Maaf, Indonesia tidak sedang baik-baik saja

21 Mei, 2008 at 2:42 pm 2 komentar


catatan: Apakah penghargaan (nilai jual) terhadap karya seniman dapat dijadikan ramalan situasi politik, ekonomi, maupun sosial negeri kita ini?

Seorang pelukis tinggal di Yogya pernah mengatakan kepada saya apabila lukisan-lukisan mulai ‘dilahap’ oleh masyarakat luas, berarti hal-hal lain seperti lapangan pekerjaan, perangkat hukum, pendidikan yang ada di negara ini sudah beres. Sengaja saya tidak menyebutkan nama pelukis tersebut, karena demi menjaga privasi dan karena saya juga tidak mengatakan bahwa hasil perbincangan kami akan saya tulis di blog, maka nama pelukis tersebut tidak saya cantumkan di sini.

Saat itu kami membicarakan tentang lukisan-lukisan yang beberapa tahun terakhir ini mulai booming di pasaran. Bagi saya, harga sebuah lukisan karya Pelukis Indonesia akhir-akhir ini cukup fantastis. Ada yang berkisar hingga 750 s/d 900 juta, bahkan lebih. Minimal harga lukisan-lukisan yang masuk dalam lelang paling rendah seharga 3 juta rupiah. Semua harga itu saya ketahui lewat katalog lukisan peserta lelang. Dengan harga yang menggiurkan itu, seperti yang dikatakan si pelukis, karena adanya permintaan pasar yang terus meningkat maka kini banyak pelukis yang tinggal di Yogya berusaha memenuhi permintaan pasar tersebut.

Namun ada satu pemikiran yang sangat menarik ketika pelukis itu menceritakan fenomena lukisan yang saat ‘laris manis’ di pasaran. “Jika produk kesenian saja sudah mulai dilahap oleh masyarakat, berarti masalah di negara ini sudah beres.”

Jika karya seni diukur menggunakan hukum-hukum ekonomi, tentu saja apa yang dikatakan pelukis itu ada benarnya. Bagaimana mungkin seseorang akan membeli lukisan jika urusan perut saja tak terselesaikan?

Namun jika ternyata lukisan memiliki harga yang fantastis, apakah bisa dikatakan bahwa saat ini orang kaya di Indonesia semakin banyak, sehingga mampu menghargai sebuah lukisan dengan harga tinggi? Siapa saja orang-orang kaya itu?

Dengan menulis ini, bukan berarti saya adalah pengamat atau pemerhati seni rupa Indonesia. Saya hanya berusaha mencari relevansi antara fenomena harga lukisan dan kondisi Indonesia sekarang seperti yang dikatakan pelukis tersebut. Sebuah kenyataan bahwa larisnya lukisan tidak dapat dijadikan sebagai ‘ramalan’ bahwa Indonesia saat ini sedang baik-baik saja. Buktinya di saat-saat Hari Kebangkitan Nasional dan sesudahnya, Indonesia masih diwarnai aksi demo atas sikap pemerintah dalam menaikan harga BBM. Demikian juga koran dan televisi terus menyiarkan kasus korupsi yang kian merebak ditingkat elit pejabat. Belum lagi soal-soal pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Mengenai harga lukisan yang fantastis, tentu saja ada faktor lain sebagai pemicunya, dan tidak saling terkait dengan kondisi Indonesia sekarang. Saya lebih setuju apabila ‘Seharusnya kondisi negara Indonesia kian membaik seiring tingginya apresiasi masyarakat terhadap seni di Indonesia.”

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , .

Ketemu Taqi hingga diusir dari kampus UIN Anda serius ingin menulis novel?

2 Komentar Add your own

  • 1. warmorning  |  22 Mei, 2008 pukul 8:08 am

    yang tidak baik itu orangnya, negeri ini dari dulu baik-baik saja kok 🙂

    Balas
  • 2. suaramalam  |  5 November, 2008 pukul 5:25 am

    Penghargaan (bisa juga dibaca: harga) dari sebuah karya seni lukis Indonesia tidak lantas menggambarkan suasana ekonomi di Indonesia… Saya koq lebih suka menyebutnya “menggambarkan suasana budaya negeri ini”. Makin tinggi penghargaan terhadap seni lukis Indonesia, maka artinya makin tinggi budaya anak negeri ini diakui.

    Apresiasi seni lukis bebas lepas dari tapal batas suatu negara. Samasekali tidak aneh jika pada suatu masa nanti banyak lukisan karya anak bangsa berharga tinggi, padahal rakyatnya masih memikirkan urusan perut… dan juga berlaku sebaliknya, sangat wajar jika suatu masa nanti, Indonesia adalah negerinya orang-orang terkaya di dunia, namun tak ada satupun yang membeli sebuah karya seni lukis… budaya lebih menentukan apresiasi, bukan nilai mata uang, dan hijaunya mata-mata mereka.

    @warmworming: hi-hi-hi, kira-kira ya seperti itu deh… saya setuju.

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 289,229 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: