Guru, Murid dan Pelajaran Mengarang

2 Maret, 2008 at 4:51 pm 13 komentar


Ada seorang guru mengaku bahwa ia kesulitan dalam mengajarkan sastra kepada muridnya. Pengakuan itu terjadi ketika saya ditunjuk memberikan materi dalam acara seminar pendidikan dengan tema sastra sebagai salah satu pilihan kegiatan pengembangan diri siswa di sekolah untuk berani tampil ke depan. Tepatnya 26 Februari 2008 lalu di Simpang Empat, Pengaron Kalsel.

Kesulitan yang dihadapi guru tersebut masih seputar teknis pengajaran. Bagaimana mengajarkan sastra kepada anak didik, khususnya dalam pelajaran mengarang di sekolah tingkat dasar (SD). Saya jadi ingat masa-masa ketika dulu sekolah. Setiap kali pelajaran mengarang, guru bahasa Indonesia cenderung memiliki kebiasaan yang sama. Usai memberikan teori yang ia baca dari buku paket, guru-guru itu lantas memberikan tugas mengarang. Minggu depan kemudian, hasil-hasil karangan itu dibagikan lengkap dengan nilai dan paraf dari guru-guru tersebut. Pelajaran mengarang pun selesai. Pelajaran mengarang pun segera ditinggalkan. Namun tak ada sesuatu yang bisa diingat bagaimana sebuah karangan itu bisa mendapat nilai delapan, tujuh atau enam?

Itulah yang menjadi permasalahan utama seorang guru bahasa Indonesia dan Sastra ketika memberikan penilaian hasil dari karangan anak didiknya. Bukankah nilai keberhasilan sebuah karangan tidak hanya karena tugas tersebut selesai dikerjakan? Tapi dari pengakuan guru tersebut, selama ia mengajar bahasa Indonesia dan Sastra, secara tidak langsung mengatakan bahwa itulah yang selama ini ia lakukan. Siapa yang selesai mengerjakan tugas mengarang tersebut maka ia layak mendapat nilai delapan. Jika anak didik membuat karangan yang cukup panjang, maka itulah nilai lebih untuk sebuah angka delapan jika ternyata semua anak didik menyelesaikan tugas yang telah diberikan. Artinya, mendapatkan nilai delapan (sebuah angka tertinggi dalam pelajaran mengarang) hanya sebatas menggunakan dua kriteria di atas. Mengerjakan tugas dan panjang-pendeknya tulisan.

Bagi orang lain, mungkin dua kriteria di atas dipandang sudah cukup. Apalagi untuk pengajaran sastra di lingkungan sekolah dasar. Sebuah tingkatan dimana anak didik dianggap tidak perlu diberikan tuntutan-tuntutan dalam belajar mengarang. (Akh, tidak juga.) Itu berlebihan. Setiap kali guru memberikan nilai, secara tidak langsung telah terjadi proses tuntutan di dalam sana. Bagaimana caranya mendapatkan nilai tertinggi dalam pelajaran mengarang? Padahal si guru tidak menjelaskan kriteria penilaian yang akan ia gunakan setelah memeriksa hasil karangan anak didiknya. Jika toh dijelaskan, dua kriteria yang tersebut di atas, pastilah semua anak didik akan berlomba-lomba membuat karangan yang puanjaaannnnnng sekali. Nah lo! Seisi kelas akan bertepuk tangan, karena semuaya mendapat nilai delapan. Tapi ada yang sedih karena beberapa orang di antaranya tetap mendapat nilai tujuh bahkan enam. Apakah secara mendadak si guru telah membuat kriteria yang baru dan bisakah kriteria itu dijelaskan agar anak didik yang malang itu bisa memahami kekurangannya?

Bicara soal penghargaan atas apa yang telah dilakukan seorang anak didik, contohnya dalam pelajaran mengarang, setiap guru tentu memiliki cara dan alasan masing-masing. Seorang guru bisa menghargai anak didiknya karena telah berani menuangkan idenya dalam bentuk karangan. Seorang guru bisa menghargai dengan cara memberi pujian kepada anak didik bahwa hasil karangannya cukup bagus. Tapi, bukankah berani dan bagus bukan sebuah nilai di buku-buku latihan dan raport? Nilai adalah tetap nilai. Delapan adalah delapan. Apakah bagus dan berani sama dengan nilai delapan? Lantas apakah semua anak didik akan mendapat pujian yang sama? Jika demikian, nilai delapan adalah nilai yang tidak jelas.

Saya cenderung setuju jika guru bahasa Indonesia dan Sastra berlaku jujur dalam hal pemberian nilai. Kriteria apa yang akan ia gunakan. Sama halnya dalam penjurian lomba baca puisi. Unsur-unsur penilaian lebih dulu diberitahukan. Karena baca puisi itu diucapkan, maka suara masuk dalam penilaian. Karena peserta dan juri saling bersitatap, maka ada gaya yang bisa dilihat untuk menentukan pemenang. Begitu seterusnya.  Dalam pelajaran mengarang, bukankah setiap guru memiliki buku pegangan (paket)? Tak ada kesulitan dalam memberikan nilai jika mengikuti buku pegangan tersebut. Bandingkan saja dengan hasil karangan anak didik. Dari situ guru bisa menjelaskan lebih dan kurangnya hasil karangan mereka. Bukan sekadar membubuhkan nilai dan tergesa-gesa membuka halaman baru dan pindah ke materi yang lain. Sementara, anak didik tidak mendapatkan pencerahan sedikitpun tentang hasil karangannya. Bagi saya, menghargai keberanian mereka saja dalam menuangkan ide dalam bentuk karangan itu belum cukup, karena keberanian itu dengan sendirinya akan mati bersama sikap guru yang tidak memiliki keberanian untuk mengembangkan bakat dan minat anak didiknya. Bukankah keberanian yang mereka miliki, toh hanya keberanian yang sia-sia belaka?

Lantas bagaimana agar bakat dan minat anak didik bisa tersalurkan dengan baik melalui pelajaran bahasa Indonesia dan Sastra?

Seorang guru bahasa Indonesia dan Sastra bisa menganjurkan untuk membuat majalah dinding (mading). Dengan kata lain, mading sama halnya perangkat pembelajaran sebuah peta yang dimiliki oleh guru IPS. Lewat mading karya-karya mereka akan dipajang. Guru diharapkan aktif untuk berperan serta dalam mading tersebut. Ambil salah satu karya yang menonjol dan berikan ulasan tentang kelebihan karya tersebut dibandingkan karya anak didik yang lain. Berjanjilah untuk selalu memberikan ulasan setiap kali ada karya-karya baru di mading tersebut. Peran serta guru adalah motivasi terbesar bagi murid. Berjanjilah dan tepati janji tersebut demi profesi Anda sebagai guru bahasa Indonesia dan Sastra yang profesional.

Jika tak ada mading atau sekalipun sudah ada, beranilah untuk menambah jam pelajaran di luar kelas. Sekolah yang memiliki visi dan misi, tentu tak ingin menghambat kreatifitas guru dan murid. Ajukan kepada pihak sekolah untuk membentuk sanggar sastra. Melalui sanggar yang dibentuk, waktu dan pembahasan akan lebih santai. Tanpa khawatir tidak tuntasnya materi karena ekstrakurikuler lebih menuntut pada kualitas dibandingkan kuantitas. Hemat saya, suksesnya pelajaran mengarang justru adanya ketekunan dari guru dan murid untuk mengulang dan terus mengulang. Dan tampaknya itu hanya bisa terjadi pada ekstrakurikuler saja. Jika demikian kenapa tidak dilakukan?

Lantas apa saja yang bisa dilakukan di dalam sanggar sastra?

Banyak. Sangat banyak sekali yang bisa dilakukan melalui sanggar sastra. Tapi berhubung kantuk sudah mulai menyerang, tulisan ini berhenti dulu sampai di sini…

 

 

 

 

 

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , , , .

Kompetisi Blog 2008 (Balai Bahasa Bandung) Tukang Becak Itu Ingin Naik Helikopter

13 Komentar Add your own

  • 1. hanee  |  3 Maret, 2008 pukul 8:27 am

    hmmm….
    oke…. beruntunglah aku cuma ngajar statistik :p jadi jawabnya beneran pasti, btw katanya nerbitkan buku ya..
    wah….
    boleh tu, saingan dgn mbak mia ni beliau jg baru ngeluarin buku tapi ga tau tuh apa judulnya….
    selamat ya

    Balas
  • 2. SHALEH  |  10 Maret, 2008 pukul 1:00 am

    Sama2…semoga kita bisa memajukan blogger Kalsel

    Balas
  • 3. taufik79  |  10 Maret, 2008 pukul 12:39 pm

    salam kenal aja

    Balas
  • 4. wiwied  |  11 Maret, 2008 pukul 3:24 am

    dengan tulisan kita dapat berbagi inspirasi baru untuk orang lain sehingga makin bisa menyikapi hidup

    Balas
  • 5. Mahmud  |  11 Maret, 2008 pukul 6:41 am

    Uma! Babagus nah desain laman Pian. Wah tambah asyik neh…!

    Balas
  • 6. indra1082  |  11 Maret, 2008 pukul 6:56 am

    Salam kenal, Keep Blogging

    Balas
  • 7. Nongkrong  |  11 Maret, 2008 pukul 4:43 pm

    Yah, memang kesulitan dari penerapan sistem pendidikan yang baru, siswa dituntut lebih banyak bergerak ketimbang guru. DI bidang sastra, salah satu kekurangan yang paling mendasar ketika guru tidak betul-betul menguasai sastra, atau minimal sering membaca karya sastra. (Hehehe, sok taunya tukang nongkrong neh)

    Sayang…nama-nama seperti Pramoedya, Sutarji, Sapardi, Taufiq Ismail dan yang lainnya, tidak pernah saya dengar ketika SMA. paling banter Chairil Anwar dan Alisyahbana.

    Mampir lagi cari tongkrongan. 🙂

    Balas
  • 8. ogi fajar nuzuli  |  14 Maret, 2008 pukul 6:33 pm

    Yach…mau gimana lagi? Baik atau buruk itulah fakta dari proses pendidikan kita yang harus kita hadapi bersama….

    Balas
  • 9. agepe  |  15 Maret, 2008 pukul 6:56 am

    Duh… ternyata ya jadi guru bahasa Indonesia. Apalagi guru sastra… Hehehe. Tk postingannya. Memberi inspirasi kok, sekaligus meneguhkan semangat. hehehe. Salam dari yogya

    Balas
  • 10. agepe  |  15 Maret, 2008 pukul 6:58 am

    mangsudnya: ternyata SUSE juga jadi guru bahasa… ralat nich..

    Balas
  • 11. Mahmud  |  17 Maret, 2008 pukul 12:24 pm

    Assalamu’alaikum w.w.
    Umpat batakun nah Dingsanak, wayah ni kadada lagi kah pemuatan tulisan tentang blog di kolom Kayuh Baimbai? Tolongai lah pian jawabakan pertakunan ulun tadi! He…he…he….

    Balas
  • […] telah memuat salah satu tulisan (lihat Sinar Kalimantan, 10/12/08) yang pernah saya publikasikan di blog ini . Jujur saja, blog tersebut sudah lama tidak beraktifitas; tapi bukan berarti tidak […]

    Balas
  • 13. P4ngeran Mud4  |  27 Februari, 2011 pukul 10:31 am

    Meningkatkan Mutu pendidikan dengan Birokrasi yang bersih dan Pelayanan Prima terhadap Pendidik
    http://nekobudi77.wordpress.com/

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,787 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: