Banjarbaru Itu Tidak Sekadar Cantik…

21 Maret, 2010 at 12:41 pm 3 komentar


Saya bingung memilih kata untuk mengibaratkan kota tempat tinggal saya sekarang. Terkadang saya menyebut Banjarbaru itu seksi. Kadang-kadang saya cukup mengatakan Banjarbaru itu cantik. Sekarang, tiba-tiba saja melintas dalam benak ingin menyebut Banjarbaru itu maskulin. Besok, jangan-jangan saya punya sebutan lain dari yang sekarang. Sungguh, ini pun membingungkan.

Ataukah ini hanya rasa bangga yang berlebih  terhadap kota Banjarbaru – kota tempat saya menghabiskan banyak waktu mulai kecil hingga sekarang ini masih ‘kecil’. Entahlah. Tapi mari kita dekati dengan jujur. Caranya sederhana, lihat – dekati – dan rasakan.  

Kota di Dalam Taman

Istilah ini bukan kepunyaan saya. Tapi istilah itu pernah saya dengar ketika asyik bercengkerama dengan para penyair Banjarbaru. Kalau tak salah, itu justru menjadi judul salah satu puisi. Karena rasa malas yang berlebih, maafkan jika saya malas mencari referensi buku kumpulan puisi tersebut.

Kalau dilihat, proyek membangun taman memang gencar dilakukan di kota Banjarbaru. Di sini ada taman, di situ ada taman…pun di sana juga ada taman. Soal taman-taman ini, pernah ada beberapa orang yang sinis. Di sini saya bersikap pasif – tidak membenarkan, juga tidak menyalahkan.Bukankah semua orang berhak mengutarakan pendapatnya? Seperti apa yang saya lakukan sekarang, sedang menuliskan pendapat. Bedanya cuma satu. Pendapat diutarakan dalam bentuk tulisan, sementara beberapa orang tadi dilisankan.

Rasa sinis dengan pembangunan proyek taman di Banjarbaru, tak perlu dianggap negatif. Pada dasarnya setiap orang pastilah menyukai keindahan. Taman itu sendiri pun telah mewakili salah satu keindahan kota Banjarbaru. Kalau tidak percaya, jawabannya cukup perhatikan halaman rumah Anda sendiri. Untuk apa di situ tertanam pohon dan bersusun pot-pot yang di dalamnya mungkin ada pohon bunga mawar, kaktus dan sebagainya?

Kalau saya cerna, rasa sinis timbul dari persoalan kapan dan mana yang harus lebih didahulukan saja. Kalau didengarkan sampai tuntas, pendapat-pendapat tadi juga tak kalah bagus dengan ide membangun taman. Pada akhirnya pun, intinya sama-sama bertujuan baik; ingin membangun kota Banjarbaru. Hanya saja prioritasnya berbeda. Contoh, dalam hal kemajuan dibidang pendidikan, wisata lokal, dan ekonomi kemasyarakatan. Ya, saya akui itu sangat penting. Bahkan, tidak hanya tiga hal tersebut saja, masih banyak bidang lain yang patut diperjuangkan. Di sini saya punya pendapat pribadi. Bukankah sudah ada kantor dinas dengan pembagian tugasnya masing-masing? Soal taman, itu bagian dari kinerja dinas pertamanan. Soal pendidikan, wisata lokal, ekonomi kemasyarakatan dan lain sebagainya, pertanyakan saja kepada mereka. Ibarat hotel, di situ sudah banyak tersedia pintunya. Hanya tinggal terbuka atau tidak? Penghuninya ada di dalam tidak? Penghuninya mau keluar atau tidak?

Kota di dalam taman itu kini bukan lagi imajinasi. Tapi terwujud. Bahkan taman-taman itu pun kini tidak hanya terpusat di wilayah Banjarbaru kota, tapi juga sudah ke wilayah Banjarbaru lainnya. Romantis banget. Dengan adanya taman tersebut, Banjarbaru memang tampak indah dan seksi. Untuk mewakili kata maskulin, lihat saja beton yang melapisi tiang-tiang lampu di sepanjang jalan. Sesuatu yang indah itu dipoles dengan maskulinitas. Bagi saya itu luar biasa. Kalau dulu cuma cantik, sekarang juga ganteng.

Sumber Daya Manusianya

Jujur, saya bukan siapa-siapa bahkan kemampuan berpikir pun jauh di bawah rata-rata. Saya hanya senang mendengarkan cerita tiap kali berjumpa dengan orang-orang hebat di Banjarbaru. Standar orang hebat bagi saya pun sederhana. Mau meluangkan waktu berpikir sejenak untuk kemajuan kota Banjarbaru itu sudah termasuk orang hebat. Jarang ada yang seperti itu. Tapi di Banjarbaru, banyak sekali. Menjadi pendengar saja pun sudah senang. Bukankah memang seperti itu, jika ada si pencerita maka harus ada pula si pendengar. Jadinya normal. Untungnya, orang-orang yang bercerita kepada saya tidak pernah bosan. Idenya macam-macam. Meski mereka tahu saya bukan siapa-siapa, menyampaikan ide mereka saja tidak mampu, tetap saja saya dihujani dengan ide-ide brilian. Sungguh, inilah sumber daya manusia. Di Banjarbaru banyak yang seperti ini. Mereka butuh ‘telinga’. Jika cerita sudah selesai, kadangkala bersambung, dalam perjalananan pulang ke rumah saya menerawang gumpalan awan di atas sana. Andai bisa, ingin sekali saya pinjamkan telinga ini kepada Anda tuan.

Ada Banyak Calon Walikota Banjarbaru

Sebentar lagi pilkada Banjarbaru. Artinya, akan ada walikota banjarbaru yang baru. Calonnya cukup banyak. Kebetulan, akhir-akhir ini saya sering bepergian. Seruan yang kerap disampaikan adalah, “Banyak banarlah calon walikota Banjarbaru!” ujar mereka. Saya jawab ho oh. Nyatanya memang begitu. Kalau tidak salah ada tujuh calon yang terdaftar di KPU Banjarbaru. Kantornya dekat rumah, tapi saya tidak pernah singgah. Bingung, belum punya alasan bersinggah.

Dibandingkan daerah lain di Kalsel, hanya kota Banjarbaru yang banyak memiliki calon walikota. Jelaslah. Di Kalsel kan cuma ada dua yang memiliki status kota; Banjarbaru dan Banjarmasin. Sisanya Kabupaten. Hehehe…jadinya calon bupati dong. Ini serius. (Duh, saya males banget membuat daftar list calon bupati, calon gubernur dan calon walikota di Kalsel ini. Lagi males!)

Banyaknya calon walikota di Banjarbaru itu sebuah fenomena. Seperti yang tadi saya singgung, Sumber Daya Manusianya hebat. Spirit untuk membangun kota Banjarbaru itu tinggi. Betul sih kalau ada yang mengatakan, “Kalau ingin membangun itu kan tidak harus menjadi Walikota?” Anda betul sekali! Jawaban saya begini, setiap orang memiliki peran masing-masing. Ada yang ingin membangun Banjarbaru dengan membuka usaha dan taat membayar pajak. Ada juga dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Ada juga dengan cara tidak merusak fasilitas umum. Ada juga yang ingin menjadi PNS dan bekerja dengan disipilin tinggi. Banyak sekali. Nah, bagi orang-orang tertentu, ada yang ingin jadi walikota atau wakil Walikota Banjarbaru. Sah-sah saja kok. Selama mereka mau dan mampu. Teringatlah saya tentang sejarah islam. Ketika Umar bin Khatab terpilih menjadi seorang khalifah. Saat itu beliau menitikkan air mata sambil berdoa, “ya Allah mudah-mudahan saya kuat menanggung musibah ini…”. Menjadi khalifah bagi Umar bin Khatab adalah musibah. Disitu ada tanggung jawab besar yang harus diemban. Caci maki, hinaan, hujatan, bisa datang kapan saja apabila tanggung jawab tidak dijalankan dengan baik. Karena menjadi khalifah (pemimpin) seperti yng disabdakan nabi, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhori) Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Apabila amanah disia-siakan maka tunggulah saat kehancuran. Waktu itu ada seorang shahabat bertanya: apa indikasi menyia-nyiakan amanah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhori).

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , , .

Obama Batal Datang ke Indonesia Membuat Spoiler di WordPress

3 Komentar Add your own

  • 1. Zian X-Fly  |  21 Maret, 2010 pukul 3:30 pm

    Sudah bulik ka Banjarbaru kah om?

    Balas
    • 2. hariesaja  |  21 Maret, 2010 pukul 5:59 pm

      sudah, Zian…

      Balas
  • 3. soulharmony  |  23 Maret, 2010 pukul 12:32 pm

    kapan ada cawali dan cawawali dari Blogger ya ???

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 288,134 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: