Tips Gila dari Toko Buku: Penulis Lokal, So What Gitu Loh?

3 Mei, 2008 at 4:44 pm 3 komentar


Pernah saya ngobrol panjang lebar dengan salah seorang pemilik toko buku di kota Banjarbaru. Berdasarkan pengalamannya, ia menyimpulkan apabila buku-buku karya penulis lokal (selanjutnya baca: Kalsel) ingin laku terjual maka jangan mencantumkan nama tempat yang memberikan informasi bahwa buku tersebut adalah karya penulis lokal. Bahkan gilanya lagi, tips gila ini juga berlaku bagi si penerbit. Jika penerbitnya juga lokal, sebaiknya menghindari hal-hal yang berbau lokal untuk ditampilkan di bagian depan atau belakang sampul.

Saat itu saya enggan mendebatnya, apalagi ia berbicara atas nama fakta. Si pemilik toko buku itu kemudian menceritakan bahwa pernah ada seseorang menuju kasir dengan membawa sebuah buku. Setelah menunjukkan buku yang akan dibelinya, ia melihat nama si penulis tercantum di belakang sampul lengkap dengan alamat si penerbit. Setelah itu ia langsung meralat bahwa tidak jadi membeli buku tersebut. Ketika kasir menanyakannya, pembeli itu langsung menjawab karena penulis dan penerbitnya adalah lokal.

Tapi bukankah itu terjadi hanya satu kali saja dan seharusnya jangan dijadikan patokan?

Memang, si pemilik toko buku mengakui bahwa peristiwa di kasir itu hanya terjadi satu kali. Namun dalam setiap bulan, ia selalu menemukan fakta bahwa buku yang tidak mencantumkan sesuatu yang memiliki unsur lokal, maka tetap akan ada transaksi pembelian meski ditulis dan diterbitkan oleh orang lokal.

Jika memang yang terjadi demikian, lantas apa masalah sebenarnya? Apakah penulis lokal itu karyanya jelek? Apakah penerbit lokal tidak bisa menjaga kualitas buku yang diterbitkannya?

Bagi saya, tips si pemilik toko buku itu sangat gila. Atau sebenarnya si pembeli itu yang gila karena menjadi penyebab si pemilik toko buku bisa memberikan tips semacam itu? Tapi saya yakin, kasus ini semacam penyakit belaka, tidak setiap orang beranggapan hal yang sama. Penyakit yang saya maksud adalah ‘made in’ syndrom. Menganggap segala sesuatu yang nasional atau internasional itu lebih bagus dan berkualitas. Orang-orang semacam ini adalah jenis ‘penggila’ merk. Dan tak heran jika orang-orang semacam ini juga mudah tertipu jika membeli barang. Bukankah saat ini banyak jasa yang khusus melayani pembuatan merk tiruan? [ ]

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , .

Blog Clinic & Blog Writing, Sebuah Tawaran untuk Panitia Telkom Speedy Competition Hasil Rapat dengan Panitia Telkom Speedy Competition

3 Komentar Add your own

  • 1. Pakacil  |  4 Mei, 2008 pukul 3:51 pm

    Bagiku, tips dari penjual itu adalah tips yg brilian, karena ia meninjau dari sudut strategi marketing.

    Kebetulan aku kerap menemukan berbagai kasus yang sejenis, sama² berkutat pada masalah local syndrome *halaaah.. istilah apalagi ini…* namun pada kasus yang berbeda.

    Namun seringkali cara pandang semacam itu lahir dari seseorang yang tidak berpikiran terbuka.
    Sudah sering ku dengar.. “bah! urang kita jua…”

    Tentu saja hal ini amat sangat negatif dan perlu proses untuk merubah sesuatu yang menjadi mind set, bahkan mungkin perlu proses yang sangat panjang.

    Balas
  • 2. Arsyad Indradi  |  8 Mei, 2008 pukul 7:12 pm

    Sebenarnya prinsip marketing itu harus untung. Apakah buku-buku itu penulisnya lokal atau non lokal, penerbit lokal atau penerbit non lokal. Yang penting buku laris terjual. Toko buku yang baik,ia pandai memilih dan menyediakan buku yang banyak diminati atau siap memenuhi pesanan dari si pembeli.Biasanya buku yang dibeli oleh si pembeli itu adalah yang menyangkut keperluan pembelinya. Misalnya sains, teknologi, bahasa, kesastraan, kebudayaan, dan lain-lain. Hemat saya bila ada toko buku yang mengambil kesimpulan seperti itu, sungguh keliru. Perlu diingat tidak jarang penulis lokal adalah saintis terkenal,sastrawan terkemuka dll. Perlu diingat pula justeru buku-buku yang bermuatan lokal seperti kamus bahasa daerah, buku-buku pelarjaan muatan lokal banyak dicari orang.

    Balas
  • 3. harie insani putra  |  9 Mei, 2008 pukul 10:19 am

    To Pakacil & Arsyad Indradi:

    Wah…ada 2 org jago pemasaran neh…

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 289,229 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: