teknik-berani-mengawali-mengakhiri-sebuah-cerpen # 2

28 November, 2007 at 7:17 pm 10 komentar


Langsung saja, ini menyambung tulisan yang di bagian bawahnya diakhiri dengan kalimat bersambung (hehehe…model sinetron saja). Tulisan itu mengenai teknik mengawali sebuah cerpen.

Entah kenapa saya cenderung untuk memulai cerpen dengan menyampaikan sebuah permasalahan lebih dulu atau bisa saja dengan memancing akan adanya sebuah permasalahan. Contohnya kalau secara lisan, “Eh, kamu tahu tidak tentang seorang ibu yang sangat rindu dengan anaknya sendiri?”

Mungkin pertanyaan di atas itu biasa saja. Tapi coba perhatikan, banyak kata yang bisa dijelaskan kemudian. Bagaimana kondisi ibunya tersebut? Ada apa antara ibu dan anak?

Contoh di atas saya ambil dari judul cerpen “Jempol Kaki Ibu Ada di Televisi”. Maaf, ini bukan narsis. Soalnya itu cerpen saya sendiri. Bukankah dengan begitu akan lebih mudah untuk menjelaskanya?

Mengawali cerpen dengan memancing sebuah permasalahan bagi saya akan berhasil apabila permasalahan itu sendiri sesegera mungkin dimunculkan. Bukan sebaliknya, menyimpan permasalahan tersebut di akhir cerita. Kenapa itu saya lakukan?

Saya meyakini bahwa seorang pembaca pada awalnya hanya melakukan proses scaning. Semacam kerja alat scanner. Jika dalam proses scaning tersebut ia merasa menemukan sebuah objek yang menarik bagi dirinya, ia akan menempatkan dirinya sebagai pembaca yang aktif. Ia akan mencari jawaban atau alasan cerita kita. Bahkan sangat mungkin si pembaca akan memvonis baik atau jelek karya kita. Itulah kenapa saya juga meyakini bahwa pembaca adalah seorang kritikus yang patut didengar ketika ia mulai mengeluh. Jadi jangan marah. Saya cenderung banyak belajar dari keluhan-keluhan itu. Tapi bukan berarti setiap keluhan harus membuat kita pusing.

Hemat saya, keluhan seseorang itu bisa ditelusuri lebih jauh. Pertama, apakah keluhannya itu logis? Kedua, cari informasi jenis bacaan yang ia sukai. Seseorang bisa saja mengatakan cerpen si anu jelek. Ketika ditanyakan alasannya, ia tak bisa menyebutkan bagian-bagian jelek yang dimaksud. Anehkan? Andainya pun bisa, ia menyebut sesuatu yang sebenarnya adalah kekuatan cerpen tersebut. Nah, ada baiknya juga mengetahui jenis bacaan yang ia sukai. Kenapa ini juga harus dilakukan? Seseorang yang telah menyukai sesuatu, berapa persenkah ia bisa memberikan rasa sukanya kepada cerpen yang lain? Itu kalau si pembaca sudah sampai pada tingkatan fanatik. Masih ada lagi yang lain. Hobi bacaan seseorang kadangkala mempengaruhi juga terhadap cara ia memandang sebuah karya. Entah itu soal aliran, pengarangnya dan lain-lain. Nah, apakah kita memiliki cara berpikir yang sama? Atau boleh tidak sama asal saling terbuka.

Baiklah, jika cerpen sudah dibuka dengan sebuah permasalahan atau memancing permasalahan, maka di situ saya akan bermain-main dengan penceritaan. Maksudnya saya akan bercerita untuk mendeskripsikan masalah tersebut. Deskripsi itu penting, Bagaimana kondisi si ibu dan anak? Jika ibunya bersedih, kenapa ia bersedih? Jika ibunya lantas menangis, kenapa ia harus menangis? Disitulah saya sedang menceritakannya. Bukankah ini cerita? Bagaimana mungkin cerita kita akan dipercaya kalau banyak hal-hal janggal di dalamnya. Rasa sedih yang tak terjelaskan membuat pembaca akan bertanya-tanya bahkan sedikitpun tak merasakan apa yang ingin kita sampaikan.

Soal pemilihan kata atau kalimat untuk membuka sebuah cerita, itu masuk dalam wilayah keterampilan seseorang. Seseorang tidak mungkin bisa mengendarai sepeda motor tanpa ada proses berlatih. Proses itulah yang dibutuhkan. Rasa cemas, takut, khawatir, kecewa bisa saja dialami seseorang ketika pertama kali menyalakan sepeda motor. Baru dinyalakan, gugupnya bukan main. Bagaimana kalau sudah berjalan, pasti dibenaknya terbayang tentang jatuh, sakit, berdarah. Saat-saat seperti itulah yang harus dilewati. Jika ia terpaku dengan pikirannya itu, kapan ia akan bisa. Seorang pengarang, bagi saya, harus melawan rasa malas untuk rajin membaca karangan orang lain. Cara yang paling praktis hanya itu, mengamati masing-masing pengarang dalam membuka ceritanya. Pilih pengarang mana yang kita suka. Bisa tidak kita menirunya? (Bukan njiplak lo). Biarlah awalnya meniru, toh proses juga yang akan menuntun kita. Bahkan kita sendiri tidak harus menyadari bahwa kita telah memiliki style tersendiri. Biasanya orang yang mengatakannya kepada kita. Apakah itu perlu? Untuk bersenang-senang memang iya. Tapi lebih menyenangkan lagi kalau kita tetap bisa menulis dan terus saja menulis.

Sepertinya ini akan bersambung lagi….saya akan berbicara tentang “unik” bagi saya ini juga penting. Kelak ini akan menjelaskan cerita kita berbeda dengan cerita orang lain. Meski tema yang diangkat sama. Tahukah Anda kenapa tokoh ibu dalam cerpen saya begitu merindukan anaknya? Ada masa lalu yang unik terjadi antara ibu dan anak. Dulu, sewaktu anaknya masih bayi, si ibu pernah menyusui anaknya itu dengan jempol kaki. Oke…mudahan ada yang menginginkan tulisan ini berlanjut.

Iklan

Entry filed under: Tips Mengarang Cerpen. Tags: , .

‘Mutilasi’ Karya Sastra Kelak, Blog tidak sekadar diminati tapi juga meledak-ledak

10 Komentar Add your own

  • 1. fani krismawati  |  12 Desember, 2007 pukul 3:31 am

    cerpen bagiku sulit banget, mas bisa tanya g? ada novel religi saya yg akan dibeli putus oleh penerbit kira2 pasang harga berapa ya? biasanya sy royalti.

    rugi untung beli putus saya tahu, tp krn ini lg butuh dana buat sekolah sastra jadi saya terima saja. bisa balas lewat imel ya?

    thanks

    Balas
  • 2. ardha pradikta  |  3 Maret, 2008 pukul 1:44 am

    wah, menarik nih bahasannya..
    boleh dong ka disambung lagi..
    saya kebetulan baru mulai belajar nulis, mudah2an bisa mengikuti jejak kakak juga..hehe..

    Balas
  • 3. Dodi R.Kurniawan  |  30 Mei, 2008 pukul 6:34 am

    Mas ini sebuah Contoh cerpen yang saya buat mohon di koreksi Ya!! saya butuh masukan dan keri tik….!!

    Catatan Kecil, Boven Digul

    Udara dingin langsung menyerang ketika aku keluar dari dalam kapal. Hembusan angin begitu kencang. Ku pandang cakrawala, hanyalah segaris warna kuning kemerah-merahan bercampur warna biru yang kian memudar. ” Ah…. sudah sampai di mana kapal ini,” ucapku dalam hati. Ku langkahkan kakiku ke pojok anjungan kapal, mataku memandang mengelilingi samudra yang tiada batas. Kapal ini sudah hampir satu minggu mengarungi samudra. Aku tak tahu sampai kapan kapal ini akan merapat di dermaga. Aku bersama tiga puluh orang lainnya harus menjadi orang buangan kolonial Belanda.
    ”Farabi kamu sedang apa disini” suara itu membuyarkan lamunanku.”Ah…kamu Cip, aku hanya duduk-duduk saja” jawabku pada Cipto yang tiba-tiba datang. ” Kenapa kamu mabuk laut ya,” sapa Cipto dengan menepuk pundakku.” Tidak….! aku bosan saja berada di kapal ini,” suaraku agak sedikit keras. ” Sudahlah Farabi..jangan kau terlampau emosi, ya..beginilah nasib menjadi orang buangan,” Cipto berusaha menghiburku. Kami akhirnya terlibat dalam perbincangan sesaat.
    Cipto memang seorang pejuang kemerdekaan yang tergabunga dalam Sarekat Rakjat atau Sarekat Islam Merah. Ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur politik. Cipto ditangkap polisi kolonial bersama Soewarno, Moetokalimin, Hardjodiwongso dan Hardjosoemarto. Mereka semua adalah jajaran orang penting Sarekat Rakjat atau Sarekat Islam Merah. Cipto sendiri akhirnya dikirim ke Manokrawi tiga tahun yang lalu. Cipto bisa dibilang generasi pertama kaum nasionalis yang dibuang ke Irian Barat. Ia sudah dua kali merasakan dinginnya lantai penjara.
    Kini, aku yang harus merasakan menjadi orang buangan kolonial Belanda. Aku bukanlah orang yang seperti Cipto. Aku di tangkap Belanda karena aku di curigai sebagai mata-mata aktivitas politik. Tulisan ku yang di muat dalam sebuah surat kabar di Batavia di curigai akan membangkitkan semangat perjuangan Nasional. Memang aku sering membuat tulisan-tulisan yang mengeritik kolonial Belanda. Tulisanku dianggap membangkitkan rasa Nasionalisme, pemuda-pemuda untuk berjuang merebut kemerdekaan.
    Cipto lalu menerangkan sedikit tujuan kapal ini. ”Boven Digul” suara Cipto tertahan. Terbayang diwajahnya bagai mana keangkeran nama daerah itu. Penjara abadi yang diciptakan penguasa Hindia Belanda, sebagai tempat pembuangan para aktivis pergerakan paling radikal di Hindia. Sejumlah 1.308 orang ditangkap dan ditempatkan dalam pengasingan tanpa melalui pengadilan.
    Digul memang bukan Gulag ala Stalin yang penuh dengan lampu sorot, para sipir yang siaga siang malam sembari mengokang senapan. Di Digul ada rumah ibadat, warung-warung, dan rumah sakit. Jika kemudian Digul menjadi sangat menakutkan, tiada lain, karena pembunuh terbuas di sana adalah rasa bosan yang membunuh harapan. Setiap orang yang berada di sana mesti berjuang mati-matian menjaga kewarasan agar tak jatuh menjadi gila, keterpencilannya itulah yang menciutkan nyali.
    Digul yang dipenuhi rawa, paya-paya dan hutan yang sangat lebat menjadi sarang nyamuk Malaria paling ganas serta mematikan. Cakrawala semakin tenggelam, akhirnya kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam kapal. Bersiap menyambut malam yang dingin menusuk tulang.
    ****
    Asap mengepul dari cerobong besi yang menjulang di atas kapal. Ku hirup udara pagi yang masih segar. Mataku tertuju pada sebuah hamparan hijau membentang luas di hadapanku. Tangan ku meremas tiang pembatas kapal. ”Apakah itu Boven Digul” mataku menatap tak berkedip kearah depan. Aku tertegun, membayangkan yang di ceritakan Cipto kemarin sore. Keangkeran serta kejamnya susu-suku pedalaman yang masih primitif pemakan daging manusia. Bulu kudukku berdiri jika membayang kan itu.
    Akhirnya kapal kami merapat juga. Aku, Cipto dan beberapa orang lainnya di pisahkan dari tawanan anak-anak dan perempuan. Kami dianggap tawanan yang keras kepala. Mataku memandang keluar barak, kulihat benar yang di ucapkan Cipto. Ada beberapa pondokan rumah, klinik kesehatan dan rumah milik kepala sipir Belanda. Hamparan Hutan teropis yang lebat membentang, hewan-hewan buas dan suku-suku pedalaman yang kelaparan siap menyantap jika ada yang melarikan diri. Hari ini aku memulai hidup menjadi orang buangan di tanah Digul.
    Hari demi hari ku coba membunuh rasa bosan ku dengan menulis dan membaca buku. Cipto yang memang seorang aktivis politik sering sekali ia mengirimkan hasil tulisannya ke Batavia untuk diterbitkan dikoran.

    ” Farabi…kulihat kau juga suka menulis” sapa Cipto padaku
    ” Ah..tidak Cip..tulisanku tidak sebagus tulisan mu” jawanku dengan nada
    merendah diri.
    ” Mengapakau harus malu…kita tunjukkan semangat juang kita,” dengan suara
    sedikit keras Cipto memberikan semangat kepadaku.

    Mendengar ucapan Cipto, aku pun terbakar semangat juangku. Meski badan terkurung di tengah hutan tetapi aku bisa bicara dengan dunia melalui tulisan-tulisan yang aku buat. Setiap satu bulan sekali sebuah kapal putih selalu datang ke Boven Digul. Bahan-bahan logistik milik Belanda selalu di bawa dari Batavia. Sekaligus memasok persenjataan dan mengambil surat-surat untuk dibawa ke Batavia.
    Satu bulan berlalu, surat ku sudah tiga kali terkirim ke Batavia. Aku senang karena suratku dapat terkirim, sehingga tulisanku dapat diterbitkan di koran tempat dulu aku bekerja. Keritikan kolonial, Puisi atau tulisan yang berupa api semangat perjuangan dapat ku tulis. Sungguh mengerikan di tempat ini selalu saja setiap malamnya mencekam. Jerit binatang hutan dan dengungan nyamuk hutan yang sangat ganas menularkan penyakit Malaria. Belum lagi setiap saat selalu saja ada penyiksaan oleh tentara Belanda. Aku menyaksikan sendiri bagai mana seorang Kapten De Graeff menembak kepala seorang pembangkang. Tubuhku bergetar bila mengingat kejadian itu.
    Malam ini begitu sunyi dan dingin. Mungkin karena tadi sore habis hujan lebat. Aku biasa selalu duduk di tempat tudurku, menulis sebuah berita yang akan aku kirimkan pada temanku di Belanda. Dari balik jendelaku terdengar suara jeritan seorang wanita perlahan. Ku tajamkan telingaku untuk menangkap jelas suara itu. “ ah…itu suara wanita merintih” suaraku sedikit keras. Lalu aku berlari menuju rumah itu.” Braak” suara pintu yang sengaja ku dobrak. Mataku terbelalak melihat seorang menir Belanda ingin memperkosa seorang perempuan muda. Tak ayal lagi tinju besarku menghujam kearah mukanya. Aku pun bergelut dengan beberapa pukulan mendarat di wajahku.”Dor…dor…” terdengar keras suara pistol dari arah pintu. Kulihat Kapten De Graeff mengacungkan pistol itu kepadaku. Saat itu juga Cipto yang mendengar letusan itu segera datang.
    Kapten De Graeff membentak. Aku yang tidak mengerti bahasa Belanda hanya bisa terdiam. Cipto yang memang fasih dalam bahasa Belanda menjelaskan kepada Kapten De Graeff kejadian yang sebenarnya. Untunglah keterangan yang di jelaskan Cipto Kapten De Graeff mau mengerti, sehingga aku tidak harus dikurung dalam sel pengasingan. Aku dipapah Cipto keluar rumah.

    ” Tunggu..! ” suaraku menghardik Cipto.
    ” Ada apa Farabi” seraya Cipto melepaskan tangannya dari bahuku.
    ” Bagai mana dengan perempuan itu” sembari tanganku menunjuk pada wanita
    yang hanya bisa menangis di sudut ruangan.

    )nsrsid11820285Kulihat tak henti-hentinya ia bercucuran air mata35#5. Bajunya yang sedikit robek di tutupi defgan kain sarung yang da bawa Capto.” Pratiwi” keluar suara dari bibirnya yang gemetar%1033 men9ebutkan namanya%1033Tlan’n01035. Ia 0un me.cerit!kan mengapa ia sampai mau di perkosa.)nsrsid884768 !r (t!ngfe255 Tak terasa hampir satu tahun aku berada di sini. Jenuh mulai mengusikku. Entah sudah berapa kali tulisan ku dimuat di surat kabar. Semuanya tentang keritikan kolonial yang kejam,!r2sid6294303 wajah buram koloNialisme Belandam. Dalam tulisanku berisi Tin3rsid740647menyebut Digul sebagai “salah satu kamp konsentrasi yang paling mengerikan dI dunia, di rimba yang berawa, tempat berjangitnya Malaria”. .gfa255Dari 1.308 orang buangan itu, 823 orang dikirim ke Tanah Merah ”Neraka Dunia”, wilayah di pedalaman Irian Barat, suatu tempat terpencil yang berjarak 500 kilometer dan daerah pantai selatan di hulu sungai Digul. Tempat yang lebih mengerikan lagi.
    ****
    Aku terus mengirimkan tulisan ke sahabatku di Belanda. Dan pada masa pasca kemerdekaan, Digul bahkan menjadi salah satu isu utama dalam perdebatan di negeri Belanda ihwal buruknya standar moral pemerintah kolonial selama menguasai Hindia Belanda. Pemberitaan itu mulai di selidiki oleh pemerintahan Belanda. Mereka mencari penulis berita terebut. ” F.Lincoln”. Entah sudah berapa orang yang ditangkap. Tetapi tidak satu pun yang memiliki nama itu.
    Sampai pada akhirnya. Suara derap langkah tentara menghampiri kamarku.,ang10535 Aku yang sedang berbincang dengan Cipto tersentak. Kapten De Graeff )nsrsid5256319berbicara bahwa di tempat ini ada seorang yang bernama F.Linco,n. Cipto yang menjelaskan tidak tahu. Baju dan rak-rak buku berhamberan ketika penggeledahan terjadi.rsiD1914175 Lataku terkejut saat se/rang menir Belanda menggeledah tas kecil yang selalu iubawa.Xcharrsid1914175 Tertulis dengan jelas nama ku ”Farabi Lincoln”, Tak bisa bicara lagi aku ketika gagang senapan menghantam kepalaku. Pandanganku tiba-tiba saja langsung gelap, aku tak sadarkan diri.
    ****
    Gigitan beberapa ekor semut hutan membuatku terjaga. Perlahan ku buka mataku, kepalaku yang masih terasa pusing, ku paksa kakiku untuk berdiri. Kupandang sekeliling tempatku berdiri, hanyalah hutan belantara yang lebat. Suara binatang hutan menggaung ditelingaku. Tubuhku gemetar, aku bergumam dalam hati. ” Apakah ini Neraka Dunia” pertanyaan yang tak bisa kujawab. Mataku terus memandangi alam sekitar.”Benar…benar ini adalah Penjara Tanah Merah” jawabku sendiri dalam hati. Jauh lebih terpencil dan lebih berbahaya. Tanah Merah adalah tempat pembuangan di tanah buangan, “penjara di dalam penjara”.
    Belum lama ku perpikir tiba-tiba. ”Seeeelp..” terasa sesuatu menusuk punggungku hingga tembus kedada.” Aaaaak..” Jeritku menahan perih. Kulihat sebuah anak panah telah menempel di dadaku. Darah keluar dari selala-sela bajuku membasahi hingga ke celana yang ku pakai. Tidak menunggu lama mendadak muncul di hadapanku sesosok mahluk hitam yang di lumuri lumpur. Sesaat aku berpikir mahluk apa ini gerangan. Ternyata suku pedalaman hutan Digul. Tanganku di ikat dengan akar pohon. Aku di bawa masuk ke dalam hutan.
    Tubuhku terentang di antara dua pohon. “Akhirnya aku merasakan apa yang dikatakan Cipto ini adalah Penjara Tanah Merah,” ucapku dalam hati. Mungkinkah aku akan mati disini. Tubuhku lunglai lemah karena darah banyak keluar. Mataku terasa berat untuk dibuka. Akankah aku menjadi santapan suku pedalaman malam ini. Aku hanya bisa berdoa. Meski aku harus mati tetapi aku sudah memperjuangkan bangsa ini. Aku bangga jika aku mati bukan karena peluru dari menir Belanda, melainkan aku menjadi santapan makan malam suku pedalaman yang ke laparan.
    Belum sempat aku berkata lagi.” Craaaaas” sebilah pedang panjang tepat menghujam batang leher kepalaku. Darah mengucur deras, akhirnya aku pun tertidur pulas. Perjuanagan belum berakhir, meski akhirnya ”Boven Digul dan Penjara Tanah Merah” kini tinggal kenangan. Digul dan Tanah Merah adalah ingatan tentang gelapnya sejarah politik Indonesia.

    Balas
    • 4. Cindy  |  23 Januari, 2014 pukul 6:18 pm

      Keren.. 🙂

      Balas
  • 5. mera  |  3 Agustus, 2008 pukul 7:21 pm

    jelek bgt..

    Balas
  • 6. afrianti  |  30 Mei, 2009 pukul 9:05 pm

    Wah aku dulu sering buat cerpen hanya untuk diriku dan dibaca adik2 ku aja habis itu dibuang deh… hehehe…

    Balas
  • 7. ovyemath08.wordpress.com  |  4 Juni, 2009 pukul 9:56 am

    menurut saya menulis sebuah cerpen itu sangat sulit untuk menemukan sebuah inspirsi. menurut anda bagaimana ya supaya kita mudah mendapatkan sebuah inspirasi???????????

    Balas
  • 8. Rita Audriyanti  |  9 Juni, 2009 pukul 2:47 am

    ayo teruskan…lebih cepat lebih baik. terimakasih.

    Balas
  • 9. leni  |  12 Oktober, 2009 pukul 3:50 pm

    susah nyari ide……
    ini jg lg ada tugas bt cerpen, tp mlah pusiiing……..

    Balas
  • 10. Fawwaz Afif El-ahmadi " Ai"  |  2 Januari, 2010 pukul 5:56 pm

    Salam kenal buat semuanya:

    Menulis cerpen tergantung sudut pandang masing2:
    Kalau kita menganggap sulit, maka terasa sulit..
    kalau kita menganggap mudah, maka akan terasa mudah..
    ” intinya, bila ingin menulis cerpen yang baik, maka rajin2lan membaca cerpen karya orang lain ( baik yg sudah mempunyai nama atau sebaliknya )
    inspirasi bisa datang dari mana saja .. untuk yg perempuan ( bsa juga lki2) cara termudahnya adalah : hadirkan seorang teman ( sharing ) saling bertukar pengalaman atau kisah ( menyedihkan, bahagia dll) dengar dengan seksama, catat dan garis bawahi bagian yg menarik dari kisah share tmn kamu …
    reka2, kira2 dari modal share kalian kisah yg bisa terlahir (kayak bayi yak?) seperti apa ?

    kalau cara Share ngak mantaf ( tokcer) pake cara 2 ” melamun”
    dengan melamun bisa mendatangkan inspirasi.. pasalnya : ilmu pengetahuan seseorang itu terbatas, sedangkan imajinasi tak memiliki batas… huahuahua..

    P.s : tidak bermaksud menggurui atau sok tahu … hanya sekedar sharing aja.. buat penulis2 bangsa ! never give up!! Smangatttttttttt!!!!

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 288,134 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: