Tukang Becak Itu Ingin Naik Helikopter

30 Maret, 2008 at 1:30 pm 6 komentar


(Cerita dari Seorang Tokoh Relawan Pohon)

Ahmad SyamsudinBeberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Ahmad Syamsudin (Syam). Dia seorang tukang becak yang telah mendapat sederetan penghargaan. Di antaranya dari Gubernur Kalsel, H. Rudy Ariffin Tepatnya 5 Juni 2007, Walikota Banjarmasin, H.A. Yudhi Wahyuni, 23 September 2006 dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi Kalsel, H. Rachmadi Kurdi, MSP, 5 Juni 2006. Penghargaan itu didasari atas penghijauan yang dilakukannya di kota Banjarmasin dan sekaligus peraih Abdi Persada Lingkungan 2007.

Selama menjadi ‘Relawan Pohon’ istilah yang digunakan Syam, ia sedikitpun tidak pernah berharap untuk mendapatkan penghargaan. Ia ikhlas melakukannya. Agar pekerjaan itu tidak diketahui orang banyak, Syam cenderung melakukan aktifitasnya sebagai Relawan Pohon di malam hari sambil bekerja menjadi tukang becak.

Jika kemudian ternyata diketahui orang banyak, kata Syam, “Itu semua karena ada wartawan yang mendapat informasi dari salah seorang penghulu di Banjarmasin.” Ceritanya saat itu Syam sedang berada di Kantor Urusan Agama (KUA) untuk membantu urusan pernikahan salah seorang tetangga di lingkungan tempatnya tinggal, Jl AES Nasution Gg. Pasar Rt. 16 Banjarmasin. Syam telah lama berteman dengan salah seorang penghulu di KUA tersebut. Selama di sana, mereka terlibat pembicaraan yang cukup lama. Saat ia ingin pergi meninggalkan KUA, saat itulah seorang wartawan menanyakan tentang jati dirinya. “Siapa itu, Pak. Kok kelihatannya serius?” tanya sang wartawan salah satu media cetak di Banjarmasin.

“Dia itu adalah orang yang selama ini menanami pepohonan di Banjarmasin dengan cara diam-diam,” jawab si penghulu. Dari situlah akhirnya segala aktfititas Syam sebagai Relawan Pohon diketahui publik melalui media cetak yang ujungnya meraih beberapa penghargaan atas kepeduliannya terhadap lingkungan kota Banjarmasin.

Selama ini dalam melaksanakan aktifitasnya, Syam mengandalkan uang hasil dari pekerjaan sebagai tukang becak. Setiap hari ia berusaha menyisihkan uang untuk keperluan. Mulai budidaya bibit, penanaman pohon hingga perawatan.

Selain sebagai tukang becak dan relawan pohon, Syam juga mengajar ilmu agama di salah satu pesantren di Banjarmasin. Tapi itu dilakukannya secara sukarela. “Saya tidak ingin dibayar,” ucapnya dengan tulus. Lantas apakah hanya bekerja sebagai tukang becak Syam bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari?

Syam mengaku bahwa manusia selalu tidak pernah cukup. Untuk menutupi segala kekurangannya, Syam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mencari langganan antar jemput anak-anak sekolah. “Dari situlah saya bisa menutupi kekurangan ekonomi rumah tangga saya,” terang Syam menceritakan perihal hidupnya. “Tapi jika ada kebutuhan yang mendesak dan jumlahnya cukup besar, kadang saya harus merelakan benda berharga yang saya miliki,” imbuh Syam. Salah satu contoh adalah sepeda motor yang ia miliki terpaksa harus dijual untuk membiayai pendidikan anak-anaknya di pondok pesantren.

Kini aktifitas Syam sebagai Relawan Pohon terbilang lumayan lancar. Ada beberapa orang yang mengijinkan tanahnya untuk digunakan sebagai lahan pembibitan. Ia juga menginvestasikan uang penghargaan yang diterimanya untuk dibelikan pupuk dalam jangka waktu satu tahun sekaligus. Bahkan ada seseorang yang meminjamkan mobil pick up untuk digunakan Syam membawa pohon-pohon yang akan ditanam. “Meskipun mobil itu lebih banyak mogoknya ketimbang jalan, saya tetap bersyukur atas bantuan tersebut,” tandasnya.

Saat ini Syam ingin sekali naik helikopter. Itulah rencana yang ia susun sejak bulan januari 2008 lalu. Namun hingga sekarang, rencananya itu belum terwujud. “Berhubung musim hujan, saya ingin langsung menebarkan bibit dari atas helikopter,” harapnya. Namun Syam tampaknya harus bersabar. Tidak satupun pihak yang sudah ia hubungi memberikan kepastian. “Bibit-bibit itu akan saya sebar khusus di wilayah pegunungan yang mulai gundul,” terangnya dengan antusias. “Mumpung musim hujan,” katanya. Kalau dilaksanakan pada musim kemarau, kecenderungan bibit untuk tumbuh sangat kecil,” imbuhnya lagi.

Meski belum ada jawaban dan kesediaan pihak-pihak yang dianggapnya mampu mengadakan helikopter, Syam tidak surut dalam beraktifitas. “Dalam waktu dekat saya akan menanam bibit di sekitar lapangan tenis dekat masjid Raya Sabilal Muhtadin.”

Dalam menentukan letak penanaman pohon, Syam dibilang cukup bertenggang rasa dengan para pedagang kaki lima. Setiap malam, ketika tidak ada seorangpun yang menggunakan jasa becaknya, Syam berkeliling di kota Banjarmasin. Ia mencari tempat-tempat yang belum tertanami pohon. Jika sudah menemukan lokasi yang tepat, ia menggunakan cat semprot untuk membuat tanda lokasi penanaman. Selama tiga hari, Syam akan memonitor tempat yang tadi ia beri tanda. Jika di situ tidak ditempati oleh pedagang kaki lima, maka Syam baru akan menggali lubang dan menancapkan pohon di sana. “Saya tidak ingin menganggu aktifitas para pedagang kaki lima. Saya khawatir jika mereka sudah merasa terganggu maka besar kemungkinan mereka juga akan mengganggu pohon yang saya tanam,” ucap Syam berharap caranya itu bisa mengurangi tingkat pengrusakan pohon yang tumbuh di kota Banjarmasin.

Soal pengrusakan, Syam menawarkan ide agar pemerintah kota (Pemko) Banjarmasin dengan segera membuat Peraturan Daerah (PERDA) yang mengatur khusus tentang penebangan pohon. Ia lihat, mudahnya pengrusakan terhadap pohon-pohon disebabkan karena Pemko Banjarmasin belum memiliki aturan yang jelas. “Selama ini Pemko Banjarmasin sekadar hanya memberikan himbauan kepada masyarakat. Sementara jika himbauan tersebut tidak diindahkan, tindakan apa yang akan diambil pemerintah?” ungkap Syam mengharap sekali agar Perda yang ia maksud bisa segera dilaksanakan dalam waktu dekat. [ ]

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , .

Guru, Murid dan Pelajaran Mengarang WORKSHOP PENYUTRADARAAN 2008

6 Komentar Add your own

  • 1. sandi  |  30 Maret, 2008 pukul 4:08 pm

    Usul, bagaimana kalau kita membentuk “Komunitas Relawan Pohon”. Dengan sendiri saja Pak Syamsudin menjadi “Relawan Pohon” sudah terlihat hebat, maka kalau banyak pasi akan menjadi dahsyat!

    “Hidup Pak Syamsudin….!” (seperti terdengar kampanye ya…?)

    Balas
  • 2. Dolphin  |  30 Maret, 2008 pukul 5:40 pm

    Lama berbenah dan hilang, akhirnya blog wordpress saya tak bikin serius ke hostingan dan domain yang enggak gratisan lagi.

    Salam sukses buat semua…
    Buat Bro Harrie kalau sempat link ke blok saya di ganti yang ini, soalnya sejak kemarin2 saya cuti mengunjungi blog saya yang : http://www.klinkdolphin.wordpress.com

    ttd Awank

    Balas
  • 3. Dolphin  |  30 Maret, 2008 pukul 5:40 pm

    http://www.dolphincyber.com

    Balas
  • 4. jhal  |  30 Maret, 2008 pukul 9:06 pm

    wah mulia sekali tuh hati sang tukang becak…
    tapi untuk para blogger semua dukung pernyataan disini http://bintang-terasing.co.cc/kami-blogger-bukan-hacker/

    Balas
  • 5. sapri MK  |  31 Maret, 2008 pukul 6:21 pm

    na…kita semua kaya sidin tu…itu musti jadi pegangan buat kita-kita, jangan hanya tahu tabang haja…ingat-ingat anak cucu, pacang kada tahu lagi keina pohon nangapa ini…
    wajar para bloger kita kaya sidin tu tapi kamana kita maminta bibit nya nang cagar di tanam????

    Balas
  • 6. JULAKLALI  |  2 April, 2008 pukul 4:00 pm

    Tukang beca…!!!???
    gawian bahari pang ni… tuhuk mangujak nyar dapat duit…hehe..

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,195 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: