Poster, Ruang Publik dan Budaya

25 Februari, 2010 at 9:36 am 3 komentar


Tiap kali ada pemilihan pemimpin; baik calon presiden, calon gubernur, calon bupati dan calon walikota maka di ruang-ruang publik akan hadir papan reklame yang membawa pesan resmi untuk masyarakat.

Saat ini tampaknya mata kita memang dikondisikan untuk memandang ke papan reklame. Awalnya memang bukan mata kita yang menginginkan, tapi lambat laun mata kita terbiasa dan akhirnya timbul rasa ingin tahu, Ada apa sih di papan reklame itu?” Dari pemikiran sederhana ini timbul pemikiran yang lain setelah memandang papan reklame. “Ah, ternyata tidak ada apa-apa.” Atau “Ohhh…”. Ya, sekadar oh saja. Bahkan ada yang mencemooh dengan alasan tertentu.

Baiklah. Saya akan mengajak Anda wisata imajinasi ke abad 19 di kota Paris. Yakni tentang fenomena poster yang setiap hari mewarnai kehidupan kota di sana. Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 kota Perancis khususnya kota Paris telah menjadi pusat perkembangan poster modern. Ini dipicu oleh perkembangan teknik cetak warna yang berkembang sejak abad 18. Tentu saja ini kemudian menjadi kegairahan para seniman dan praktisi grafis untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni poster.

Perkembangan seni poster akhirnya memang tidak terlepas dari hubungan sosial dan ekonomi masyarakat. Seperti yang diungkapkan Walter Benyamin,
“Bukan ekonomi yang melulu menjadi dasar penentu kebudayaan, tapi ekspresi dari dinamika itu adalah kebudayaan.” Kalau boleh saya tafsirkan sesuai kemampuan saya berfikir maka, faktor ekonomi boleh menjadi penentu kebudayaan tapi sikap masyarakat akibat faktor ekonomi adalah kebudayaan yang sebenarnya.

Pada abad tersebut, di kota Paris industrialisasi memicu produksi barang-barang konsumsi dan akhirnya penghuni kota tumbuh dengan segala kesibukan modernisasinya. Inilah yang kemudian menjadi objek seni poster seperti apa yang terjadi di kota Paris saat itu.

Seni poster yang berkembang seperti genre Art Nouveau (Poster dalam corak rupa penuh hiasan yang dikembangkan oleh seniman poster Henri de Toulouse-Lautrec) ini kemudian masuk ke wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Tak heran pada awal abad 20, poster pun membanjiri kota-kota di Eropa dan Amerika Serikat sebagai budaya masyarakat urban.

Poster Kampanye Stalin dan Mao

Poster tidak hanya dibutuhkan para pelaku usaha atau industri saja. Tapi juga untuk media kampanye. Sebagai contoh yang dilakukan oleh Joseph Stalin dan Ketua Mao. Sebagai media kampanye, poster dalam era ini lebih menonjolkan gaya realisme sosialis. Pertimbangannya barangkali agar mudah dipahami semua kalangan tanpa harus membuat dahi berkerut (realiasme). Apa yang akan dilakukan atau menjadi cita-cita Stalin dan   Mao diwujudkan dengan memasukkan gambar-gambar yang menjadi masalah sosial pada saat itu. Contoh, pendidikan, kesejahteraan buruh, atau kesehatan. Tentu saja gambar yang ditampilkan berbeda dengan  kondisi sebenarnya untuk menegaskan cita-cita mereka. Kalau saya jadi pemimpin maka kesehatan, pendidikan, kesejahteraan buruh akan lebih baik daripada sebelumnya. Demikianlah kira-kira yang dimaksudkan dengan gambar tadi. Lantas bagaimana jika cukup gambar seseorang saja yakni gambar diri sang calon pemimpin? Karena ini menafsirkan gambar, maka yang saya lakukan adalah bahwa mereka minta dinilai secara pribadinya saja. Kalau pribadinya buruk maka kenapa harus dijadikan pemimpin? Tapi bukankah mereka memiliki visi dan misi juga?  Akh…saya bilang saat ini sedang membaca keseluruhan isi poster. Kalau visi dan misinya di sampaikan di tempat lain, siapa yang tahu dan siapa yang perlu. Kenapa harus dipisah, masukkan dong dalam poster biar tidak buang-buang waktu dan tenaga. Sekali kerja, dua maksud tersampaikan. Kalau visi dan misi dimasukkan bisa tidak cukup tempatnya. Gimana dong? Anda harus yakin ada satu kalimat yang bisa mewakili ribuan kalimat. Carilah itu untuk mewakili ratusan bahkan ribuan visi dan misi anda. Saya tidak mau meniru Stalin dan Mao. Saya suka itu. Artinya anda akan berpikir dan berkreasi untuk menemukan sesuatu yang baru untuk menumpahkan ide kampanye ke dalam sebuah poster. Dengan begitu saya tidak akan bergumam sekadar “Ohhh…” ketika melihat poster anda yang kretif.

Poster di Ruang Publik

Jika poster mencirikan budaya masyarakat, maka perlu diketahui lebih dahulu bagaimana budaya masyarakat yang sudah terkondisikan. Sebelum poster datang, budaya masyarakat sudah terbentuk. Diharapkan ketika poster masuk dan dipasang pada ruang publik tidak mengurangi nilai budaya sebuah masyarakat. Jika perlu sebaliknya, poster bisa menjadi media pendidikan budaya masyarakat sekalipun itu adalah poster kampanye.

Untuk mencontohkan maksudnya, contoh terdekat adalah kota Banjarbaru. Saat ini terasa sekali di kota Banjarbaru sedang dikondisikan (bagi saya pribadi) untuk memahami pentingnya keindahan dan kebersihan. Kebetulan pula saat ini di Banjarbaru juga sedang marak poster-poster (papan reklame) para calon Walikota Banjarbaru dan wakilnya.  Karena ini ruang publik, bukan milik anda pribadi (para kandidat calon Walikota Banjarbaru), maka sudah semestinya menghargai semangat kondisi indah dan bersih tadi. Pasanglah poster dengan baik, tidak acak-acakan. Gunakan media poster yang kuat agar tidak mudah roboh diterpa angin dan hujan.  Gunakan cat atau tinta yang tidak luntur. Semua ini bertujuan agar kota Banjarbaru tidak tiba-tiba kumuh karena kehadiran poster-poster yang tidak menghargai nilai budaya indah dan bersih di Banjarbaru. Anda ingin jadi pemimpin tapi tidak bisa menghargai budaya tempat yang akan dipimpin sama artinya Anda tidak memiliki ‘ruh’ membangun kota Banjarbaru. Sekalipun poster tersebut dipasang di tanah/lahan pribadi Anda. Karena sesuai sejarahnya, poster adalah cerminan budaya pemiliknya. Dengan kata lain, siapa anda cukup lihat posternya saja dulu.

Banjarbaru, 25 Februari 2010

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , .

Sejarah Putri Junjung Buih Mantra: Publish or Perish

3 Komentar Add your own

  • […] } Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung atau menyindir seseorang. Sama sekali tidak. Tapi sekadar menceritakan apa yang pernah saya dengar langsung – sebut […]

    Balas
  • 2. Anonim  |  20 November, 2013 pukul 2:41 pm

    Terimakasih Atas Kirim Man Kisah Petri Jujung Beih Ini Kisah Yata Alam Gaip Ya Senang Medeqar Kisah Yata Sekali Lagi Terimakasih

    Balas
  • 3. deleted  |  20 November, 2013 pukul 2:47 pm

    Saya Mau Dikirim Lagi Ya Photo Petri Jujung Beih Yg Asli Ya Photo Datu Beduk Terimakasih As Salam Mealai Kum,?

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 288,134 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: