Mencari Calon Pemimpin Daerah Kalsel yang Peduli Seni dan Budaya

1 Maret, 2010 at 11:06 am 3 komentar


Di atas rak buku saya ada surat undangan yang sudah basi. Di dalam undangan itu berisi jadwal kegiatan Festival Sastra Kalimantan Selatan yang dilaksanakan 19 Desember 2009 di Taman Budaya Kalsel. Meski sudah lewat (basi), undangan tersebut masih baru bagi saya. Maklum, Empat bulan terakhir ini saya tidak berada di Banjarbaru karena sedang menikmati udara dingin di bawah gunung Merbabu, tepatnya di kota Salatiga. Dengan kata lain, saya tidak bisa menghadiri kegiatan Festival Sastra Kalimantan Selatan  (FSKS) tersebut.

Untuk mengobati rasa kecewa saya, dibuatlah tulisan ini. Judulnya pun mengambil salah satu  acara di dalam FSKS. Yakni “Mencari Calon Pemimpin Daerah yang Peduli Seni dan Budaya”, sebagai narasumber adalah Noorhalis Majid. Bedanya, dalam tulisan ini sengaja saya pertegas dengan “Pemimpin Daerah Kalsel”.

Acara ini pastilah hebat. Apalagi dilaksanakan dalam 2 hari (19-20 Desember 2009). Melihat jadwal acaranya pun juga berbobot, apalagi menghadirkan DR. Farukh seorang Kritikus Sastra UGM Yogyakarta. Belum lagi sederet narasumber lain yang selama ini tidak diragukan lagi kualitasnya. Yakni; Taufik Arbain M.Si (budayawan dan pengamat politik Universitas Lambung Mangkurat), Radius Ardanias Hadariah, MPA dan Drs. Zulfaisal Putra.

Untuk Apa dan Siapa Festival Sastra Kalimantan Selatan?

Sudah jelas acara ini untuk masyarakat Kalsel secara umum khususnya para penggiat seni dan sastra yang ada di Kalimantan Selatan. Siapa lagi coba? Lantas untuk apa? Mencari jawaban ‘untuk apa’ memang ambigu. Namun setidaknya acara tersebut adalah wujud eksistensi dalam berkesusastraan di Kalsel. Bahwa puisi, cerpen, novel dan esai budaya masih ditulis dan itu semua bukan dalam rentang waktu yang pendek. Yang jelas, jauh sebelum saya lahir- sastra sudah berkembang di Kalsel.

Sambil membolak-balik kertas undangan sebanyak dua halaman tersebut, saya ragu dan menaruh perhatian pada acara “Penyampaian Visi, Misi dan Komitmen terhadap Seni(man) dan Budaya(wan). Dalam undangan tercantum nama-nama calon gubernur Kalsel 2010-2015. Seperti; Drs. H. Rudi Ariffin. Dr. H. Zairullah Azhar  dan H. Sjachrani Mataja. Sementara H.M. Rosehan NB, SH didaulat atas nama Ketua Dewan Kesenian Kalsel.

Sambil meraba-raba maksudnya, saya memanggil semua ingatan tentang sejarah, perkembangan, apa yang sudah dan belum dicapai sastra dan budaya di Kalimantan Selatan ini. Jika saya katakan bahwa yang ‘belum tercapai’ adalah mendapat dukungan dari Pemimpin Daerah melalui pemerintahan daerahnya, tentu pemimpin daerah Kalsel akan berang. Karena kenyataannya pemerintah daerah Kalsel selama ini juga telah berperan dalam memajukan Seni, Sastra dan Budaya Kalsel. Walau sedikit. Tapi sementara ini bisa dimaklumi karena masalah Kalsel tidak saja urusan Seni dan Budaya. Masih ada soal kesejahteraan masyarakat, tambang, jalan-jalan yang berlubang, bangunan-bangunan yang kumuh, pendidikan dan lain sebagainya. Nah, sebaliknya jika saya katakan lambat atau mundurnya seni, sastra dan budaya Kalsel akibat pelaku seni, sastra dan budaya itu sendiri, mereka pasti juga tidak setuju. Nyatanya, hingga sekarang ini proses berkesenian dan berkesusastraan itu tetap berlangsung.

Lantas apa pentingnya para calon Gubernur Kalsel 2010-2015 diminta untuk menyampaikan komitmennya?

Tidak ada satu pun di Kalsel bahkan di dunia ini yang tidak menginginkan aktifitasnya didukung oleh pemimpin daerahnya. Itu sudah pasti. Dengan adanya dukungan diharapkan aktifitas tersebut tidak hanya berjalan lancar, tapi juga bertambah maju. Apalagi ujung-ujungnya mengharumkan nama daerah; Kalsel. Dukungan yang dimaksud tidak saja soal dana, tapi juga masalah kebijakan demi kebijakan. Dengan kata lain, jika salah satu calon gubernur sudah menjadi Gubernur Kalsel periode 2010-2015- diharapkan kebijakan yang akan dikeluarkan juga memperhatikan aspek Seni dan Budaya di Kalimantan Selatan. Itu salah satunya. Dalam hal pendanaan, program-program Kesenian dan Kebudayaan memiliki anggaran (ter)sendiri dan benar-benar (ter)salurkan kepada yang berhak. Jadi tidak harus menunggu ‘sunat sana-sunat sini’ dengan seadanya dana ‘sunatan’ tadi. Barangkali ini yang dimaksud kenapa komitmen para calon Gubernur sangat dibutuhkan. Itu juga kenapa dibutuhkan sekali seorang pemimpin daerah yang peduli Seni dan Budaya.

Tidak Ada Demokrasi Visi, Misi dan Komitmen

Dalam kertas undangan memang tercantum keterangan bahwa acara penyampaian visi, misi dan komitmen masih dalam tahap konfirmasi. Entah apakah panitia tidak berhasil menghubungi para calon Gubernur Kalsel tadi atau ada masalah lain. Yang jelas, cuma Drs. H. Zairullah Azhar saja yang hadir. Itulah kenapa saya tulis tidak ada demokrasi visi, misi dan komitmen. Karena yang hadir cuma satu calon. Setelah saya konfirmasi Hajriansyah, ketua Pelaksana Festival Sastra Kalsel menyebutkan bahwa bertepatan pada hari pelaksanaan, para calon gubernur lain juga sedang ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.

Sebagai tindak lanjut misi, visi dan komitmen yang telah disampaikan Zairullah Azhar, pihak panitia menyerahkan visi, misi dan komitmen tersebut ke Komisi Pemilihan Umum Daerah Kalsel.

Terakhir, sesuai yang ditulis Ignas Kleden dalam bukunya Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, saya berharap agar tahun-tahun mendatang kita tidak lagi cenderung mengulang persoalan lama dan barangkali mengulang jawaban yang sama pula. Bukan kadar baru atau lamanya, melainkan apakah persoalan tersebut diberi relevansi yang sesuai dengan perkembangan keadaan. Yang diperlukan adalah memberikan relevansi baru terhadap persoalan lama. Kaitannya dalam hal ini adalah masalah seni, sastra dan budaya Kalsel. Khususnya, antara pelaku seni, sastra dan budaya dengan Pemerintah Daerah dan pula antar sesama pelaku seni, sastra dan budaya itu sendiri. Hiduplah, Kalsel!

Banjarbaru, 1 Maret 2010

Entry filed under: Esai, Ulasan. Tags: , , , , .

Menerbitkan Buku Sendiri Diskusi Paranormal : Duit, Dukungan dan Dukun

3 Komentar Add your own

  • 1. Qori  |  2 Maret, 2010 pukul 10:27 am

    Pas handak mancari suara, hanyar buhan sidin peduli, mang lah?

    Balas
  • 2. Jauh  |  17 Maret, 2010 pukul 10:13 pm

    tulisannya mantap banar ….

    Balas
  • […] daerah lain di Kalsel, hanya kota Banjarbaru yang banyak memiliki calon walikota. Jelaslah. Di Kalsel kan cuma ada dua yang memiliki status kota; Banjarbaru dan Banjarmasin. Sisanya Kabupaten. […]

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: