Cempaka, Enam Bulan Kemudian?

30 April, 2008 at 3:01 pm 4 komentar


Harie Insani PutraApa yang terbayang tatkala kita ingin membicarakan tentang Cempaka?

Kemarin, 24 April 2008, saya bersama teman-teman datang ke sana untuk menyaksikan kembali penggalian intan di lokasi tersebut. Sampai di sana, saya memilih duduk di atas tumpukan batu kali. Senang rasanya bisa melihat segala aktifitas mereka. Ada yang mencari intan dengan alat lenggangan (tradisional) dan juga mesin sedot (modern). Sementara di balik rerimbun semak di ujung sana, ada beberapa anak kecil yang sedang mandi sekaligus bermain di dalam kubangan air bekas galian.

Kata para penggali intan itu, lokasi yang mereka gunakan sudah sering dikunjungi orang. Mereka datang dengan tujuan masing-masing. Ada yang sekadar ingin melihat langsung bagaimana orang mencari intan atau sekadar ingin mengabadikan kehadiran mereka lewat photo. Tapi ada juga yang jauh-jauh datang untuk melakukan penelitian terhadap aktifitas mereka. Begitulah, banyak alasan mengapa orang-orang ingin datang ke Cempaka. Seperti halnya kedatangan kami, khususnya saya, tak lebih hanya sekadar ingin melihat aktifitas keseharian mereka.

Enam bulan lalu, saya juga pernah datang ke sana. Rentang waktu itu bagi saya sangat cukup jika sekadar ingin membayangkan Cempaka dalam sepuluh atau dua puluh tahun kemudian. Apakah ada kemungkinan kelak Cempaka akan direpotkan oleh banjir?

Betapa tidak, enam bulan lalu saya berdiri di sebuah jalan yang sekarang ini masih ada di lokasi tersebut. Dari jalan itu saya leluasa melihat aktifitas mereka dari kejauhan. Namun kemarin, ketika saya kembali berdiri di jalan itu, demikian cepat perubahan yang terjadi. Jarak antara aktifitas penggalian dengan tempat saya berdiri menjadi sangat dekat. Dataran tanah yang dulu menjadi jarak, sudah habis tergali. Dalam hati timbul pertanyaan, “Apa yang terjadi jika enam bulan ke depan saya kembali datang ke lokasi penggalian intan ini?” Jangan-jangan saya tidak menemukan jalan itu lagi karena mereka memutuskan untuk menggalinya juga.

Apa pun bisa terjadi enam bulan ke depan. Apakah jalan itu juga akan mereka gali atau tidak, yang jelas akan selalu ada perubahan di sana. Dulu, saya pernah melihat anak-anak kecil yang juga ikut mencari intan. Tapi kali ini justru sebaliknya. Saya melihat dua orang perempuan tua (baca: nenek-nenek) sedang bekerja. Mereka berdua tidak sedang mencari intan tapi sedang mengumpulkan pasir. Setiap hari selalu saja ada truk-truk datang ke lokasi untuk membeli pasir yang mereka kumpulkan.

Inilah yang kadangkala membuat saya tidak sepakat dengan apa yang sedang saya pikirkan. Di satu sisi, saya mengkhawatirkan akibat pengrusakan alam di sana, di sisi lain, begitu banyak orang yang bergantung hidup dari lokasi penggalian intan tersebut.

Penggalian intan di Cempaka boleh saja menjadi obyek pariwisata. Toh, banyak orang tertarik untuk datang ke sana dan warga setempat juga telah menyadari bahwa itu adalah kesempatan untuk menjajakan batu permata kepada orang-orang yang datang. Penggalian intan tersebut boleh jadi berakibat fatal bagi Cempaka, toh galian-galian tanah di sana telah menjadi kubangan air. Penggalian intan itu mungkin juga satu-satunya tradisi untuk memenuhi kehidupan mereka, toh dari tahun ke tahun, mereka tetap memilih bekerja sebagai penggali intan. Dari tiga kemungkinan ini, apakah tidak ada suatu alternatif yang bisa saling menguntungkan? Pun jika ada salah satu yang harus dikorbankan, itu tidak merugikan warga Cempaka dalam masalah penghidupan. Saya tidak tahu dan hanya bisa melamun di atas tumpukan batu sambil mendengar bising suara mesin. Sesekali saya akan memandang jauh ke bawah sana, tempat para penggali intan itu menancapkan saluran-saluran pipa.

Saat ini saya ingin berhitung tentang berapa intan yang sudah mereka dapatkan. Apakah hasilnya setimpal dengan akibat yang mungkin kelak akan ditimbulkan? Atau adakah sedikit hasil dari intan-intan itu untuk memperbaiki kondisi alam di sana? Akh, betapa piciknya pikiran saya. Seandainya tak sengaja saya menemukan intan ketika berada di sana, apakah saya juga akan berpikir untuk menyisihkan hasil penjualannya untuk membeli seratus batang pohon untuk ditanam? [ ]

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , , , , , , .

Sekadar Nampang, Bisa Goyang Trafik Peduli ‘Hudan Nur’

4 Komentar Add your own

  • 1. asukowe  |  1 Mei, 2008 pukul 2:16 am

    Wogh… apakah penggalian semacam itu di legalkan oleh pemerintah setempat ?

    Balas
  • 2. TAMBAL BAN-jarbaru  |  5 Mei, 2008 pukul 5:00 pm

    kalo dapat intan…rancaki ja bejalan ke cempaka..hehehe

    Balas
  • 3. ana  |  14 Mei, 2008 pukul 12:34 am

    kaya lagi pank sebagian besar mata pencaharian mereka di cempaka adalah mendulang intan…..

    Balas
  • 4. mSr  |  13 September, 2008 pukul 7:45 pm

    Uey….ulun kwkh mnta data2 ttg perancangan museum intan….kbtulan tgs akhir ulun d program studi arsitektur museum intan…….

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,167 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: