Pramugari itu Tega Sekali…

13 Oktober, 2009 at 8:15 am 10 komentar


Seperti yang sudah disepakati, saya harus menunggu jemputan mbah dukun di bandara Juanda. Maklum, sejak Agustus 2009 kemarin mbah dukun resmi jadi dosen tamu di Universitas Pembangunan Nasional Surabaya. Ceritanya, Mbah dukun harus menyelesaikan tugasnya dulu sebagai dosen kemudian baru menjemput ke bandara. Sambil menghindari para sopir taksi yang selalu menawarkan jasa, kami terus berjalan menyusuri koridor Bandara hingga akhirnya stop di A Mild Cafe. Beli rokok dan pesan es jeruk. O, ya. Tak lupa kami juga membeli korek api karena sewaktu di Bandara Syamsudin Noor, mesin deteksi menjerit ketika Dillah melintasinya. Saya lupa memberitahu kalau dilarang membawa korek api. Seperti penjahat yang sedang ditodong polisi, Dillah mengangkat kedua lengan tangannya ke atas saat diperiksa. Akhirnya korek api tersebut terpaksa tidak ikut serta ke Surabaya (maklum korek apinya tidak dibelikan tiket).

Dari sekian kali melakukan perjalanan, baru kali ini saya ragu naik ke atas pesawat. Entah kenapa melihat kondisi pesawat yang akan saya tumpangi tiba-tiba muncul keraguan. Saya melihatnya badan pesawat tersebut agak kurang sehat, keropos dan asal saja ditutup dengan cat warna putih. Was-was sekali rasanya saat itu. Bukankah sudah sering terjadi kecelakaan pesawat di nagari kita ini? Bagaimana jika ketakutan saya sungguh terjadi? Uh, berdebar rasanya ketika saya mulai menaiki anak tangga. Saya menoleh ke belakang menatap jauh terminal bandara di ujung sana. Seandainya bisa, laiknya menaiki angkot, saya akan memilih pesawat lainnya saja tanpa harus mengorbankan tiket pesawat yang ada.

Saya terus menaiki anak tangga dan berusaha menghilangkan rasa takut yang berkelindan di dalam pikiran saya dengan menatap wajah manis sang pramugari. Tolong beri saya obat penghilang rasa takut, tolong tersenyumlah dan saya berharap senyum itu bisa menyelipkan rasa aman yang mendalam. Tersenyumlah…tersenyumlah. Pramugari itu tidak tersenyum, wajahnya pun biasa saja. Uhh…saya lekas menuju kursi. Sabuk pengaman dipasang, roda pesawat perlahan mulai berjalan. “Cuma seperti ini?” tanya Dillah saat pesawat mulai mengepakkan sayapnya (kayak burung aja).

Saya tidak tahu harus menjawab apa. Tapai memang seperti itulah rasanya naik pesawat. “Nikmati saja, tengoklah ke luar jendela. Rumah-rumah itu, seperti rumah-rumah yang disusun saat bermain monopoli. Semakin pesawat terbang tinggi, rumah-rumah itu seperti susunan mainboard,” jawab saya sambil masih menghilangkan rasa was-was dengan melafalkan doa. Mudah-mudahan pesawat yang saya tumpangi kali ini tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya pengalaman pertama Dillah naik pesawat kali ini terbilang untung. Di luar cuaca cukup cerah. Nah, pengalaman pertama saya dulu, cuaca sedang amburadul. Hujan, petir, hujan, petir dengan tubuh pesawat yang berulangkali harus menabrak gumpalan awan. Ternyata awan itu tidak seperti asap. Kalau ditabrak, awan pun juga mampu membuat oleng pesawat.

Sekarang, ceritanya kami sudah sampai di bandara Juanda. Seperti awalnya, pramugari tadi tetap diam, dingin. Aneh. Biasanya setiap penumpang akan selalu disapa minimal ucapan terimakasih dengan sesungging senyum. Tapi kali ini tidak. Ingin sekali rasanya saya bertanya kepada pramugari tersebut, “Gajimu sedikit, ya? Atau lagi berantem saya yayangmu? Kok diam aja? Hmm…jangan-jangan…jangan-jangan… lagi sakit gigi, ya? xixixixixi….” (bersambung…)

Iklan

Entry filed under: Umum. Tags: , , , , .

Daripada Tidak Pamit Sama Sekali Tidak Ikut Pesta Blogger 2009

10 Komentar Add your own

  • 1. sukas  |  13 Oktober, 2009 pukul 8:21 am

    kalau kita melakukan kegiatan dengan iklas tidak sewot seoerti itu.. slam kenal

    Balas
  • 2. ManusiaSuper  |  13 Oktober, 2009 pukul 8:35 am

    Jangan-jangan kalian naik pesawat hantu…

    Balas
  • 3. yulian  |  13 Oktober, 2009 pukul 11:21 am

    Ha..ha..ha.. ngebayangi Dillah angkat tangan….eh benar kata Mansup jangan2 naik pesawat hantu….

    Balas
  • 4. Amd  |  13 Oktober, 2009 pukul 2:07 pm

    Lah, sampeyan aja yang baru sekali naik pesawat itu ngerasa cemas, lalu gimana perasaan si pramugari yang tiap hari harus naik hayo?

    Balas
    • 5. pakacil  |  14 Oktober, 2009 pukul 4:12 am

      sepertinya salah baca ini mas amed. ckckckck…
      yg baru kali ini itu bukan mas harie, tapi dillah…
      🙄

      Balas
      • 6. Amd  |  14 Oktober, 2009 pukul 8:05 pm

        Nggak, saya nggak salah baca. Saya bilang kan “baru sekali naik pesawat itu“.

  • 7. nia  |  13 Oktober, 2009 pukul 3:27 pm

    angkat alis liat koment bang amed??? hemmm ..
    itu berempati atau????? hemmmmmm

    Balas
  • 8. Rizal  |  13 Oktober, 2009 pukul 3:59 pm

    jd penasaran liat wjah dilah ketika disuruh angkat tangan ..? hEMmmmm

    Balas
  • 9. soulharmony  |  14 Oktober, 2009 pukul 8:47 pm

    saya mewakili pramugarinya :
    Maaf mas, saya kira anda anak kecil yang terpisah dari orang tuanya ketika ada di ruang tunggu Syamsudin Noor, ga taunya anda orang dewasa. Saya ga diem karena lagi sakit, tapi lagi menahan ketawa

    Balas
  • 10. manusiaher  |  17 Oktober, 2009 pukul 10:20 pm

    pramugarinya cantik..

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 289,229 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: