Bunuh Diri dengan Pistol Air | Antologi Puisi

28 Juli, 2008 at 3:55 pm 6 komentar


Demikianlah. Puisi-puisi masih ditulis. Buku-buku tetap dicetak. Dan kali ini, buku yang sampai ke tangan saya adalah Pistol Air, dengan nama panjang, Antologi puisi parodi tentang orang yang ingin bunuh diri dengan pistol air. Buku ini baru saja selesai dicetak, ibarat gorengan pisang, masih hangat. Sebagai ungkapan terimakasih, khususnya penerbit Tahura Media, yang tidak pelit mengirimkan buku-buku terbitannya, semoga saja, catatan ini bisa mewakilkan rasa terimakasih dan sekaligus undangan kepada penerbit atau penulis lain, yang bukunya juga ingin saya catatkan di blog ini. (Syaratnya, kirimi saya buku).

Mari kia mulai…
Sebenarnya, hanya orang gila yang merencanakan bunuh diri dengan pistol air. Kenapa tidak pistol sungguhan? Ya, ampun. Saya pegang pistol saja belum pernah, bagaimana rasanya kalau sungguhan kena tembak, ya? (bercanda), tapi judul buku ini memang aneh. Apalagi di bagian sampul, ilustrasinya sungguh-sungguh menggambarkan orang ingin bunuh diri, dan di belakangnya, ada gambar rumah sakit jiwa. Apa kata saya tadi, hanya orang gila yang merencanakan bunuh diri dengan pistol air. Benarkah ada kegilaan semacam itu di dalam puisi M. Nahdiasyah Abdi?
Buku kumpulan puisi ini lumayan tipis, 134 halaman dengan ukuran 13 x 19 centimeter dengan nomor ISBN:979175622-8. Meski tergolong tipis, buku ini padat isinya. Mari kita buktikan!

  • Jumlah puisi di dalam buku tersebut sebanyak 83 judul plus-plus. Maksudnya, ada tambahan kata pengantar si penyair dan catatan panjang di bagian akhir, semacam riwayat hidup, sekaligus proses kreatif kepenyairannya selama ini. Dari catatan-catatan panjang itulah ada beberapa hal yang bisa diketahui:
  • Tentang puisi itu sendiri, si penyair berpendapat, ada 3 hal yang terkait dengan puisi. Yaitu, proses penciptaan, publikasi dan pembacaan. Proses penciptaan yang ia maksud dianalogikan bahwa puisi tak lebih seperti mainan. “Aku memperlakukan kata seperti anak kecil memperlakukan mainan barunya.” Tentang publikasi, si penyair berpendapat, jiwa orang dewasa mengambil perannya saat publikasi puisi. “Aku mulai menyortir, memisah puisi jelek dari puisi baik, memperbaiki ejaan, memilih media dan mulai mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan orang. Sementara dalam proses pembacaan, penyairnya mengakui bahwa, “Bagian yang paling kuhindari adalah pembacaan puisi. Pembacaan puisi bagiku adalah sebuah pertunjukan. Aspek-aspek teattrikal mengambil peranan di sana.” Begitulah, sementara si penyair merasa suka demam panggungan. (Dalam Sekelumit cerita Hal VIII)
  • Penyair, M. Nahdiansyah Abdi lahir di Durian Gantang, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Tepatnya, 29 Juni 1979. Dalam catatan di bagian akhir ini, Penyair seperti menceritakan sejarah hidup ia dan keluarganya. Termasuk pengalaman-pengalamannya mengapa menyukai puisi. Khususnya, ketika berada di Yogyakarta dan saat itu ia masih mengenyam pendidikan jurusan psikologi UGM Yogyakarta.
  • Penyair saat ini bekerja di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Kalsel.
  • Buku kumpulan puisi ini juga dipadati dengan sketsa gambar. Di setiap bagian bawah halaman (footer), selalu terdapat kata mutiara dan kutipan tokoh-tokoh terkenal.

Meski puisi-puisi yang ditulis M. Nahdiansyah Abdi seperti yang ia katakan, “Aku membuat puisi tidak untuk menyenangkan hati semua orang. Kecenderungan dan style pembaca sungguhlah beragam.” Namun membaca semua puisi yang ditulisnya tampak makna dari kesederhaan kata yang ia gunakan. Adakah lagi yang bisa didapat bagi seorang pembaca buku puisi selain kata dan makna? Begitulah cara saya menerima puisi. Bagaimanapun, kenikmatan membaca setiap orang juga berbeda, demikian pula saya. Tentang selera Anda, otomatis bukan urusan saya. Maka ada beberapa puisi M. Nahdiansyah Abdi yang saya sukai. Berikut saya kutipkan salah satunya saja:

Satwa yang dilindungi

Ada satu satwa
Sangat di lindungi “Undang-Undang”
Satwanya sendiri sangat jenaka
Penghibur keluarga

Dari hutan tak bertepi
Kini berkandang dalam manusia: korupsi

Kenapa saya menyukai puisi di atas padahal kata yang digunakan cukup sederhana? Dari kesederhaan itulah saya melihat ‘kegilaan’ atas apa yang disampaikan. Bayangkanlah seorang koruptor. Ia dicaci, mungkin dihujat, tapi di sini penyairnya juga menyampaikan hal lain. “penghibur keluarga” demikian kata si penyair. Mungkin bagi orang lain, Koruptor sangat menjijikan, tapi bagi keluarganya, ia mungkin sebagai penyelamat juga sekaligus penghibur. Bagi saya, itu juga kegilaan. Si penyair memperlihatkannya lewa dua sudut pandang yang berlainan.

Nah, sekali lagi, puisi memang menawarkan banyak kesempatan untuk berbagi dengan pembacanya masing-masing. Masih banyak puisi-puisi lain yang menawarkan kesegaran dan penuh perenungan. Tentunya, tidak sakadar mengindah-indahkan kata, atau memainkan bahasa. Contohnya dalam puisi ini:

Penyair yang Tak Bahagia

Kataku pada isteriku: Biarlah cuma aku yang menyenangi puisi

Lantas kami lama terjaring hening
Dan setelahnya
Tertawa ngakak

Kenapa penyair yang tak bahagia, padahal di akhir puisi tersebut masing-masing tertawa ngakak? Sangat aneh bukan, atau katakan saja ‘gila’. Puisi di atas membuat saya berimajinasi tentang seorang penyair yang sedang diskusi atau ngobrol dengan isterinya. Inilah dialog imajiner untuk memudahkan apa yang saya maksud:

“Kenapa tidak satu pun di keluarga kita menyenangi puisi? Kau juga!” kata si suami. Atau, “Kenapa kalian memandangku aneh hanya gara-gara aku menyukai puisi?” Akhirnya, karena tak ingin berdebat lebih lama, sang suami mengatakan, “Biarlah cuma aku yang menyenangi puisi,” ungkapnya merajuk. Lantas, isterinya tertawa melihat sikap suaminya itu. Akhirnya, mereka pun ngakak bersama-sama menyadari bahwa itu memang lucu, meski kelucuan yang mereka miliki tak harus sama.

Akhir kata, kumpulan puisi ini memberikan alasan tersendiri kenapa layak untuk dibaca. Seperti orang yang ingin bunuh diri dengan pistol air, sungguh itu gila. Memang banyak ‘kegilaan-kegilaan’ kecil dan besar yang diungkapkan M. Nahdiansyah lewat puisinya. Selamat! [ ]

Judul Buku @ Parodi Tentang Orang yang Ingin Bunuh Diri dengan Pistol Air
Penulis @ M. Nahdiansyah Abdi

Penerbit @ Tahura Media

Harga @ Rp.25.000 (Discount 50% selama Agustus 2008, di Book Cafe ruMahcerita Banjarbaru)
Tebal @ 134 hal.; 13 x 19 cm

About these ads

Entry filed under: resensi. Tags: , , , , , , , , , , , .

1 Juli 2009, angkutan tambang tidak boleh melintas di jalan umum Tips Mengirim Karya Sastra ke Surat Kabar (1)

6 Komentar Add your own

  • 1. ahsani taqwiem  |  28 Juli, 2008 pukul 4:38 pm

    pusisnya bagus, dibari pengarangnya, sayang kd dibaca, wakakakakakka

    Kata harie:

    Bukan hal baru, kok. Tidak aneh kalo nilai-nilaimu jeblok. Hehehe

    Balas
  • 2. baderiani  |  29 Juli, 2008 pukul 11:37 am

    Artikelnya bagusss… menambah wawasan

    Balas
  • 3. dusone  |  9 Mei, 2009 pukul 11:20 pm

    judul bukunya unik dan menggelitik imajinasi…..

    Balas
    • 4. Anonymous  |  21 Desember, 2009 pukul 7:23 pm

      iya ya,Q jd terharu ne baca’y

      Balas
  • 5. Bang Back  |  28 Januari, 2010 pukul 3:26 pm

    puisinya bagus menguak imajinasi ….

    Balas
  • 6. Bang Back  |  28 Januari, 2010 pukul 3:28 pm

    membaca puisinya hati meliuk- liuk

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia
Komunitas Blogger Kalimantan Selatan Ensiklopedi Borneo Kalimantan

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 231,413 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Fotografi

IMG_9999

IMG_9997

IMG_9982

More Photos

RSS ClickBorneo.Com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d bloggers like this: