiri dengan pembayaran. Bahrun pikir itu sebentuk layanan dari pihak bandara. Dengan terpaksa Bahrun mengeluarkan dompet berwarna hitam nan lusuh. Ia serahkan sejumlah uang seperti yang diminta. Segera Bahrun mengambil kembali semua barang miliknya dan menuju loket check in.

Setelah menunggu beberapa saat, Bahrun setuju semua barang bawaan untuk diletakkan ke dalam bagasi. Saat itu juga Bahrun sempat berpikir, kalau ia bisa membawa dengan baik semua barang bawaannya ke bandara, lantas untuk apa menggunakan jasa pengikatan tali, toh pada akhirnya akan masuk bagasi juga. Sedikit ada penyesalan dalam hati atas semua yang terjadi, seandainya Bahrun tahu, tentu sejak awal ia akan menolak jasa pengikatan tali tadi. Karena urusan tiket belum selesai, Bahrun segera melangkah menuju loket pajak. Di loket ini Bahrun harus mengeluarkan selembar uang ratusan ribu untuk lima tiket pesawat.

Beres di loket pertama, beberapa langkah kemudian Bahrun menoleh kepada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan bapak. Ternyata seorang wanita muda yang berada di loket kedua. Loket itu adalah loket jasa asuransi perjalanan.  Bahrun segera mendekat dan tak lama kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan dua puluh ribuan. Bahrun bersama keluarganya kemudian bergegas, tapi sayang langkahnya tertahan oleh petugas dari pemerintahan yang menyuruhnya mendatangi loket ketiga. Wajah Bahrun tampak pucat. Ia mengerti apa yang akan terjadi jika mendatangi loket tersebut. Ada dua orang wanita muda berseragam menunggu di sana. Bahrun juga sempat membaca tulisan yang tertera di atas loket tersebut. Perda no.10 tahun 2004 tentang  penggunaan fasilitas bandara. Apa boleh buat, meski hatinya menolak  Bahrun tetap diminta untuk mendatangi loket tersebut.

Seperti menyimpan rasa kesal yang bertubi-tubi. Sampai di depan loket, Bahrun langsung meluapkan rasa kesalnya tadi. “Di sana bayar, di sini juga bayar,” ucap Bahrun. Dua orang wanita di hadapannya pun terkejut lalu berusaha menjelaskan. “Kalau di sini sudah menjadi peraturan yang diatur dalam Perda no 10,” kata salah seorang wanita yang mengenakan jilbab.

Kekesalan Bahrun bukan tanpa alasan. Ia keluarkan dompetnya untuk kesekian kali dan menunjukkan kepada dua wanita itu. “Lihat, Mbak. Cuma tersisa empat puluh ribu. Belum sampai tujuan saja uang saya sudah habis di dalam ruangan ini,” kata Bahrun. Obrolan, omelan, rasa kesal si Bahrun  membuat penumpang lainnya harus antri menunggu giliran. Menyadari itu, Bahrun akhirnya membayar Rp.15.000,- untuk lima orang (per tiket dikenai pajak Rp.3000). Bahrun langsung melengos dengan masih menyisakan omelan-omelan. Tak selang beberapa lama kemudian, nada yang sama juga diucapkan pria lain yang ternyata mengalami nasib yang sama. “Bandara kok seperti ini. Bayar ini, bayar itu, sementara di daerah lain saja tidak seperti ini,” kata pria itu berusaha menolak untuk membayar. “Bukan kami yang membuat aturan, Pak. Tapi  pemerintah daerahnya,” ucap pelaksana tugas Perda no.10 tahun 2004.

“Peraturan kok menyusahkan para penumpang. Seharusnya hal-hal yang tidak perlu mulai depan pintu sana hingga di loket ini sudah ditertibkan. Pasang tulisan ‘dianjurkan atau tidak wajib sekaligus nominal yang jelas’ untuk jasa ikat tali, pajak dan lain-lain,” ujar pria itu meledak-ledak. “Bagi penumpang yang tidak tahu, mereka berpikir jasa ikat tali itu gratis, dan mereka pikir semua loket-loket di sini memang dari pihak bandara dan harus dipatuhi. Padahal mereka cuma dari pihak ketiga yang tidak diwajibkan bagi setiap penumpang untuk membayar asuransi,” kata pria itu meluapkan emosinya dan segera mengeluarkan uang Rp.3000.

Bahrun mendengarkan semua ucapan pria tadi. Ia seperti mendapat jawaban yang seharusnya justru dijelaskan oleh pihak Bandara kepada para pengguna jasa bandara Syamsudin Noor. Andai sejak awal Bahrun mengetahui hal tersebut, tentu saja uang untuk biaya perjalanan selanjutnya tidak tersisa Rp.25.000,- dan uang sejumlah itu cukup memusingkan kepala Bahrun . Bagaimana jika ketiga anaknya nanti perlu makan di perjalanan dan belum lagi urusan jasa transportasi darat. Cukupkah?

“Sudah, Pak. Jalan terus, jangan digubris lagi. Mereka cuma jasa asuransi yang tidak harus anda bayar. Dulu cuma ada satu jasa layanan asuransi, sekarang ada dua. Besok ada tiga, empat dan banyak lagi lainnya yang akan membuat bapak kehabisan uang,” ucap pria tadi kepada Bahrun ketika ada seorang wanita lagi di loket yang lain sedang memanggil-manggil.

Iklan

Entry filed under: Ulasan.

Saatnya Penulis Muslim Menggebrak, Sebuah Catatan Pemenang Lomba Aruh Sastra 2010

10 Komentar Add your own

  • 1. nia  |  8 Oktober, 2010 pukul 1:35 pm

    soal asuransi itu .. sama seperti pengalaman ulun, sekalinya banyak org yang cuek saja ketika petugas2 asuransi itu memanggil. Seandainya ada penjelasan sebelumnya, mungkin mereka yang baru pertama kalinya ke bandara dan belum tau ini dan itu ga akan merasa kesal.

    Balas
  • 2. hariesaja  |  8 Oktober, 2010 pukul 2:40 pm

    @Nia: Betul mbak, Nia. Dulu yg ikat tali itu ada informasi tarifnya, tapi sekarang tidak ada lagi. Meskipun dipasangi, konsumen tidak tahu tarif itu untuk 1 kardus, 2 kardus atau berapa.

    Balas
  • 3. Zian X-Fly  |  9 Oktober, 2010 pukul 11:45 am

    Kasiannya pang mun kaitu… (maklum, belum pernah merasai naik pesawat, jadi kada tahu 🙂

    Balas
  • 4. Arief Rachman Heriansyah  |  10 Oktober, 2010 pukul 7:45 pm

    Aneh,saya juga sering mas menemui tulisan di koran bahwa banyak keluhan orang2 tentang bandara kita ini…Saya jadi tambah bingung,walaupun saya jarang naik pesawat,hehe…

    Balas
  • 5. intan  |  13 Oktober, 2010 pukul 10:44 pm

    saya kurang faham, tp bandara disini oke-oke aja.
    salam kenal mas haris . 🙂

    Balas
  • 6. baburinix1  |  15 Oktober, 2010 pukul 9:28 pm

    wah…payah juga tuh….mestinya ada tindakan…dong agar penumpang tidak seperti pak Bahrun atau yang lainnya.

    semoga ini menjadi pelajaran bagi yang belum pernah ke bandara ini…?

    Balas
  • 7. hajriansyah  |  12 November, 2010 pukul 8:14 am

    bahrun tu entekah, wal?

    Balas
  • 8. Said  |  30 November, 2010 pukul 2:00 am

    Lebih parah lagi sistem transportasi darat penjemput seolah dimonopoli KOJATAS, sehingga tak ada satupun transportasi lain yang ada didalam selain kojatas, hendaknya lain waktu bisa ditambah DAMRI biar memudahkan.

    Balas
  • 9. Said  |  30 November, 2010 pukul 2:02 am

    masih mending airportax cuman 20rb sekarang, coba kalau 40rb kayak didaerah lain, tambah rugi om bahrun. hahaha

    Balas
  • 10. Anak Shaleh  |  7 April, 2011 pukul 6:44 pm

    apa kabar bang! lama gak jumpo!!!

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Statistik:

  • 288,888 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: