Suramadu

20 Oktober, 2009 at 11:46 pm 5 komentar


Pernah ke Madura? Saya sendiri tidak pasti apakah layak mengaku pernah ke tempat itu. Masalahnya, beberapa waktu lalu saya menyeberangi jembatan Suramadu dari arah surabaya, ketika tiba d ujung sana mbah dukun mengingatkan bahwa kami sekarang sudah masuk wilayah Madura. Wuih, cepat sekali. Barangkali memang itu tujuan kenapa jembatan Suramadu di bangun. Mempercepat waktu dan memendekkan jarak antara Surabaya dan Madura yang selama ini d batasi oleh selat Madura. Nah, kalau di Kalimantan Selatan jembatan Suramadu bisa di umpamakan sebagai jembatan Barito. Bedanya, jembatan Suramadu jauh lebih panjang dan tentu saja kontruksi bangunannya berbeda pula. Melintasi jembatan Suramadu juga sama halnya dengan menggunakan jasa jalan tol. Kita akan di pungut biaya sebesar Rp.3000 (roda 2). Namun sayang, entah sejak kapan, ada peraturan kita tidak boleh lagi stop selama melintasi jembatan Suramadu. Meski sekadar ingin menyaksikan sunset atau berphoto ria. Jika tetap nekat, maka kita akan mendapat surat tilang dari pak polisi yg sibuk patroli di jembatan tersebut. Pengalaman lainnya adalah, saat berada di tengah-tengah jembatan, kita bisa merasakan angin yang bertiup kencang. Tak heran saat melintas kita akan di peringatkan dengan rambu lalu lintas yang menandakan bahwa pada lintasan tertentu akan ada angin yang siap menerjang. Ngeri juga, sebenarnya. Dengan angin yang cukup kencang, kemudian menoleh k samping, pikiran saya jadi was-was. Bagaimana kalau jatuh? Meski cuma jatuh ke air, tapi jarak ketinggian dan kedalaman selat madura tidak menjamin kita bisa selamat begitu saja. Bukankah di dalam air yang mengalir, semakin ke dalam (bawah) arus justru semakin kencang? Mari kita tepis perasaan takut tadi. Toh saya baik-baik saja. Nah, hadirnya jembatan Suramadu tentunya membawa berkah bagi masyarakat Madura itu sendiri. Persis d ujung jembatan, kita akan menjumpai sederet warung penjaja makanan dan aksesoris. Bahkan saya sempat menyaksikan langsung terjadinya jual beli celurit yang harganya (kalau tak salah dengar) Rp.150 ribu/biji. Ini saja dulu yang bisa saya ceritakan, ada satu kalimat yang tiba-tiba muncul dari pengalaman di atas bahwa jembatan, apapun dan di manapun, kehadirannya seperti jari-jari tangan yang saling bergandengan. Seolah-olah juga ingin menegaskan bahwa jarak selalu saja membuat perasaan kita tak pernah menjadi satu. Surabaya dan Madura kini satu?

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , .

Musibah House of Sampoerna

5 Komentar Add your own

  • 1. Amd  |  21 Oktober, 2009 pukul 2:00 am

    Di Suramadu ada tambal ban gak Om?

    Balas
  • 2. nia  |  21 Oktober, 2009 pukul 7:13 am

    jd sempat berfoto ga di atas jembatan itu??? ( nyuri kesempatan maksudnya? )

    Balas
  • 3. Rizal  |  21 Oktober, 2009 pukul 4:07 pm

    wahh jd pengen kesana Bang ….

    Balas
  • 4. andrie callista  |  25 Oktober, 2009 pukul 5:36 pm

    hduh, saya cuman liat suramadu di telivisi ma di internet doank, kapan saya kesana ya?

    Balas
  • 5. Lowongan Kerja Bali  |  28 Oktober, 2009 pukul 2:45 pm

    🙂 Setuju..Keberadaan Jembatan Suramadu yang berdiri kokoh menandakan suatu perwujudan nyata pembangunan dalam rangka pengembangan wilayah dan peningkatan ekonomi, sekaligus sebagai sarana pemersatu masyarakat serta harmonisasi dua budaya (Jawa – Madura) sebagai aset bangsa untuk saling bergotong-royong membangun negeri.
    Dengan keunikan budayanya, keberadaan Jembatan Suramadu diharapkan mampu menjadi icon atau landmark Jawa Timur yang semakin memperkaya keanekaragaman Indonesia.
    Lowongan Kerja Surabaya

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 288,134 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: