Jangan main-main. Ini Indonesia, Bung!

14 Juli, 2008 at 6:44 pm 13 komentar


Catatan konyol, buat orang yang tak sudi membacanya dan ditulis oleh orang yang sempat menanyakan tentang kewarasan dirinya sendiri selama menjadi orang Indonesia.

Pernahkah kau mendengar langsung tentang seseorang yang salah membacakan bunyi Pancasila? Aku melihatnya, Bung. Juga mendengarnya langsung. Mungkin kau juga pernah mengalaminya. Maksudku, menemui kejadian serupa? Bayangkan, bunyi Pancasila yang diperjuangkan susah payah itu, bahkan berdarah-darah, ternyata jumlah bertambah menjadi enam sila. Gawat. Bagaimana jika yang mengucapkan itu adalah pejabat-pejabat daerah kita, atau kepala sekolahmu dan siapa tahu itu adalah kamu atau aku. Hehehe. Apa kata dunia? Bunyi Pancasila itu dibaca seperti ini:

  1. Pancasila
  2. Ketuhanan Yang Maha Esa
  3. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  4. Persatuan Indonesia
  5. Kebijaksanaan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan.
  6. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

1.

Baiklah, Aku memaklumi peristiwa itu seperti aku memaklumi diriku sendiri. Di luar sana, banyak peristiwa yang datang menyergap. Sementara kita tak siap. Banyak sekali yang harus kita ingat, akhirnya banyak juga yang dilupakan. Seperti diriku, dengan IQ jongkok yang semakin parah ini, janganlah tiba-tiba mengujiku untuk membacakan teks proklamasi, atau membacakan ke lima bunyi Pancasila di atas. Tanpa teks yang disiapkan, dan hanya percaya kepada ingatan, percayalah, lidah ini akan terasa kelu, lututku akan lemas, dan mungkin saja, aku akan menangis tersedu-sedu. Aku malu, Bung. Jangan uji ke Indonesiaanku dengan cara-cara itu. Bahkan, syair Indonesia Raya pun, tak ingat lagi kapan terakhir menyanyikannya. Jika kau paksa, jangan-jangan aku akan seperti orang yang dulu pernah kutertawakan itu. Ketika ia membacakan teks Pancasila. Pada saat ingin menyebut angka enam, wajahnya itu, Bung. Seperti kepiting rebus yang baru sadar bahwa ternyata ingatan itu tak sepenuhnya bisa diandalkan. Tapi sudahlah, belakangan kuketahui, ia memang telah menolak ketika disodorkan teks Pancasila. Ia bilang, “Aku lebih dulu lahir sebelum kau lahir. Bahkan masa-masa sulit itu pun telah aku alami sedemikian rupa. Apalagi soal Pancasila, aku meresapinya hingga ke tulang sum-sum. Dan sekarang, mana mungkin aku bisa melupakan teks yang hanya terdiri dari lima bagian itu.”

Hmm, ingatan. Apakah cukup hanya mengingatnya saja? Apakah ini juga hanya soal ingat atau lupa?

Sekali lagi maaf, Bung. Kepada semua yang lebih dulu lahir, semua yang telah menitipkan cita-cita negeri ini kepada para penerusnya. Aku ingin menjadi bagian dari Indonesia. Bukankah pendaftaran menjadi Indonesia selalu dibuka 24 jam dan gratis?

Kenapa tidak. Bukankah aku tidak harus menebang pohon bambu lalu menyiapkannya untuk menghadang serdadu? Bukankah menjadi Indonesia, aku tidak perlu bertelanjang dada dengan perut lapar meneriakan kata-kata merdeka atau mati? Bukankah begitu, Bung?

Aku tidak main-main. Ini Indonesia, Bung! Bukan hadiah para serdadu. Tapi hasil dari berton-ton daging manusia yang hancur di medan peperangan. Seandainya menu sarapan pagimu hari ini diganti dengan daging-daging itu, tentu kau akan muntah. Tinggal kau pilih, bagian tubuh mana yang kau inginkan. Paha, dada, sayap, leher atau setumpuk jari kaki lengkap dengan kukunya?

Beruntunglah aku yang kini sudah bisa menikmati sarapan pagi dengan gorengan ubi. Bahkan suka pilih. Bisa soto, sop, rawon, nasi kuning, sate, juga roti bakar rasa coklat yang dioles dengan mentega dan keju. Tapi keberuntungan itu bukan seperti membuka bungkus kopi yang di dalamnya ada undian berhadiah, bukan? Maaf, jika aku salah. Tapi bukankah begitu, Bung? Bukan hadiah.

Soal sarapan, bagaimana dengan mereka dulu, Bung. Apa sama dengan sekarang ini? Aku justru berpikir, sarapan pagi bagi perempuan-perempuan, anak-anak kecil, adalah tubuh bapaknya sendiri yang diseret pulang dengan sisa peluru yang merobek kulit hingga menembus bagian tubuhnya. Itulah sarapan bagi mereka. Lalu, tubuh bapak atau suami-suami mereka itu diluluri dengan bumbu penyedap yang satu-satunya mereka punya. Yakni, air mata. Meski begitu, mereka masih bisa mengucap rasa syukur karena bisa menguburkan orang yang mereka cintai. Bagaimana dengan yang lain, cukup banyak tubuh-tubuh yang tertinggal di medan peperangan, tersangkut di jeruji-jeruji kawat, terlindas mobil para serdadu, atau sengaja disiksa dan tak tahu hidup dan matinya. Bagi mereka, sarapan adalah menunggu atau pergi mencari. Maaf, jika yang kubayangkan ternyata salah. Toh aku hanya menebaknya saja.

Baiklah. Jangan main-main. Ini Indonesia, Bung! Bukan hadiah para serdadu. Tapi titipan dari para leluhurmu. Namanya juga titipan, berarti kau harus menjaganya baik-baik. Tidak susah kok menghitung berapa jumlah yang mereka titipkan. Orang-orang terdahulu itu sudah berbaik hati dan merangkumnya ke dalam Pancasila yang lima itu, bukan enam lo. Sekali lagi, cuma lima. cuma lima, wooiii!

Nah, sudahkah kelimanya itu dirawat dengan baik? Begini saja, Bung. Aku ada ide, pertama-tama, bagaimana jika patokan nasionalisme seseorang itu kita terawang lewat Pancasila saja. Biar mudah. Tidak perlu dengan segala macam kesaktian. Bukankah Pancasila itu sudah sakti? Tapi bukan sekadar hapal teksnya lo. Tapi juga tindakan. Bukankah sekarang ini sudah masuk musim kampanye? Hehehe, kok merambat ke situ. Jadi, kalau tidak bisa menjaga ke lima bunyi titipan para leluhur Indonesia, jangan percaya dengan janji-janjinya itu. Karena bagiku adalah, mereka yang tidak bisa menjaga ke lima bunyi pancasila adalah orang-orang yang sedang duduk di meja makan dan berebut untuk menyantap tubuh para leluhurnya sendiri. Bagaimana, Bung! Apa aku sudah Indonesia banget? Kalau belum, nanti kita sambung lagi. Soalnya aku harus ngacir dan tenggelam ke barisan pengantri bensin.

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku

Bangsa dan tanah airku

Marilah kita berseru

Indonesia bersatu

…………………………………..

“Sambil menunggu antrian, aku akan terus menyanyikannya, Bung!”

“Bung, sendiri bagaimana?” [ ]

*Meskipun tulisan ini aku ikutkan lomba yang diadakan iwan-ae.info, semoga tak satu pun mengurangi maknanya. Merdekaaa!

Iklan

Entry filed under: Esai, Umum. Tags: , , , .

Rekaman Percakapan Artalyta dan Kemas Yahya Zaskia Adya Mecca, memang merokok

13 Komentar Add your own

  • 1. Pakacil  |  14 Juli, 2008 pukul 11:22 pm

    ihiks… aku jua tau kejadian macam ini, Pancasila jadi 6.
    TKP : Malang.
    Bertahun lalu, Iwan Fals menyanyikan bahwa Pancasila bukanlah rumus kode buntut. Namun tenyata saat ini, dalam ranah yang berbeda, negara Pancasila ini tengah berjudi dengan nasibnya sendiri, dengan bandar para penguasa.

    entah…

    Balas
  • 2. suhadinet  |  15 Juli, 2008 pukul 9:36 am

    harie sudah Indonesia banget. Lebih Indonesia dari saya. Tapi nyanyi lagu kebangsaan di Pom bensin apa ndak jadi pusat perhatian. He.he.. Sip.

    Kata hariesaja :to Suhadinet

    Hehehe…nyanyinya pelan-pelan aja kok om.

    Thank’s

    Balas
  • 3. dhyar  |  15 Juli, 2008 pukul 10:59 am

    Saya rasa sih Indonesia bukan titipan para leluhur Bung! Tapi warisan untuk generasi penerus! Apa yang bisa kita berikan untuk generasi penerus bangsa? Dengan makna warisan leluhur, seakan para pejabat dan yang merasa Indonesia banget berhak untuk mengeksploitir kekayaan alam tanpa meinggalkan untuk generasi penerus. Meninggalkan hutang untuk generasi penerus dan meninggalkan kebrobrokan untuk generasi penerus. Apa yang di peroleh dan dirasakan generasi penerus? HANYA KESUSAHAN SAJA. Kita hidup dalam dunia dengan ekosistem, akan ada pahlawan2 baru lahir di Indonesia. Kita juga harus memikirkan Generasi penerus! INGAT!!! Negara bukan Warisan Pahlawan, Tapi titipan Untuk Generasi Penerus! Jaga dan perbaiki negara supaya anak, cucu dan cicit kita bisa menikmati indahnya tinggal di Indonesia

    Kata hariesaja:To dhyar:

    Boleh kalau mau dibilang warisan leluhur.Tujuannya juga sama. Bedanya hanya, Kalau dhyar dalam konteks masa depan, justru tulisan ini konteksnya kekinian. Kalau di tulis seperti ini:

    “Indonesia adalah titipan para leluhur, maka mereka yang saat ini atau sudah dan akan menjadi pemimpin Indonesia, bahkan yang bukan pemimpin, wajib menjaga Indonesia itu sebaik mungkin untuk generasi penerus bangsa selanjutnya. Seperti para leluhur dulu berjuang (masa lalu) demi generasi selanjutnya (baca: kita saat ini). Demikian pun kita, termasuk para pemimpin Indonesia terkini, wajib menjaga Indonesia untuk generasi penerus (masa depan).

    Soal mengeksploitisir, justru mereka itu bukan Indonesia banget. Karena telah menyelewengkan titipan leluhur bagi generasi selanjutnya.

    Terimakasih atas respon positifnya.

    Balas
  • 4. merahputih  |  15 Juli, 2008 pukul 7:03 pm

    congrulation…

    Balas
  • 5. rhakateza  |  16 Juli, 2008 pukul 5:35 am

    iya yah, dulu,,,,,
    menjelang tamat es de, jangankan pancasila, butir-butirnya yang lebih dari 40 an itu duhafal diluar kepala, undang-undang dasar, nama menteri, dan sebagainya dihafal. kok sekarang lagu kebangsaan sendiri, banyak yang mencla mencle,

    Balas
  • 6. dhyar  |  17 Juli, 2008 pukul 4:48 pm

    Makasih atas koreksinya mas harie.

    @rhakateza
    Apakah bisa dibilang metode orde kemaren tepat dalam menanamkan semangat patriotisme?

    Balas
  • 7. rhakateza  |  17 Juli, 2008 pukul 5:32 pm

    orde kemarin kalau masalah mengajarkan menghafal konstitusi negara dan teori-teori moral lebih baik dibanding sekarang. Nah, apakah hal-hal seperti itu hanya untuk dihafalkan dalam kepala saja?
    tidak, semua butuh aplikasi dan penerapan.
    Bahkan ujian untuk melihat tingkat patriotisme rakyat indonesia justru terlihat ketika sang rezim tumbang
    Patriotisme muncul ketika negara diinjak2 ketika ambalat diambil asing
    Patriotisme menggelora ketika atlit indonesia berjuang mati matian di lapangan
    Patriotisme muncul ketika anggota DPR melacurkan diri ditengah gelimpahan uang sogokan dan perempuan nakal
    karena patriotisme bukan untuk dihafalkan tapi ditunjukkan dengan perbuatan

    Balas
  • 8. qori  |  18 Juli, 2008 pukul 3:38 am

    saya ciptakan lagu pancasila (IRAMAnya lagu balonku )
    pancasila ada enam
    rupa rupa rukunnya
    persatuan,keadilan sosial ,beradab
    itulah pancasila…

    Balas
  • 9. fahrizal  |  25 Juli, 2008 pukul 9:42 am

    Rizal nggak bisa memberi komentar yang baik. Mungkin kata “BAIK” yang bisa Rizal ungkapkan untuk mengomentari postinganmu… GOOD LUCK. eh iya aku sudah link weblogmu.

    Balas
  • 10. Pengumuman pemenang kontes blogging 17-an | Rystiono 2.0  |  21 Agustus, 2008 pukul 3:11 pm

    […] 1: Berhenti mencaci Indonesia. Juara II: Jangan main-main, ini Indonesia Bung. Juara III: Pak Tani, Their Endless Circle of […]

    Balas
  • 11. rhakateza  |  21 Agustus, 2008 pukul 11:37 pm

    wew, juara 3. selamat yah….

    Balas
  • 12. rhakateza  |  21 Agustus, 2008 pukul 11:38 pm

    eh, ane hilap…. ternyata juara dua. diralat tuh kata2nya diatas. heheheh

    Balas
  • 13. wong ndeso  |  28 Agustus, 2008 pukul 10:55 am

    Yoiii Bro, kita hrus PD jd wong Indonesia! Merdeka!
    Selamat jd juara 2 kontes blog rystiono

    http://www.mannusantara.blogspot.com

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,784 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: