Seandainya kita bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa.

4 Februari, 2008 at 3:26 pm 7 komentar


Suatu kali, saya pernah berdiskusi dengan sapri. Misalkan saja kita tidak lagi bermanfaat di dunia ini. Entah kepada manusia, binatang, tumbuhan dan segala macam lainnya. Tapi utamanya adalah manusia. Apa yang akan dilakukan Tuhan kepada kita? Kami bukan orang yang ahli dalam urusan Tuhan. Sebab itu tak ada yang bisa kami simpulkan kecuali sekadar dugaan yang kapan saja bisa dipatahkan.

Seandainya kita tidak bermanfaat lagi di dunia ini. Sia-sia. Mungkin saat itulah Tuhan memiliki alasan untuk tidak memberikan kehidupan yang lebih lama lagi kepada kita. Tapi itu hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Lantas bagaimana hubungan sesama manusia, apa yang akan terjadi jika kita bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa? Dengan kata lain, apakah kita akan dikucilkan? Dipandang rendah? Bahkan masuk ke dalam daftar orang-orang yang sebaiknya diabaikan? Berbeda jika kita adalah orang penting, lantas dibutuhkan orang banyak.

Tapi apakah dalam hubungan sesama manusia kita selalu mutlak ditandai lewat kepentingan-kepentingan? Jika tidak penting maka tidak perlu saling berhubungan. Jika demikian, bagaimana pula antara kita dengan Tuhan? Apa karena kepentingan juga maka kita berhubungan dengan Tuhan?

Saya tidak tahu apakah ada sebuah hubungan yang begitu saja terjadi tanpa disertai dengan alasan. Seperti cinta yang tak butuh segala macam penjelasan. Ia tetap ada meski melampaui segala yang bernama logika. Demikian juga manusia, saling berhubungan tanpa ada sesuatu yang diharapkan. Sekalipun kita sedang bukan siapa -siapa dan tidak memiliki apa-apa. Tapi adakah orang semacam itu, lepas begitu saja tanpa nilai? Padahal, selembar daun kering pun, saat harus jatuh, tetap ia akan menjadi sesuatu. Paling tidak, menjadi pupuk bagi induk tempat ia dulu pernah bersemi. Bukankah itu juga cinta yang tidak harus dijelaskan maknanya?

Akh, pastilah cinta juga memiliki alasan. Tanpa alasan bagaimana mungkin cinta bisa datang? Barangkali karena ia cantik, cakep, pintar, atau karena sesuatu yang bisa dijelaskan akibat panca indera kita.

Jika segala keragu-raguan dan segala yang tidak mungkin lantas dimungkinkan, seperti apa yang tertulis di atas, maka dugaan apa yang bisa dijadikan kesimpulan sementara?

Seandainya kita bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa adalah kemungkinan yang juga sekaligus tidak mungkin. Tapi ijinkan saya mengganti kalimatnya seperti ini,. Seandainya kamu bukan siapa -siapa dan tidak memiliki apa-apa aku tetap ingin menjadi temanmu, sahabatmu, kekasihmu, atau segala tentangmu. Dan kau tak harus ada pada saat aku butuh teman bercerita atau menjadi teman duduk saat menikmati senja merah manja. kamu tidak harus apa-apa. Tapi jika kemudian kamu datang, lantas aku bercerita dan kamu mendengarnya. Aku akan menganggap itu bukan karena kamu sedang mengharapkan sesuatu atau karena sesuatu di masa yang lalu. Aku menganggap kamu datang karena kamu juga menginginkannya. Seperti ketika aku juga datang kepadamu. Aku sangat menginginkannya sekalipun kamu bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Walau pada akhirnya kamu tidak percaya. Terserah apa katamu. Toh, kadangkala aku sendiri juga tidak percaya. [ ]

Iklan

Entry filed under: Umum.

Ganti Penampilan Kapan Banjarbaru Melayani KTP Biru?

7 Komentar Add your own

  • 1. Miamey  |  5 Februari, 2008 pukul 3:31 pm

    …Zzzz… -_-

    Balas
  • 2. sandi  |  7 Februari, 2008 pukul 6:33 pm

    … hehee… tampaknya tulisan yang tergesa-gesa. tapi tak apa-apa, toh aku bukan siapa-siapa, hehee…

    Balas
  • 3. rudiseni  |  8 Februari, 2008 pukul 5:43 am

    Saya juga bukan siapa-siapa…

    Balas
  • 4. Arsyad Indradi  |  9 Februari, 2008 pukul 8:00 am

    Siapa-siapa atau tidak siapa-siapa, silaturahmi wajib jalan terus. Asal tidak saling menikam di belakang. Gimana menurutmu ri?

    Balas
  • 5. Arsyad Indradi  |  9 Februari, 2008 pukul 8:02 am

    Ini puisi untukmu Ri!

    Kita berjalan biar menembus rimba dan padang terbuka
    tapi kita tetap menghias cakrawala silaturahmi.

    KIta beri warna cakrawala itu
    walaupun kita sendiri-sendiri
    tapi satu hati

    (Arsyad Indradi)

    Balas
  • 6. sapri mk  |  9 Februari, 2008 pukul 4:52 pm

    na bujur tu jar pa arsyad tu ri ai..

    kalau kita kada bamanfaat lagi didunia ini kada sia-sia ngaran nya , tapi mati, artinya tuhan masih sayang lawan kita nang ini, buktinya kita kada kawa lagi mangorupsi pun urang, babuat nang jahat-jahat,
    balaku kada adil, pokoknya nang kada-kada lah
    lawan jua kita disuruh bai’ingat supaya banyak-banyak minta ampunan dan wan ridlanya.
    maaf pulang nah!
    aux kada bakhutbah…lah

    Balas
  • 7. Alex Gunawan  |  22 April, 2008 pukul 2:10 pm

    wah kangen sama bahasa banjar, bang harie add FS saya ya penyaircinta@lycos.com trus beli novel saya ya klo nyampe kalsel he3x

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,787 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: