Memberi suara untuk rumah-rumah yang ditinggalkan

1 Juni, 2008 at 5:22 pm 3 komentar


Catatan: Entah karena alasan apa orang-orang membeli rumah jika hanya untuk dibiarkan rusak.

rumah yang ditinggalkan Bayangkan apa jadinya sebuah rumah yang tidak dihuni selama 15 tahun? Ketahuilah, rumah-rumah semacam ini banyak sekali di Banjarbaru. Salah satunya ada di samping rumah saya. Karena sudah 15 tahun tidak ditempati, maka rumah itu sudah menjadi satu bagian dengan rumah saya. Jika Anda pemilik rumah itu, maka jangan khawatir, jangan pula menyimpan prasangka kalau saya akan mengambil rumah Anda. Cukup sederhana kenapa rumah Anda bisa menjadi satu dengan rumah saya. Jawabnya adalah karena di samping rumah itu selalu saja ditumbuhi rerumputan yang saling menghubungkan rumah kita.

Percayalah, saya tidak pandai menuliskan kabar buruk. Toh rumah-rumah itu selalu ingin bertahan ketika hujan datang menantang. Tapi apakah Anda yakin bahwa rumah-rumah yang Anda beli itu akan bertahan untuk selamanya dan Anda tidak perlu lagi datang untuk melihat bagaimana kondisinya sekarang?

Anda memang tidak perlu datang, atau hanya akan datang tatkala ingin menjualnya. Tentu dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dulu saat Anda membelinya. Tapi percayakah jika rumput yang tumbuh hingga sepinggang orang dewasa itu sempat menjadi teror bagi penghuni rumah lainnya. Setiap hari mereka membersihkan halaman rumah, membersihkan got-got yang tersumbat dan juga membakar daun-daun kering yang berjatuhan. Bisa Anda bayangkan betapa nyamannya tidur tanpa diganggu oleh nyamuk. Tapi setiap kali mereka menjumpai rumah Anda dengan rumput setinggi pinggang, air hujan yang menggenang di dalam rumah karena atap asbes yang bocor, mereka selalu cemas dengan nyamuk-nyamuk yang ‘menginap’ di rumah Anda.

Apalagi tiga bulan lalu, tak sengaja seorang warga mendapati ular sebesar pergelangan tangan sedang menyelinap memasuki rumah Anda. Pasti Anda tidak sedang ingin memelihara ular bukan? Kesaksian melihat ular semacam itu ternyata sudah mereka alami hingga lima kali berturut-turut. Mereka khawatir di lingkungan tempat mereka tinggal ada ‘tamu’ yang tidak diinginkan, dan sedang menginap di rumah Anda. Pernah mereka syok ketika ular itu mulai berani masuk ke dalam rumah seorang warga. Persisnya di waktu senja ketika orang-orang sedang berkumpul di rumahnya masing-masing. Tiba-tiba suara teriakan terdengar nyaring. Satu-persatu orang-orang mencari asal suara itu. Setelah ditanyakan kepada orang tersebut, tenyata saat ia ingin menidurkan bayinya di kamar, ia tak sengaja melihat ke bagian atas rumahnya yang tak berplafon, di sana ada seekor ular yang sedang menggelantung. Tapi kemudian ular itu berhasil lolos sebelum orang-orang kembali membawa segala macam perlengkapan untuk menangkap ular yang tak tahu kemana arah persembunyiannya. Semoga saja tidak di rumah yang Anda tinggalkan itu. Jika di sana, saya khawatir suatu saat ketika Anda datang, ular itu ada di balik pintu dan merasa terganggu. Berhati-hatilah seperti warga yang selama ini selalu berhati-hati ketika sudi menebasi rumput-rumput di sekitar rumah Anda. O, iya. Ngomong-ngomong, kapan Anda akan datang? [ ]

Iklan

Entry filed under: Umum. Tags: , .

Akh, banyak juga yang harus kuingat Kisi-Kisi Teknis Penilaian Finalis Blog Competition Telkom Speedy Kalsel 2008

3 Komentar Add your own

  • 1. Nanoq da Kansas  |  2 Juni, 2008 pukul 9:45 am

    Terima kasih telah berkunjung ke blogku. Aku senang membaca tulisan-tulisan anda, tetapi aku belum sempat membaca banyak. Aku harap kita sering bisa berkomunikasi.

    Balas
  • 2. Mahmud  |  3 Juni, 2008 pukul 11:37 am

    Ya, aku setuju dengan pendapat mas Hari soal rumah dan penghuninya itu. Bagaimana soal toksinnya? Sudah dikeluarkan ‘kan? Ah, aku penasaran ingin melihat seberapa banyak toksin yang sudah keluar. Jangan sungkan berkunjung dilamanku…! Nah, kanapa jadi pakai bahasa Indonesia ulun. Padahal biasaya kita pakai bahasa Banjar ja mun bapanderan. He he he…he.

    Balas
  • 3. Pakacil  |  3 Juni, 2008 pukul 7:09 pm

    nasib kita kok ya mirip Om…
    situ di samping, sini di seberang
    tapi untungnya di sini, sodara yang punya rumah kerap datang membersihkan, jadinya tidak terlalu menyeramkan 😦

    bagaimana kalau minta ketua RT nya menghubungi pemilik, dari pada kosong, lebih baik digunakan jadi tempat pertemuan warga saja kalau ada rapat RT dan sejenisnya…
    🙂

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,167 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: