Menerbitkan Buku Sendiri

1 Maret, 2010 at 11:00 am 9 komentar


Melanjutkan tulisan Mantra: Publish or Perish. Jika belum membacanya, silakan baca dulu. Tulisan ini cenderung mengupas hal-hal teknis atau proses menerbitkan buku berdasarkan pengalaman pribadi saya.

Sebuah Proses. Dalam menerbitkan buku, pada dasarnya sangatlah cerewet. Tapi bagi mereka yang sudah menjalaninya, tetap saja cerewet tapi itu hampir tidak dirasakan lagi. Berbeda bagi mereka yang baru ingin memulainya. Tentu cerewet sekali. Kalau Anda terbiasa hidup dengan hal-hal praktis, instan, siap saji, maka cenderung memutuskan untuk berhenti belajar. Al hasil, ya gitu deh, lelah tanpa hasil. Nah, agar tidak timbul kesan cerewet, akan saya bahas dengan cara paling sederhana. Menerbitkan buku sendiri, yuk!

Pertama peranan penerbit. Kedua adalah percetakan. Penerbit dan percetakan ibarat dua sisi mata uang namun berbeda fungsinya. Jadi kalau Anda ingin menerbitkan buku sendiri maka siapkan dulu nama penerbitnya. Kalau mau disederhanakan lagi, ini ibarat anda mau membuka toko jualan. Sebelum dibuka, Anda tentu memikirkan lebih dulu nama untuk toko Anda. Soal apa yang akan dijual, itu masalah teknis. Bisa beli ke pasar atau membuatnya sendiri. Dalam proses penerbitan buku, tugas ini dilaksanakan oleh pihak percetakan.

Secara teknis, penerbit juga memiliki tugas sebelum buku dicetak. Tugasnya adalah Membuat kaver buku, editing, lay out, dan membuat dummy. Setelah semuanya selesai baru diserahkan kepada pihak percetakan. Sampai dipercetakan, di situ ada proses cetak, melipat dan memotong kertas kemudian penjilidan. Setelah selesai, buku yang sudah jadi akan diserahkan kembali kepada penerbit untuk dipasarkan. Penerbit bisa memasarkannya sendiri atau melalui pihak ketiga yang disebut distributor. Pihak distributor buku ini masih harus menyalurkan buku tadi ke seluruh toko-toko buku.

Sampai di sini tampaknya sudah selesai. Tapi masih ada satu lagi peran penerbit dan penulis yang umumnya dilakukan. Yakni, berpromosi. Banyak cara untuk mempromosikan buku. Biasanya penerbit dan penulis bekerjasama dalam acara launching atau bedah buku. Di samping itu bisa juga memasang iklan diberbagai media untuk memberitahukan bahwa buku yang berjudul bla…bla…bla sudah terbit. Kalau penerbitnya cukup bonafit, promosi bisa dilakukan melalui papan reklame atau membuat poster dan meletakkannya di tempat-tempat strategis. Intinya, promosi berbanding lurus dengan kondisi dana.

Sedikit uraian di atas bisa menjelaskan banyak hal. Intinya semua tetek bengek di atas membutuhkan modal yang besar. Tak heran jika penerbit sangat selektif saat memilih naskah yang akan mereka terbitkan. Pertimbangan memilih naskah umumnya menggunakan parameter selera pasar. Sesuai selera pasar artinya keuntungan. Kalau tidak untung bagaimana akan menerbitkan naskah yang lain, bagaimana membayar royalti penulis, bagaimana membayar percetakan,dan bagaimana membayar karyawan yang sudah membuat kaver, layout dan para editor. Untung itu wajib maka wajib pula menseleksi naskah sebelum diterbitkan. Daripada rugi!

Menerbitkan Buku Sendiri

Banyak orang menempuh jalan ini. Cara menempuhnya pun bermacam-macam. Tapi yang sering terjadi ada dua hal. Pertama, penulis membayar penerbit sekaligus percetakan agar naskahnya diterbitkan. Membayar di sini maksudnya penulis menyerahkan sejumlah uang yang telah disepakati sebagai ganti biaya penerbitan buku. Dengan kata lain, si penulis menyewa jasa penerbit. Cara kedua adalah, murni menerbitkan buku sendiri. Semua pekerjaan penerbit dan percetakan dikerjakan sendiri. Intinya, cara pertama atau kedua sama-sama membutuhkan biaya operasional dan sama-sama memiliki untung dan ruginya masing-masing.

Tulisan ini akan membahas tentang murni menerbitkan buku sendiri. Kepentingannya adalah agar Anda memperoleh pengalaman lebih jauh tentang seluk-beluk menerbitkan buku.

Jadikan diri Anda seorang penerbit sekaligus pihak percetakan. Sebagai penerbit, minimal Anda paham betul apa itu EYD. Syukur jika Anda juga seorang penulis dan suka membaca buku. Ini sangat penting kaitannya dalam proses editing. Menyeleksi naskah sendiri memang susah. Pada umumnya, seorang penulis selalu menganggap tulisannya selalu baik. Tapi karena Anda ingin murni menerbitkan buku sendiri, Anda bukan saja seorang penulis tapi juga editor. Anda harus ‘melototi’ tiap-tiap kata, kalimat, anak kalimat dan seterusnya. Itu dilakukan agar nantinya tidak banyak ‘cacat’ ketika buku telah diterbitkan. Kasihan pembaca jika banyak kesalahan ketik atau kalimat-kalimat ‘yang melelahkan’.

Jadikan diri Anda seorang pembuat kaver dan tenaga layout. Pelajari tiga software aplikasi Corel Draw, Adobe Photoshop dan adobe Page Maker. Dengan modal tiga aplikasi tersebut, minimal Anda sudah bisa membuat kaver dan dummy (master).

Jadikan diri Anda sebagai tenaga kerja percetakan. Pada bagian ini Anda bisa belajar melalui orang-orang yang kerja di percetakan. Tanyakan kepada mereka bagaimana proses menjilid buku. Di situ Anda akan tahu prosesnya, mulai dari pengepresan hingga lem yang digunakan. Di sini Anda juga harus kreatif untuk menemukan teknik sendiri agar lembaran kertas dan sampul saling merekat kuat, tidak mudah lepas. Jangan pula pula mencari tahu teknik pembuatan sampul buku. Bagaimana agar sampul tidak luntur dan jenis kertas yang digunakan. Nah, untuk memperbanyak naskah, ada dua pilihan. Serahkan kepada pihak percetakan atau cetak sendiri. Kalau ingin dicetak sendiri, gunakan saja printer laser. Dengan printer ini buku Anda dijamin tintanya tidak luntur.  

Baiklah. Sampai di sini dulu. Lain waktu akan saya ceritakan hal-hal lain yang dibutuhkan sebelum dan sesudah buku diterbitkan sendiri.

Banjarbaru, 28 Februari 2010.

Iklan

Entry filed under: Esai, Ulasan. Tags: , , .

Mantra: Publish or Perish Mencari Calon Pemimpin Daerah Kalsel yang Peduli Seni dan Budaya

9 Komentar Add your own

  • 1. nia  |  1 Maret, 2010 pukul 7:29 pm

    mau dong .. kapan???????

    Balas
  • 2. streez-id  |  3 Maret, 2010 pukul 9:25 am

    makasih infonya..
    lagi cari2 artikel neh tentang proses penerbitan buku…

    Balas
  • 3. baburinix!  |  3 Maret, 2010 pukul 3:04 pm

    wah…asik jua tuh ngungkapin pengalaman pribadi bikin buku,, thanks infonya..sob

    Balas
  • 4. iezul  |  4 Maret, 2010 pukul 4:33 am

    Wah mantap2 infox. . .Thnks btimbay,sambuut. . .

    Balas
  • 5. Jauh  |  17 Maret, 2010 pukul 10:17 pm

    saya dapat ilmu nih, hehehehe

    Balas
  • 6. dani  |  29 Oktober, 2010 pukul 7:56 pm

    Thamk’s infonya gan, bagus sekali. kebetulan nih mau nerbitkan buku sendiri

    Balas
  • 7. Afrianti Takaful  |  19 November, 2010 pukul 2:26 pm

    Nice Info… Trims

    Balas
  • 8. Muhsyanur Syahrir  |  21 Februari, 2011 pukul 10:07 am

    Terima kasih friend atas infonya…!!!

    Balas
  • 9. Guru Sejahtera  |  9 Februari, 2012 pukul 2:31 pm

    jadi tambah terinspirasi untuk menerbitkan buku. thanks!

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,784 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: