Bendera, curhat agustusan… (2)

8 Agustus, 2008 at 11:33 pm 1 komentar


Saya baru ingat, 17 Agustus 2007 kemarin, saya tidak memasang bendera di halaman rumah. Tapi sebelum saya lanjutkan, apakah ada aturan bahwa memasang bendera itu harus di depan rumah? Maksud saya, apa boleh memasangnya di belakang rumah atau menancapkannya di atas pohon saja? Terserah jika menganggap pertanyaan ini bodoh, tapi saya butuh jawaban. Kembali soal tahun kemarin. Jika ini dianggap kesalahan, maka sebagai warga negara, saya termasuk bukan orang yang baik. Hanya di rumah saya saja yang tidak terpasang bendera, sementara yang lain pasang semua. Jujur, bendera merah putih yang selama ini tersimpan di lemari usianya cukup tua. Sudah lusuh dan terbayang robekannya akan semakin besar jika diterpa oleh angin kencang. Sebab itulah, tahun kemarin saya tidak memasangnya. Bahkan, tiang bendera yang hanya digunakan satu tahun sekali itu pun kini sudah saya manfaatkan menjadi antena televisi. lantas, apakah tahun ini adalah tahun kedua saya tidak memasang bendera? Masalahnya memang sederhana, tapi sengaja saya bikin sulit. Bukankah kesulitan kadangkala melahirkan orang-orang bijaksana? Ups, maksud saya bukan itu. Begini saja, artinya saya harus membeli bendera merah putih yang baru dan juga tiangnya. Itu Jika saya berniat ingin seperti orang kebanyakan, memasang bendera merah putih pada 17 Agustus 2008 nanti. Apalagi saya perhatikan, orang-orang sudah ramai menjual bendera merah putih yang baru. Bahkan, harganya bervariasi. Ada yang mahal dan murah. Jika alasannya karena tidak selalu digunakan, cenderung satu tahun sekali, maka wajar jika saya memilih harga yang murah. Tapi kenapa sampai sekarang saya belum membelinya juga? Biar tulisan ini terlihat panjang, dan ketahuan kalau saya sedang berusaha memanjang-manjangkan kalimat, mari kita ulangi kembali dari awal dengan memahami kondisi Indonesia sekarang. Agar nantinya, ada sebuah alasan yang pasti kenapa kita harus memasang bendera. Sebenarnya, banyak bendera gratisan di luar sana. Hanya saja, bukan merah putih. Tapi bendera partai. Saya yakin, mereka tidak akan marah kalau Anda mencabut bendera itu lantas memasangnya di rumah. Tapi, siapa yang akan melakukannya? Yang jelas itu bukan saya. Karena, dua bulan lalu, di pimpin oleh ketua RT, semua warga sepakat tidak diijinkan untuk memasang bendera partai di depan rumah. Alasannya, khawatir jika terjadi percekcokan antar warga yang sebelumnya rukun, damai dan saling hormat-menghormati satu dengan yang lain. Keputusan itu tidak butuh perdebatan yang alot, bahkan semuanya langsung sepakat. Tidak ada yang lebih berharga dari kedamaian itu sendiri dan satu pun tidak ingin menjualnya dengan sebiji bendera partai. Nah, sekarang Anda tahu kenapa saya jadi bimbang dengan bendera merah putih. Jika harus membeli yang baru, apakah menjamin bahwa bendera itu bisa menjadi simbol kebanggaan saya atas Indonesia saat ini? Tapi, jika harus membeli dan memasangnya juga. Maka hanya ada satu alasan yang bisa saya berikan. Apa kata ‘tetangga’ di sana kalau warganya seperti saya semua? [ ] catatan: Abaikan saja link di bawah ini, karena hanya iklan. Jika tetap ingin melihatnya, sebaiknya jangan!

Entry filed under: Esai, Umum. Tags: , , .

Balada seorang blogger Sayembara Penulisan tentang Guru | Terakhir 10 Oktober 2008

1 Komentar Add your own

  • 1. Qori  |  9 Agustus, 2008 pukul 4:39 pm

    pak harie,saya setuju tuh pendapat anda.
    pake aja bendera yg lama.
    itukan penghematan anggaran belanja negara ,ya gak?

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: