Mabuk

31 Juli, 2008 at 4:51 pm 1 komentar


catatan singkat buku kumpulan esai ‘Tunasosial’ yang ditulis oleh M. Mahfuz Abdullah.

sampul buku mahfuz

sampul buku mahfuz

Hampir satu bulan buku itu nangkring di bookcafe, Banjarbaru. Namun baru kali ini saya berkesempatan membaca isi dalamnya. Ternyata,asyik juga. Ada cerita paling lucu yang ditulis oleh Mahfuz untuk memnggambarkan situasi masyarakat Kalimantan Selatan, Banjarmasin khususnya, dalam mematuhi larangan penjualan minuman keras (miras).
Konon, Walikota Banjarmasin pernah melakukan inspeksi mendadak. Turun ke jalan untuk mengetahui sejauh mana warga Banjarmasin mematuhi Perda miras. Sang Walikota sengaja mencari warung penjual miras. Setelah ketemu, terjadilah dialog semacam ini (tanpa mengurangi arti sebenarnya, dialog asli menggunakan bahasa Banjar, kemudian saya tulis ulang ke dalam bahasa Indonesia);
“Ada bir? ujar Walikota bertanya.
“Tidak boleh lagi jual bir, Pak. Sekarang ini sudah ada larangan untuk menjual bir,” ujar si pemilik warung yang memang biasanya
menjual bir.
“Aku sudah sering kemari dan menjadi langganan warung ini setiap kali membutuhkan bir,” tandas si Walikota.
“O, pelanggan juga, rupanya,” kata si pemilik warung. Karena memang pelanggan, artinya bukan orang baru, maka si pemilik warung segera menyediakan segelas bir untuk sang Walikota. Lalu, sang Walikota meminum setengah gelas bir yang sudah disajikan seraya berkata,”Kamu tahu siapa aku sebenarnya?”
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Aku ini walikota Banjarmasin, seharusnya kamu tidak boleh menjual minuman keras!”
“Ah, Bapak. Baru setengah gelas sudah mabuk, mengaku sebagai walikota lagi.Bagaimana kalau habis satu gelas, bisa-bisa mengaku sebagai gubernur,” jawab pemilik warung dengan polos.

Membayangkan kejadian di atas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa meskipun telah ada perda miras, penjualan tetap terjadi, meski dengan cara-cara seperti di atas. Oleh si penulisnya, gambaran di atas ditujukan untuk merefleksikan tentang seseorang yang mabuk jabatan (Tunasosial, judul ‘Mabuk Jabatan’ hal.15). Tulisan tersebut menyoroti orang-orang yang ambisius ingin menjadi pemimpin di pemerintahan melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Mahfuz menggambarkan, ajang Pilkada layaknya pasar dengan segala aksesoris (hal16). Pilkada benar-benar menampilkan pergulatan kepentingan. Utamanya, bagaimana agar barang dagangan yang dipajang benar-benar laku di pasaran. Di pandang dari sudut ekonomi, laku berarti juga keuntungan. Siapa yang diuntungkan?

Bagi partai yang mengusung, tentunya. Selain itu juga sekelompok orang yang menyebut dirinya tim sukses. Dalam bidang pemasaran, mereka disebut juga sebagai sales. Bagi mereka, bagaimana pun caranya, yang terpenting adalah barang dagangan bisa terjual lalu mereka mendapat keuntungan. Berhubung si penulis juga adalah seorang wartawan, maka banyak fakta di lapangan yang ia dapat lalu mengabadikannya ke dalam catatan. Mengenai para sales Pilkada, Mahfuz menuliskannya seperti ini;
Saya sedikit bergembira, karena melihat banyak masyarakat sudah mulai dewasa. Di sebuah desa, mereka dengan rukun menjadi Tim Sukses masing-masing calon pemimpin. Mereka membagi kelompok sesuai dengan jumlah calon yang maju pada Pilkada. Masing-masing Tim Sukses ini punya target, meminta sesuatu yang dibutuhkan masyarakat kepada calon. Tim sukses A meminta genset, Kelompok B meminta mesin perontok padi dan traktornya, kelompok C meminta perlengkapan masjid dan rehab pesantren.
“Soal memilih itu rahasia. Yang penting, kami mendapatkan keuntungan yang dapat dinikmati seluruh masyarakat,” ujar seorang warga. Demikianlah, jabatan benar-benar mengubah banyak orang menjadi mabuk berjemaah.

Membaca tulisan ini, Mahfuz seperti juga ingin menegaskan bahwa, kesempatan masyarakat untuk dipenuhi permintaannya yaitu pada saat pemimpin sedang mencalonkan dirinya. Karena, jika mereka sudah jadi pemimpin, tentu saja, semua modal yang sudah terlanjur mereka keluarkan, harus mendapatkan gantinya. Entah itu lewat jalan korupsi atau yang lain. Entahlah.

Buku kumpulan esai ini tidak saja membicarakan soal politik dan pemerintahan, tapi juga masalah sosial termasuk krisisnya kepekaan manusia terhadap sesama dan lingkungannya. Tentu saja dengan kalimat-kalimat segar dan cerita-cerita lucu yang ia dapat di lapangan.

Informasi tentang buku:
Judul Buku @ Tunasosial
Penulis @ M. Mahfuz Abdullah
Penerbit @ Radar Banjarmasin
Harga @ Rp.25.000
Tebal @ 201 hal.; 13.5 x 20 cm

Iklan

Entry filed under: Esai, Referensi, resensi, Umum. Tags: , , , , , , .

Tips Mengirim Karya Sastra ke Surat Kabar (1) Tips Mengirim Karya Sastra ke Surat Kabar (2)

1 Komentar Add your own

  • 1. infogue  |  6 Agustus, 2008 pukul 12:12 pm

    Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://buku.infogue.com/mabuk

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 289,229 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: