Sastra dan Pendidikan

17 Oktober, 2007 at 7:54 am 1 komentar


Tulisan ini Tentang Ucapan Seorang Kawan Mengenai KCI V

Dua tahun lalu, Kongres Cerpen Indonesia (KCI) IV di Pekanbaru-Riau, tepatnya 26-30 November 2005, mengusung tema “Ayo, Estetika Lokal!”. Kali ini, KCI V di Provinsi Kalimantan Selatan, 26-28 Oktober 2007 membawa tema “Cerpen Indonesia dan Dunianya”.

Apa pun itu, patut disyukuri karena pada tahun 2007 ini, Kalsel diberikan kepercayaan untuk melaksanakan KCI V. Secara pribadi, selama dua tahun terakhir ini, saya masih menyimpan ingatan tentang pertanyaan seseorang mengenai rencana Kalsel yang akan melaksanakan KCI V.

Kenapa Kalsel harus melaksanakan KCI V padahal jumlah penulis cerpen di Kalsel bisa dihitung dengan jari? Apakah justru nantinya hanya menjadi kesia-siaan belaka?”

Pertanyaan itu disampaikan kepada saya, barangkali dengan alasan karena saya juga menghadiri acara KCI IV di Riau. Secara tidak langsung berarti juga ikut menyetujui apa yang sudah disepakati oleh delapan peserta lainnya dari Kalsel. Bahwa Kalsel siap menjadi tuan rumah KCI V. Tapi tulisan ini tidak mewakili siapa pun, hanya bermula dari pertanyaan seseorang yang kemudian ingin saya abadikan dalam bentuk tulisan.

Bukankah dana kegiatan para penggiat sastra yang diberikan pemerintah lebih baik digunakan untuk membangun gedung sekolah yang sudah lapuk?”

Perlu diketahui, pertanyaan di atas adalah hasil perbincangan seorang kawan. Lantas kawan itu menyampaikannya langsung kepada saya. Saat itu, entah kenapa saya tidak tertarik menanyakan siapa orang yang menanyakan hal di atas. Saya pikir, pertanyaan semacam itu bisa saja muncul dari siapa pun, di mana pun, kapan pun.

Saya pribadi menghargai pendapat di atas. Faktanya memang demikian. Anggaran pendidikan di Indonesia terbilang rendah jika membandingkannya dengan negara seperti Jepang, Korea, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Padahal, tanpa pendidikan, apalah artinya kita semua?

Tapi pertanyaan di atas seakan-akan menganggap aktifitas bersastra tidak memberikan kontribusi apa pun kepada masyakarat. Sastra seperti bukan salah satu bagian dari dunia pendidikan. Padahal, kegemaran menulis dan membaca, sedini mungkin bisa ditanamkan melalui sastra. Untuk menjadikannya sebuah tradisi tentu dibutuhkan motivasi yang beruntun. Benar tidak? Banyak cara yang harus dilakukan para penggiat sastra untuk memupuk kegemaran menulis. Entah itu melalui workshop penulisan kreatif, diskusi karya atau menggelar lomba penulisan karya sastra. Ini semua tidak cukup hanya satu atau dua kali dilakukan. Jangan menganggap hanya dengan memasang spanduk di pinggir jalan yang berbunyi, “Bangsa yang pintar adalah bangsa yang masyarakatnya gemar menulis dan membaca” sudah menjadi alat yang ampuh untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat yang tingkat tradisi lisannya masih beku.

Sastra, demikian juga bidang-bidang lainnya seperti hukum, pers, olahraga, lingkungan dan lain-lain, keberadaannya tak bisa dihindarkan untuk memberikan kontribusi kepada daerah (dalam konteks otonomi). Apalagi jika masing-masing saling berkonsentrasi di bidangnya, maka kontribusi itu akan mewujud lebih jelas dari apa yang sudah kita terima hari ini.

Soal siapa yang harus didahulukan, kita tidak membicarakan siapa yang menang dan kalah. Tapi bagaimana semua bisa berjalan dengan cara yang bijaksana. Seadil-adilnya. Pembicaraan semacam ini, sejak dulu, generasi ke generasi pastilah juga terjadi. Dan tidak akan selesai. Kecuali hanya mengulang dan terus mengulang. Celakanya jika sesuatu yang kita ulang tersebut ternyata adalah pemikiran yang salah kaprah. Saya lebih suka mengganti kalimatnya dengan “tergesa-gesa”. Menganggap bahwa aktifitas sastra atau kesenian pada umumnya tidak perlu diberikan kemudahan dalam melaksanakan kegiatannya. Orang lain mungkin saja berkata, untuk apa menambah anggaran dana dalam dunia pendidikan, toh juga tetap akan membawa masalah yang kemudian hari muncul dengan sendirinya. Karena, parameter sebuah keberhasilan tidak hanya melulu sekian banyaknya dana yang dialokasikan. Tapi juga mengenai aturan main, pengelolaan, pemanfaatan dan pemberdayaan atas dana tersebut. Pastinya, sastra itu penting, demikian halnya pendidikan. Tak kalah pentingnya.

Mengenai terjalinnya kerjasama antar penggiat sastra dan pemerintah, itu karena sudah menjadi kewajiban dan kesadaran bersama untuk mengambil langkah-langkah strategis terhadap pembangunan daerah. Bagi kalangan sastra, jelas demi perkembangan sastra, bagi pemerintah tentu demi terjalinnya kerjasama antar pihak. Apalagi penggiat sastra, apa pun sebutannya, sama saja dengan manusia lainnya. Sebagai warga negara yang hidupnya tidak dijalani dengan gratisan. Mereka juga ikut membayar pajak seperti komponen masyarakat lainnya. Berarti semua berhak, hanya tinggal kepiawaian pemerintah dalam mengatur pajak tersebut. Ideal dan seadil-adilnya. Kalau dipikir-pikir, sebanyak apa pun dana yang diterima penggiat sastra untuk melaksanakan kegiatan, ngomong-ngomong hampir tak ada penggiat sastra yang menjadi kaya mendadak atas dana tersebut. Silakan sebebasnya berasosiasi. Tapi kebiasaan, dengan satu lembar surat penghargaan saja pun, sastrawan sudah merasa cukup. Apalagi lebih. Meski tidak banyak. Dan perlu.

Kira-kira, tidak ada seorang pun yang benci pendidikan atau lainnya. KCI secara umum pasti juga memiliki wujud pendidikan, jika mau memandangnya lewat perspektif yang tidak tergesa-gesa. Soal sedikitnya jumlah cerpenis yang aktif di Kalsel, justru itulah KCI menjadi ajang promosi. Sekali-kali kita juga bicara tentang cerpen dalam skala yang lebih besar. Tidak hanya bertiga, berempat atau berlima orang saja. Apalagi cuma bisik-bisik. Ilmu pengetahuan, kadang tidak hadir begitu saja tanpa seseorang menginginkan dan mengusahakannya. Soal berhasil atau tidaknya sebuah proses kegiatan, ibarat murid yang duduk di bangku kelas, biar berbuih-buih guru menerangkan, kembali pada masing-masing individunya. Bagi yang ingin memperdalam ikhwal dunia cerpen, inilah saatnya. Bukankah ilmu tidak selebar daun pepaya? Merasa sudah banyak, lantas tidak perlu belajar lagi.

Dari sekian banyak kegiatan sastra di luar Kalsel, kadang hanya sebagian saja yang bisa dikatakan beruntung mengikutinya. Sekarang, mumpung Kalsel menjadi tuan rumah KCI V, kesempatan sudah di depan mata untuk belajar sesuatu yang barangkali belum pernah dilihat langsung oleh mata. Ini juga bagian dari proses pendidikan. Seperti yang sudah dirumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI pasal 13 butir ke 1. “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.” Lebih fokus lagi silakan kita renungkan bersama bunyi pasal 26 butir ke 3, “Pendidikan nonformal meliputi pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesastraan, serta pendidikan lain yang di tunjukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.” Nah. Bukankah banyak butir yang menunjuk ke masing-masing bidang. Alangkah baiknya masing-masing bidang tersebut berupaya seoptimal mungkin untuk saling membangun dan bekerjasama.

Saya berterimakasih karena diberi kesempatan mendengar pertanyaan semacam di atas. Meski tulisan ini sejatinya tidak saya tujukan kepada pemilik pertanyaan tersebut. Tapi lagi-lagi kepada pemerintah daerah. Terutama dinas pendidikan di mana pun engkau berada. Dalam hati saya berkata, “Pendidikan bukanlah sejengkal tanah kuburan yang mengakibatkan salah satunya merasa sudah berada di alam kematian.”

 

Selamat hari raya iedul fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan bathin.

 

 

ruMahcerita, Oktober 2007

Iklan

Entry filed under: Esai. Tags: , , , , .

Wanita yang Melukai Tubuhmu dengan Pisau Rahasia Sedih Tak Bersebab

1 Komentar Add your own

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 288,134 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: