Akh, banyak juga yang harus kuingat

26 Mei, 2008 at 5:29 pm 11 komentar


Catatan: Aku sedang berusaha melawan lupa!

Setiap kali menyaksikan seseorang berlatih teater, maka satu hal yang paling saya sukai adalah ketika instruktur meminta peserta untuk memejamkan mata lalu mengingat semua yang sudah dialami oleh masing-masing peserta. Bagi saya, itu adalah sebuah proses untuk belajar melawan lupa, sekaligus berlatih untuk mengingat sebuah peristiwa yang sangat dibutuhkan seorang aktor ketika harus memerankan kejadian yang serupa. Karena saya bukan aktor, jika malam ini saya melakukan seperti hal di atas, anggaplah saya sedang belajar menceritakan tentang beberapa kejadian yang saya alami sejak tadi pagi hingga malam ini. Jika saya berhasil menceritakannya dengan lancar, maka saya dapat melihat sebuah alur kehidupan saya pribadi. Apakah biasa-biasa saja, terlalu biasa atau begitu-begitu saja.

Tadi pagi saya bangun telat satu jam dari yang direncanakan pada malam sebelumnya. Itu semua disebabkan karena saya ngotot sambil melototi layar komputer yang di sana sedang diputar film DVD kartun kesukaan saya. Avatar The Last Airbender. Karena banyak sekali episode yang harus saya tonton semua, akibatnya sebuah janji untuk menjemput Arsyad Indradi di rumahnya menjadi berantakan.

Apa yang saya cemaskan terjadi juga. Saya datang terlambat. Arsyad Indradi sudah berangkat duluan. Padahal pagi tadi rencananya kami berdua akan berangkat bersama ke Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar dalam rangka menjadi juri lomba cerpen dan puisi. Akhirnya saya berangkat sendirian dan berharap semuanya tidak terlambat. Kadangkala saya berpikir, ada kalanya sebuah acara itu berjalan sesuai waktu yang sudah dijadwalkan. Tapi saya selalu dimanjakan tentang sebuah kebiasaan banyak orang, sehingga saya tidak perlu cemas. Pasti acaranya juga tidak tepat waktu. Ups…saya lupa. Sebenarnya saya tidak tahu jam berapa acara lomba akan dimulai karena selain saya tidak diberitahu, bodohnya lagi saya juga lupa menanyakan jam berapa lomba itu akan dimulai. Jadi, lupakan saja tentang kalimat-kalimat yang terlanjur saya tulis ‘tidak tepat waktu’. Maaf, saya lebih merasa nyaman begini daripada saya harus mendeletenya. Bukankah itu sangat biasa terjadi bagi setiap orang yang menggunakan komputer?

Sesampainya di dinas pendidikan kab. Banjar. Kerumunan orang-orang memberikan isyarat bahwa kesalahan saya hanya satu saja. Terlambat menjemput Arsyad Indradi, tapi tidak kepada acaranya. Ternyata benar, lomba baru akan dimulai dan yang paling penting harus saya lakukan adalah meminta maaf kepada Arsyad Indradi. Ups…ternyata itu tidak saya lakukan. Saya hanya menyapa dan menanyakan di mana peserta lomba akan ditempatkan. Arsyad Indradi kemudian langsung mengantarkan saya ke lantai bagian atas aula Dinas Pendidikan kab. Banjar. Selama saya menemani peserta, di lantai bawah- Arsyad Indradi juga sedang sibuk menyiapkan lomba menari. Memang dinas pendidikan memfokuskan banyak acara di hari ini. Seperti lomba lukis, kerajinan tangan, menyanyi, puitisasi Al-Quran dan lain sebagainya. Kata Arsyad Indradi, ini dilakukan sebagai persiapan mencari duta-duta kab. Banjar yang akan diikutkan dalam Pekan Olah Raga dan Seni. Jadi para pemenang tingkat kabupaten akan diseleksi kembali dengan peserta dari daerah-daerah lain di Kalsel. Kemudian akan dikirim sebagai duta Kalsel ke tingkat Nasional.

Sampai acara selesai dan saya kembali pulang ke rumah, tidak lama kemudian, sekitar tiga puluh menit, handphone saya memberikan tanda ada seseorang di sana yang sengaja menghubungi saya. Layarnya menjadi hijau, dari speakernya terdengar nada-nada yang mampu menyita perhatian saya. Ternyata dari Amed. Dia menanyakan soal koneksi inernet dial up. Kebetulan saya lama tidak bertemu dengannya. Dalam waktu singkat saya membuat keputusan untuk berkunjung ke rumahnya. Selama di rumah Amed, duduk di beranda rumahnya yang sejuk, saya pencet-pencet handphone dan berusaha mengirimkan sinyal kepada handphone yang dimiliki Pakacil. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan handphonenya, apakah setelah dua sinyal saling bertemu, warna layar handphonenya menjadi merah jambu? Akh, saya rasa itu berlebihan.

Sambil ngobrol dengan Pakacil, Amed sebagai tuan rumah yang baik membawakan dua gelas berisi air teh yang menambah kesejukan sore itu di beranda rumahnya. Obrolan saya dengan Pakacil berbuah undangan yang bisa saya bayangkan akan terjadi hal yang menyenangkan antara kami bertiga. Pakacil, Amed dan saya. Untunglah Amed tidak keberatan saya ajak untuk bertemu dengan Pakacil di rumahnya. Semula Pakacil menawarkan bertemu di lapangan Murjani sambil menikmati seduhan teh poci. Berhubung penjualnya baru akan membuka dagangannya, Pakacil mengajak kami melintasi jalan-jalan Panglima Batur, belok ke arah Jalan Pinus dan singgah di sebuah rumah yang di depannya berdiri kokoh pohon pinang. Disitulah markas Pakacil selama ini. Setelah ngobrol, Pakacil menawarkan sesuatu yang sudah saya tunggu-tunggu selama ini. Traktir makan. Saya lupa nama rumah makan tempat Pakacil menservis saya dan Amed. Tapi yang jelas makananya sangat enak. Puas, puas, puasss.

Berhubung saya baru terima SMS kalau Arsyad Indradi sedang menunggu di rumah saya, maka pulang dari rumah makan itu kami saling menuju sarang kami masing-masing alias SMP (Selesai Makan Pulang). Saya antar Amed ke rumahnya dan bergegas menemui Arsyad Indradi. Kami berdua harus menyelesaikan tugas penjurian lomba puisi dan cerpen yang tadi pagi belum selesai. Setelah semuanya beres, mendapatkan pemenang, rencananya malam ini juga kami berdua akan menemui seorang tamu dari jauh di rumah makan Swarga. Sebelumnya saya tidak pernah bertemu dengan tamu yang akan kami temui kali ini. Kecuali lewat blog dan tulisan-tulisannya di media cetak nasional dan tabloid Parle yang ia kelola selama ini. Kurnia Effendi, nama si tamu itu. Ia datang bersama seorang teman yang sampai malam ini namanya masih menjadi tanda tanya.

Setelah memesan makanan, memilih meja, masih ada satu lagi yang harus saya perkenalkan namanya dengan sebaik mungkin. Beliau adalah Sirajul Huda, seorang tokoh teater dan tari tradisi. Terakhir beliau menjabat sebagai kepala Museum Lambung Mangkurat. Saat ini Sirajul Huda sedang menikmati masa pensiunnya dengan menggerakan aktifitas kesenian di Banjarbaru. Berlima kami membicarakan tentang apa saja yang melintas di kepala kami. Mulai soal blog, komputer, buku, kesenian, lukisan, komunitas seni, juga tentang kesibukan Kurnia Effendi yang ia sendiri katakan sedang melakukan ‘subsidi silang’. Sambil berkesenian, menulis buku, ia juga menekuni bisnis yang bagi saya cukup hebat. Saya tidak harus mengatakannya dengan gamblang, tapi kata kuncinya adalah ‘suzuki’, silakan tebak sendiri.

Setelah saling cukup lama saling bertukar pengalaman dan saya juga sudah memberikan tanda mata berupa buku kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan, maka sampailah pada perpisahan yang selalu menjadi awal sebuah kenangan. Malam itu, kami masing-masing kembali ke rumah. Malam telah larut. Dingin juga telah melumuri tulang. Di perjalanan, handphone saya bergetar. Rupanya Sandi Firly sudah di rumah saya dan sedang menunggu. Di depan beranda rumah saya yang mungil, kami lanjutkan persiapan-persiapan yang harus kami kerjakan dalam waktu dekat ini. Ya, kami telah menyewa sebuah tempat yang cukup nyaman di kota Banjarbaru ini, persisnya di samping museum Banjarbaru, untuk disulap menjadi BookCafe. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan buku-buku dan setiap orang boleh datang ke sana sambil bersantai dan menyeruput capucino atau apa saja yang bisa kami buat selama itu tidak beracun tentunya. Maka silakan bertandang jika berkenan.

Sepertinya, saya telah sampai pada penghujung cerita. Mata saya juga mulai perih. Ternyata banyak sekali yang harus saya ceritakan dalam satu hari ini. Dan saya yakin itu masih sebagiannya saja. Banyak hal yang saya sadari betapa banyak kesalahan setelah saya tuliskan di sini. Salah satunya ketika Kurnia Effendi meminta agar saya membubuhkan tanda tangan di buku Perempuan yang Memburu Hujan, di situ tertulis tanggal 27 Mei 2008. Jika cerita ini terus saya lanjutkan, maka tak akan ada habisnya. Benar apa yang sudah dikatakan dalam buku Musashi karya Eiji Yoshikawa. Di sana ada tertulis kalimat yang jika tak salah ingat, begini katanya:

“…Kita selalu saja bisa menceritakan banyak hal tentang masa lalu tapi kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.” [ ]

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , , , , , , .

Ayo Menulis Novel! Memberi suara untuk rumah-rumah yang ditinggalkan

11 Komentar Add your own

  • 1. Pakacil  |  26 Mei, 2008 pukul 8:10 pm

    whuahahaha….
    bocor juga ternyata ke sini, anggap aja itu gantinya soto.
    hehehe…
    jangan ungkit² soal porsi makan lah !
    😀

    Balas
  • 2. ManusiaSuper  |  27 Mei, 2008 pukul 12:31 am

    Kurnia Effendi sudah datang tokh? Kata mina mave baru jumat depan… Padahal mau minta tanda tangan,,,

    Balas
  • 3. Amed  |  27 Mei, 2008 pukul 12:48 am

    *membaca tag-tag-nya…*
    Busyet Mas, nama saya dijadiin tag juga? Hwehehe…

    BTW, makasih banyak atas settingan koneksi starone-nya yaa. Hasilnya fantastis, komputer saya langsung dianeksasi istri sampe jam 12 malam…

    Balas
  • 4. Amed  |  27 Mei, 2008 pukul 12:51 am

    Oh iya, makasih juga buat Pakacil atas suguhannya yang membuat perut saya semakin gembul… kapan-kapan boleh deh traktir lagi :mrgreen:

    Balas
  • 5. mina  |  27 Mei, 2008 pukul 5:48 am

    ah mansup, baca lagi dong yang jelas sms-ku…
    tadi pagi aku sempat ketemu dengan Kef 1 jam dari jam 7 pagi hehehe… dia juga yang mau jam segitu, tadi malam aku diajakin males, udah capek banget karena pulang malem dari banjarbaru. dia menunjukkan padaku bukumu Har 🙂
    tentu saja aku juga minta tanda tangan di buku karya Kef yang “Burung Kolibri Merah Dadu”. buseeeet, tulisan di atas tanda tangannya romantis banget :p
    ups, Kef berkunjung ke blog ini gak yah :p

    Balas
  • 6. Dolphin  |  27 Mei, 2008 pukul 7:06 am

    Tentang book cafe aja deh yang aku tunggu aksinya … 🙂

    Balas
  • 7. indra1082  |  30 Mei, 2008 pukul 3:18 am

    Harus selalu ingat… semakin sering mengingat, semakin tajam ingatan kita..Amin……

    Balas
  • […] *Note: Ini posting pertama yang saya kirimkan dari rumah… Berhubung sekarang saya sudah bisa menggunakan Nokia 2280i sebagai modem, dan “Kartu Giring” Paskabayar saya yang tidak bisa time-based sebagai penyedot pulsa. Thanks to Mr Harie atas bantuan settingan GPRS-nya.* […]

    Balas
  • 9. SHALEH  |  30 Mei, 2008 pukul 1:20 pm

    Lupa juga tak apa2 bukankah manusia tempatnya khilaf namun memang kita harus berusaha untuk terus mengingat terutama pada sang Pencipta.

    Balas
  • 10. ahsani taqwiem  |  31 Mei, 2008 pukul 2:02 am

    ,,, bang, kalo tempatnya sudah jadi kabari saya, ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, tentang setting HP buat dial di labtop?ajari lun… he. atau pian butuh pegawai buat jaga tuh tempat, saya siap :-B
    hehe, tapi yang pasti pengen kenal langsung aza,

    Balas
  • 11. zulfaisalputera  |  31 Mei, 2008 pukul 12:52 pm

    Yang menarik tentang Book Cafe-nya.
    Selalu ada usaha untuk membangun kecerdasan!

    Aku tunggu!

    Tabik!

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 289,229 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: