‘Mutilasi’ Karya Sastra

28 November, 2007 at 3:47 pm 1 komentar


Teman saya pernah ngamuk ketika mengetahui salah satu cerpennya di mutilasi oleh redaktur koran. Terjadinya persis empat tahun lalu saat saya berada di Yogyakarta. Ibarat seorang pelaku mutilasi sesungguhnya, potongan tubuh – dari leher hingga pinggang – bagian cerpen teman saya itu hilang. Saat mayatnya ditemukan, hanya ada kepala dan kakinya saja. Itu pun juga sudah terpotong-potong. Alahai malang, tidak ada pihak yang merasa memiliki kewajiban untuk mengusutnya, apalagi merekomendasikan bahwa mayat tersebut harus di visum di laboratorium forensik sastra. Bagaimana jadinya sebuah karya sastra, khususnya cerpen, jika dimutilasi oleh Redaktur koran? Yang entah disadari atau tidak oleh redaktur tersebut, bahwa cerpen sama halnya tubuh manusia. Ia membutuhkan anggota badan yang lengkap untuk saling berinteraksi dengan para pembaca.

Sampai sekarang, teman saya itu mengidap ‘gangguan mental’. Trauma dengan koran yang sudah memotong-motong bagian tubuh karyanya. Secara pribadi, ia juga tak bisa melupakan sosok individu di balik koran tersebut. Yakni sang Redakturnya! Dalam imajinasi saya, ia adalah algojo dengan intelektualitas yang cukup. Tapi intelektualitasnya tersebut hanya terbatas dalam kaidah jurnalistik belaka. Padat, ringkas jelas. Tapi tak menjamin algojo tersebut juga bisa menulis cerpen yang ‘baik’. Bahwa sebuah tokoh, peristiwa, suasana, perlu dideskripsikan dengan matang. Imbasnya karakter tulisan, tiap-tiap kata akan memanjang dengan sendirinya. Memahami ini, sama halnya memahami perbedaan antara karya sastra dan berita. Subjeknya adalah antara sastrawan dan wartawan. Jika berita adalah memberitahukan, maka karya sastra (fiksi) cenderung ingin meceritakan. Bahkan, pada bahan yang sama, sastrawan bisa mengolah berita wartawan tersebut menjadi cerita yang lebih menggairahkan. Tentu saja sarat dengan bumbu-bumbu cerita. Karena tujuan fiksi ditulis tidak saja ingin memberitahu tapi juga agar pembaca ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh yang diberitakan tersebut. Bukankah semua itu membutuhkan narasi, deskripsi dan dialog yang cukup?

Jika permasalahannya adalah terlalu panjangnya sebuah cerpen, sementara kolom yang diberikan tidak mencukupi, bukankah lebih baik Redaktur menolak cerpen tersebut tinimbang mengapresiasinya dengan cara memotong? Sesungguhnya redaktur bisa saja mengumumkan syarat-syarat pemuatan karya sastra. Berapa batasan karakter yang harus dipenuhi para sastrawan jika ingin karyanya dimuat. Di sini, kedua belah pihak akan saling memaklumi jika sudah dibuatkan rambu-rambunya. Di satu sisi, itu adalah hak koran membatasi panjang-pendeknya halaman, dan sisi lainnya adalah kewajiban sastrawan untuk taat dengan peraturan tersebut. Jadi tidak perlu adanya kasus ‘mutilasi karya sastra’.

Kasus ini memang sudah terjadi empat tahun yang lalu. Tapi mungkin sekali terjadi besok atau pun lusa. Kalau tidak di daerah lain, bisa saja di tempat kita. Ada kalangan yang menyatakan bahwa mengarang cerpen adalah profesi, bukan lagi soal hobi. Jika itu adalah profesi, tentu ada hak-hak profesi sebagai pengarang cerpen yang harus dihormati. Itu jika media koran juga ingin mendapatkan apresiasi yang baik dari kalangan sastrawan. Lantas kenapa saya menggunakan kata ‘mutilasi’ dalam kasus ini? Karena “mutilasi’ berbeda dengan cara kerja ‘editing’. Redaktur berhak mengedit sebuah cerpen, dan itu sebatas kaidah dalam bahasa tulis. Pun jika satu atau dua kalimat harus di potong, itu dipilih dengan pertimbangan tidak mengurangi esensi cerpen tersebut. Karena, pengarang atau pun penyair, yang hidup di negeri yang tak lagi makmur ini, sejak dulu hingga kini selalu mengalami problematik yang amat panjang. Apakah kita harus menambah kasus semacam ini sebagai daftar panjang atas semua himpitan yang ditujukan kepada karya para sastrawan yang terbilang penyabar?

Lepas dari ini semua, terbentuknya Komunitas Cerpen Indonesia yang dibidani Kongres Cerpen Indonesia V kemarin, secara tidak langsung bisa menjadi komunitas yang bisa diharapkan sebagai tulang punggung para cerpenis dalam menyampaikan aspirasinya. Termasuk kasus di atas. Bukankah ini patut dibicarakan? Siapa tahu kelak juga terjadi di daerah kita. Bagaimana jika Redaktur semakin ramai melakukan ‘mutilasi’ karya sastra? Ataukah ‘mutilasi’ ini sebenarnya sudah terjadi di daerah kita?

Anggaplah ini sebagai kebebasan dalam menyampaikan pendapat, sekalipun itu dialamatkan kepada Redaktur media massa. Syukur jika dalam sebuah perhelatan sastra yang cakupannya cukup luas, semacam Aruh Sastra, Tadarus Puisi, dan lain sebagainya, permasalahan-permasalahan semacam di atas dan hal yang lain-lain juga disuarakan sebagai sikap solidaritas sastrawan Kalsel terhadap permasalahan di luar teks sastra. Saya kira inilah fungsi jika kemudian sastawan memutuskan untuk berorganisasi. Pastilah demi kemajuan bersama; rumah tangga sastrawan Kalimantan Selatan yang berbahagia.

ruMahcerita, Nopember 2007

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , , .

Teknik Berani Mengawali & Mengakhiri Sebuah Cerpen teknik-berani-mengawali-mengakhiri-sebuah-cerpen # 2

1 Komentar Add your own

  • 1. ara Ska  |  18 Januari, 2008 pukul 6:43 pm

    itu bukanlah cerita baru buat kalsel ataupun disudut manapun didunia ini bahkan diakherat juga berlaku bagi mereka yang masuk klub neraka-banyak yang dipotong dari kaki-kepala dll. soal potong memotong karya, pangkas memangkas karya udah terjadi dari jaman adanya koran didaerah ini. jadi nikmati saja, karena mereka yang punya media punya hak bikin apa saja diwilayahnya sendiri. ah, jangan-jangan tulisan yang masuk diwilayah kamu ini rie, juga mendapat perlakuan yang sama. ya ga? ayo jujur saja. ha ha ha

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: