Ada Apa dengan Seniman Banjarbaru?

23 November, 2007 at 4:28 pm 4 komentar


cakrabudaya.uni.ccAda yang hilang di Banjarbaru. Dulu kota ini bisa memberikan sebuah kenangan kepada siapapun. Barangkali masih ada yang ingat, bagaimana sebuah taman yang kecil saja menumbuhkan banyak kerinduan? Orang-orang selalu ingin datang ke sana. Sebenarnya bukan tempat yang pantas jika seniman ingin menampilkan karyanya di tempat itu. Sebuah taman yang langsung bertemu dengan jalan raya. Memang selalu ada yang mengeluh. Suara mereka habis ditelan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan. Apalagi kalau yang lewat sepeda motor yang sudah di modif knalpotnya. Ampun. Tak ada rumusnya pembacaan puisi bersaing dengan knalpot. Tapi percayalah, semua itu cukup bagi seniman untuk menunjukkan karyanya. Setiap sabtu sore, komunitas Godong Kelor selalu memainkan teater kisah kocak (Tekicak), tanpa ada yang membayar, tanpa diminta, mereka tetap saja berkarja di taman itu. Begitu juga komunitas-komunitas sastra dan teater lainnya; di taman itu mereka saling menunjukkan hasil karya. Diam-diam, ada sebuah kerinduan yang hilang ketika orang datang ternyata bukan untuk sekadar taman saja. Tapi juga kesenian. Tapi sekarang, di sana hanya ada sebuah taman. Tidak ada lagi seniman yang ngumpul sekadar ingin bercengkrama. Satu persatu mulai pergi dan tak ada janji untuk kembali. Taman itu kini seperti sebuah wajah yang diliputi murung dan muram. Kenapa seniman Banjarbaru tak lagi membaringkan tubuhnya ketika lelah, malam hari, saat-saat puisi ingin selalu dibacakan lagi?

 

Sebuah zaman tentulah menawarkan perubahan. Tak ada yang tetap kecuali keyakinan. Siapakah yang memiliki keyakinan bahwa Banjarbaru kelak menjadi kota yang sarat dengan aktivitas seni dan budaya? Pastilah mereka tetap ada atau memang sudah tidak ada lagi. Segala kemungkinan bisa terjadi kapan saja tapi bukan tanpa ada sebabnya. Kemandegan komunitas seni di Banjarbaru itu sedang terjadi secara massal. Sangat disayangkan jika sebabnya tak jelas. Sebab tanpa mengetahui sebabnya bagaimana mungkin dapat memulihkan keadaan. Tak ada seorang pun patut disalahkan. Zaman telah berubah, demikian juga para seniman. Burukkah akibatnya jika taman itu tak lagi dikunjungi para seniman? Barangkali tidak. Arsyad Indradi misalnya, ia kurung dirinya di sebuah rumah dengan tumpukan kertas. Melipat, menggunting, mengiris hingga jadilah antologi Puisi Penyair Nusantara. Hasil kerja kerasnya itu membuahkan hasil yang ia sendiri tak menduganya. Sebuah harian Cina memuat ulasan tentang buku tersebut. Tentu saja dengan bahasa Cina. Sebuah persembahan yang luar biasa dari Arsyad Indradi untuk Banjarbaru. Dalam benak orang Cina; di manakah itu Banjarbaru? Seperti apakah itu kota Banjarbaru? Dengan buku itu pastilah orang Cina yang membacanya akan menganggap Banjarbaru sedemikian asyiknya. Lantas adakah Banjarbaru ingin memberikan sebuah penghargaan kepadanya? Seperti ketika Sutardzi Calzoum Bachri mengadakan ulang tahun. Datang seorang utusan mengucapkan salam dan selamat dari pemerintah provinsi Riau dengan membawa sedikit hadiah untuknya.

Dalam hati kecil berkata, betapa Banjarbaru banyak memiliki orang-orang hebat. Shah Kalana Al Haji di Godong Kelor, Aziz Muslim di Tetas, Rifani Djamhari di Forum Taman Hati, Isuur L.S di Loeweng Production, Hamami Adaby di Parimata, Eza Thabry di Kilang Sastra Batu Karaha, dan masih banyak lagi nama yang pantas disebut. Lantas kemana mereka dan ada apa dengan mereka?

Tanda tanya ini tidak memiliki jawaban. Atau tidak perlu dijawab saja!

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , .

Minggu Pertama, Website http://www.cakrabudaya.uni.cc Teknik Berani Mengawali & Mengakhiri Sebuah Cerpen

4 Komentar Add your own

  • 1. ara Ska  |  18 Januari, 2008 pukul 7:37 pm

    jawabannya simpel saja: saat nilai sastra sudah disamakan dengan pelacur, maka mereka yang punya harga diri hijrah pada dunia yang berbeda.

    ara Ska
    KASSBSS-TPCL

    Balas
  • 2. Dolphin  |  18 Mei, 2008 pukul 7:52 pm

    Ingat aku jaman masih muda suka jalan kaki ke Taman hanya untuk sekedar menikmati sebuah sendu nya kehidupan…..

    Benarkah semuanya pada hijrah? rasanya bukan karena alasan pelacur atau harga diri yang sok suci, kemungkinan hanya karena alasan perut, seperti sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan teman ku : “Apakah engkau bisa hidup dan menghidupi keluargamu hanya dengan bergaul dengan seni ?

    So, enggak ada yang boleh melarang, kalau kemudian ada yang beralih profesi jadi tukang becak, guru, pedagang es keliling, pelaku MLM atau seperti aku yang memilih memeluk komputer setiap hari demi memenuhi tuntutan perut yang kadang suka tidak bisa ditunda-tunda lagi…

    Balas
  • 3. E. Permana  |  4 Juli, 2008 pukul 7:51 am

    Seniman tetap jadi seniman>itu banyak.
    seniman jadi org gedongan>itu juga banyak
    Wajarlah Seorang pelaku seni menginginkan adanya perubahan dijalan hidupnya dengan keadaan negara yg serba mahal sekarang

    Seharusnya bermunculan regenerasi seni yg bs merubah keadaan itu. Jangan lah hanya mengharapkan pikiran yg tertuang dari otak-otak seniman yg sudah putih rambutnya. Mari kita bina regenerasi yg hebat, yg pola pikirnya sama dengan seniman terdahulu, bahkan lebih maju kedepan.Itu bagus!!!
    Jangan biarkan mereka hanya “nagkring-nangkrik” tidak karuan di Taman maupun di ” Lapangan Dokter” itu.

    Sebutan nilai seni adalah Pelacur!!!
    Itu salah….!!!
    Seni is “Life Style” dan seniman adalah orang-orang mulia yg bekerja dibidang seni. Mereka berjiwa sosial yg tinggi, (bukan pemuas sex!!). Secara sukarela menuangkan karya-karya indah yg lahir dari nalurinya bagi masyarakat. Itulah mereka!!!

    Balas
  • 4. raisha  |  8 Oktober, 2008 pukul 10:34 am

    Ketika semua orang sibuk mencari sebuah sosok dimana sosok tersebut hanya ada saat dia merasa harus memunculkan diri. Tak pelak kalau ternyata pada dasarnya mereka hanyalah mencari sesuatu yang tak pernah abadi.

    Sekumpul anak-anak buangan yang ikhlas berteriak di tengah kerumunan knalpot ternyata takkan pernah menjadi hiasan kota ini bahkan hanya sekedar ditegur dan disapa oleh sesama spesies mereka, seniman. Menakjubkan…. atau, kasihan…. Tak pernah ada yang peduli…. tak pernah ada yang mau tau. Mereka tetap saja dianggap sebagai badut kota yang gila akan popularitas. Popularitas gila, polularitas sinting…. Semangat mereka selalu saja tumbuh di tengah tawa anak-anak dan ibu-ibu yang mungkin menganggap “mereka inilah seniman sejati, seniman tanpa tanda kantong….” Omong kosong….

    Silakan Banjarbaru terkenal di Negeri Cina dengan antologi-antologi yang dibuatnya. Tapi badut-badut seniman akan tetap meneriakkan kata
    “Asslamu’alaikum wr.wb. Bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak, adik-adik sekalian. Saksikanlah, TEKICAK, Teater Kisah Kocak yang dimainkan oleh seniman2muda Banjarbari di Taman Air Mancur Banjarbaru, yang akan memainkan kisah dengan judul Mc Adut pengen jadi seniman. Saksikanlah Tekicak, Teater Kisah Kocak, Gratiiisss. Ayo bapak2, ibu2, saudara sekalian saksikanlah, dijamin dapat menghilangkan stress…..” dst.

    Hanya itu yang dapat aku ingat, sementara tak satupun kepala yang memandang mereka sebagai sesuatu yang akan menjadi abadi. Hanya tawa anak-anak dan ibu-ibu yang selalu membuat mereka harus tunggang langgang berkumpul hampir tiap minggu. Ketakutan akan hilangnya status SENIMAN dimata para penggemar mereka. Tapi mereka tetap saja badut yang akan selalu diacuhkan karena hanya dianggap sebagai perusak dunia, dunia seni, dunia para badut, dunia hiruk pikuknya kikuk-kikuk.

    Selamat berjuang adik-adikku….
    Mungkin kalian belum cukup tua….
    Mungkin suara kalian belum cukup keras….
    Mungkin kalian akan menjadi mungkin dimata mereka…..

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Statistik:

  • 288,888 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: