Ketemu Taqi hingga diusir dari kampus UIN

13 Mei, 2008 at 4:45 pm 10 komentar


Catatan: Buat Taqi dan Kiting, percayalah hari itu kita yang salah.

“Aq pake baju merah dibalut jaket,” tulisku lewat sms kepada Taqi setelah ia menawarkan untuk bertemu di kampusnya. Sebenarnya saya belum pernah ketemu dengan taqi dan juga tidak tahu siapa dirinya. Tapi kebetulan saat ini saya sedang berada di Yogya, maka tak salahnya jika menemui dingsanak Taqi di sana. Taqi adalah blogger Kalsel yang saat ini kuliah di Yogyakarta. Jika ia pulang ke Kalsel maka tujuannya adalah Kota Marabahan. (Sebentar, saya harus menerima Telpon dari Taqi).

“Di mana, Mas?”

“Sudah di kampus UIN, aku di samping fakultas syariah.”

“Oke. Saya ke sana.”

Setelah telpon di tutup. Tak lama kemudian Taqi datang. Entah apa yang ia pikirkan karena Taqi datang dengan cengar-cengir. Barangkali ia ingat semua komen di blog saya soal traktir makan yang sampai sekarang belum jelas siapa bakal donaturnya. Yetty atau Pakacil? Sementara di komen itu Taqi nyeletuk agar dirinya juga diajak serta. Tapi saya setuju jika Pakacil yang bijaksana dan jumawa itu ditunjuk sebagai donatur. Hehehe…tasarah sampiyan haja, ulun maasi pian-pian jua. Bakumpulan gin akur ja.

Nah, setelah bertemu Taqi, saya menawarkan untuk mencari sebuah tempat agar bisa enjoy ngobrolnya. Di Angkringan juga boleh, yang penting ada jual minum dan gorengan. Namun entah kenapa, Taqi menyarankan masuk ke dalam fakultasnya saja, karena di situ ada tempat duduk yang nyaman. Oke…kau tuan rumahnya, Taqi. O, ya. Saya menemui Taqi tidak sendirian, tapi berdua dengan Kiting, anak Salatiga yang juga kuliah di Yogya dan di kosnya itulah saya biasa menitipkan tubuh saya agar mendapatkan fasilitas peristirahatan yang segratis-gratisnya. Mandi gratis, cuci baju gratis dan juga nginap gratis. Barangkali tidak perlu saya ceritakan siapa Kiting dan bagaimana perkenalan saya dengannya. Next time, ok!

Universitas Islam Negeri (UIN) dulunya sebuah institut yang bernama IAIN Sunan Kalijaga, kemudian berkembang menjadi universitas. Ada tujuh fakultas yang boleh dibilang menjadi kebanggaan UIN sekarang ini, ketujuh fakultas tersebut dibagi menjadi dua, yakni agama dan umum. Di antaranya ialah, Fakultas Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah, Ushuluddin, Sains dan Teknologi, dan Ilmu Sosial dan Humaniora.

Kembali lagi mengenai pertemuan saya dan Taqi. Setelah ngobrol tentang blog dan perkembangan lomba Telkom Speedy Competition di Kalimantan Selatan, Taqi mengusulkan untuk berpindah tempat, tapi masih tetap di wilayah kampus UIN. Jika tadi kami berada di Fakultas Syariah yang letaknya bersisian dengan Fakultas Tarbiyah, maka tempat untuk santai selanjutnya adalah di fakultas Sains dan Teknologi. Alasan Taqi memilih tempat itu karena di sana ada lokasi hotspot dan kebetulan Taqi membawa notebooknya. Baru beberapa menit, (anggaplah tidak sampai habis rokok sebatang) tiba-tiba kami dikejutkan oleh teguran seseorang. Ia menatap kami bertiga dengan wajah yang kaku, tanpa senyum ramah khas Yogya.

“Kalian siapa?” tanya orang itu.

Saya hanya diam. Pertanyaan itu sebaiknya dijawab oleh kedua teman saya, Kiting dan Taqi, melihat kapasitas mereka yang juga kuliah di UIN.

“Ada, Pak?” tanya Kiting.

“Kamu anak Tarbiyah, ya?”

“Bukan. Saya hanya menemani mereka,” tunjuk Kiting kepada saya dan Taqi. Tapi orang itu sepertinya tidak peduli.

“Apa kalian tidak tahu kalau di kampus ini dilarang menggunakan sandal dan kaos oblong?” tanya orang itu lagi.

Memang saya dan Kiting saat itu mengenakan kaos oblong plus sandal jepit. Tapi bukankah Kiting sedang tidak mengikuti mata kuliah, apalagi saya, hanya ingin menemui saudara se banua yang selama ini hanya tegur sapa lewat internet? Orang tadi kemudian menunjuk ke arah dinding.

“Apa kalian tidak membaca tulisan di sana?”

“Tulisan apa, Pak? Tanya Kiting lagi. Saya mulai tidak enak. Dengan kata lain, orang itu menginginkan kami pergi. Dengan isyarat mata dan menggoyangkan lengan, saya ajak Kiting pergi dari tempat itu.

“Kalau begitu kami pergi saja sekarang,” Kiting bersiap-siap untuk keluar dari fakultas tersebut dan saya langsung mengikuti langkahnya untuk keluar sesegera mungkin tanpa memedulikan Taqi yang sibuk mematikan notebooknya.

Sambil berjalan, terdengar Kiting ngedumel. “Gimana kampus mau maju kalau caranya saja seperti itu,” kata Kiting. Tapi saya tidak ingin Kiting berpikir semacam itu tentang kampusnya. “Barangkali, itulah sebuah kemajuan. Berani dan konsisten untuk menindak tegas setiap orang yang tidak mengikuti aturan main di kampus. Daripada hanya sekadar menjadi aturan dan tidak dijalankan atau yang lebih payah lagi, dilanggar sendiri, itu justru menjadi kemunduran sebuah kampus.

Kiting tidak menjawab, tapi terlihat sekali wajahnya masam. Di luar, kami menunggu Taqi. Setelah itu mencari tongkrongan baru, yang kali ini harus ada aktifitas jual beli penghapus dahaga di kerongkongan (maksudnya; minum gitu loh). Setidaknya dengan air dingin dan sedikit gorengan, kami bertiga bisa melupakan kejadian yang baru saja menimpa kami. Diusir dari kampus UIN karena kesalahan kami sendiri. Hehehe…”Hayo, Taqi. Kau ingin komentar apa?”[ ]

Entry filed under: Umum. Tags: , .

BOTD (TOP POST): Norak Deh… Maaf, Indonesia tidak sedang baik-baik saja

10 Komentar Add your own

  • 1. taqi  |  13 Mei, 2008 pukul 5:03 pm

    saya tetap percaya kita tidak salah mas…*ngeyel mode on*..haha..
    sayang ngga ada skrinsut nya..traktiran tadi baru DP nya mas ya..belum yang pokoknya wakakaka…btw senang ketemu sampian..

    Balas
  • 2. harie insani putra  |  13 Mei, 2008 pukul 5:08 pm

    To: Taqi
    dasar ngeyel…hmm…enak aja DP. Kau mintalah kepada si Pakacil. Ngenet di mana neh? jangan2 kita satu atap.

    Balas
  • 3. Pakacil  |  13 Mei, 2008 pukul 6:04 pm

    whuahahahaha… *mode ketawa raksasa tapi anaknya : on*
    sendal jepit yang bawa perkara ternyata, padahal sendal jepit adalah salah satu parameter kemajuan.
    Bayangkan, jika kita tengah mengenakan sendal jepit, lantas kita berjalan mundur tentu saja sendal jepit itu akan ikut bergerak mundur, bukankah konyol kalau kita katakan tengah bergerak maju?
    *mode analogi maksa: on*

    pantesan aku kasadakan tarus, sakalinya masih bahualan sual sumalam lah, … hahahaha….

    Balas
  • 4. amsa  |  14 Mei, 2008 pukul 1:51 pm

    Hehehe..kapan2 kalo ketemu Kiting tak ingatkan soal “kasus” ini..memalukan almamater..hehehehe

    Balas
  • 5. pajrin  |  14 Mei, 2008 pukul 3:13 pm

    taqi kamarabahan mandatangi bini aja kah? kawan kada di herani nya lagi te…wekwkekwek

    Balas
  • 6. annmolly  |  16 Mei, 2008 pukul 1:04 am

    kita kapan yach bisa ketemunya mas heri?

    Balas
  • 7. harie insani putra  |  16 Mei, 2008 pukul 2:20 pm

    TO: Pakacil
    Hahaha….

    To: Amsa
    Hehehe…

    To: Pajrin
    huhuhu…

    To: Anmolly
    hmm…

    Maaf, jika jawabannya tidak ada yang serius, tapi itu sengaja kok! hehehe….

    Balas
  • 8. ManusiaSuper  |  20 Mei, 2008 pukul 2:35 pm

    Ini Indonesia bung. Di mana semua kita dinilai dari apa yang bisa dilihat mata orang lain. Kamu pakai sandal jepit, maka kamu kotor. Kamu berdasi maka kamu hebat.

    Balas
  • 9. harie insani putra  |  21 Mei, 2008 pukul 1:18 am

    To : ManusiaSuper
    Indonesia is Verbalism

    Balas
  • 10. Zul ...  |  21 Mei, 2008 pukul 2:00 pm

    Sekali waktu memang perlu memahami mengapa orang-orang dulu membuat peribahasa ‘ di mana bumi dipijak, di situ bumi dijunjung’ dan perlu menyadari mengapa sampai ada peribahasa ‘lain lubuk lain ikannya’.

    Semoga selalu ada usaha untuk membaca situasi.

    Tabik!

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: