Soal Naskah Layak dan Tidak Layak Terbit

4 Oktober, 2007 at 6:02 am 14 komentar


Ini obrolan santai saja, Bung!

 

Jika suatu saat Anda menjadi seorang redaktur sastra dan budaya di sebuah majalah atau surat kabar, maka apa yang Anda lakukan untuk memutuskan sebuah karya layak terbit atau tidak? Jika Anda adalah penulis dan membutuhkan publikasi di sebuah majalah dan surat kabar, tapi karya Anda selalu ditolak oleh redaktur, maka apa yang akan Anda lakukan?

***

Saya membayangkan betapa repotnya pekerjaan seorang redaktur ketika menseleksi naskah-naskah para penulis yang membanjir pada setiap harinya. Sekalipun jumlah redaktur sastra dan budaya dikerahkan tiga hingga lima orang, saya pikir mereka tetap akan mengalami kerepotan untuk menentukan layak dan tidak layak terbit. Kecuali mereka sesuka maunya.

 

Kategori layak sebenarnya masih bisa dibagi dalam tiga kelompok. Pertama, layak bagi individu sang redaktur. Kedua, layak bagi sang pembaca media tersebut. Ketiga, layak bagi perkembangan karya sastra itu sendiri. Dari tiga kategori di atas, paling mudah dilakukan adalah pilihan pertama. Selera sang redaktur berkuasa penuh dalam menentukan layak dan tidak layak sebuah naskah diterbitkan. Sementara yang kedua, setidaknya redaktur akan memilah-milih tulisan yang sesuai misi dan visi media tersebut. Ini lumayan repot. Ketiga adalah bagian yang cukup pelik. Menerbitkan atas dasar perkembangan sastra. Lantas sejauh manakah perkembangan sastra Indonesia kita? Benarkah para redaktur juga akan memfungsikan dirinya seperti peneliti sastra?

 

Ketiga pilihan di atas, tentu sedikit banyaknya memunyai dampak kepada para penulis. Maka tak aneh jika banyak yang menyimpulkan bahwa; selera redaktur, visi dan misi media serta perkembangan sastra (kualitas) saling dipertimbangkan ketika ingin mengirimkan naskahnya. Jika ini benar-benar terjadi, adakah pilihan lain yang bisa ditawarkan kepada penulis yang jumlahnya lebih banyak tinimbang media cetak itu sendiri? Alih-alih kepada para penulis yang sudah berusaha mempertimbangkan tiga hal di atas namun tetap saja mendapat penolakan atas karya-karyanya.

 

Ketika penulis berhadapan dengan dunia industri (penerbit/media cetak), maka yang akan terjadi adalah tawar-menawar soal karya yang akan dipublikasikan. Ujung-ujungnya adalah pembaca. Jelas pihak industri tidak ingin mengalami kerugian, maka ia berusaha menyelaraskan hasil tulisan melalui orientasi pasar (penerbit komersil). Apakah tulisan Anda layak jual? Sama halnya, apakah tulisan Anda layak terbit?

 

Hal ini tidak sepenuhnya salah, meski banyak penulis yang mengeluhkannya. Wajar dong mereka membuat peraturan, toh kelak yang akan menanggung untung dan rugi adalah mereka. Ini tidak ingin saya tulis panjang lebar. Ada yang lebih penting lagi yakni peran redaktur dalam perkembangan sastra Indonesia. Mau tidak mau, sastra mutakhir kita adalah sastra yang terbit berdampingan dengan berita kriminal, ekonomi, teknologi bahkan kasus korupsi. Dengan kata lain, cara itu membuat koran berhasil mencitrakan dirinya sebagai generasi penerus sastra Indonesia melalui tangan-tangan sang redaktur. Tidak ada lembar sastra dan budaya yang terbit lebih cepat dibandingkan koran. Seminggu empat kali di hari minggu. Nah, redaktur di satu sisi berjasa kepada sastra Indonesia, satu sisi lagi ia kadang juga menghambat kreatifitas para penulis. Khususnya pemula, dalam artian mereka yang baru ingin berkiprah. Kita tahu bagaimana pekerjaan seorang wartawan, dikejar waktu dan tergesa-gesa. Benarkah redaktur menyediakan waktu untuk membaca semua karya para ‘pemula’? yang maksudnya sebagai proses seleksi naskah. Berbeda dengan penulis yang sering mereka terbitkan karyanya. Barangkali redaktur tidak perlu membacanya lagi, langsung terbit. Bagaimana jika penulis yang sudah sering diberikan kesempatan tersebut suatu kali hasil karyanya tidak jauh berbeda dengan para pemula? Ada istilah tidak jual karya tapi jual nama. Nah.

 

Publikasi, Popularitas dan Kesenangan

 

Diakui atau tidak, keinginan mempublikasikan karya adalah meraih popularitas. Apalagi terbit di sebuah media bergengsi. Patokan gengsi ini pun kadang hanya ditilik dari oplah media tersebut. Alasanya banyak dibaca orang. Padahal belum tentu orang membeli koran di hari minggu karena ingin membaca cerpen dan puisi. Popularitas akan dicapai seseorang apabila sudah berhasil mempublikasikan karyanya lewat koran yang menasional. Itu anggapan para penulis kebanyakan. Tapi berapa banyak orang yang membaca koran? Apakah mereka semua akan menyukai begitu saja cerpen atau puisi yang ia baca hari itu? Jawabnya, tentu tidak. Mengembalikan sastra kepada pembaca berbanding terbalik mengembalikan sastra kepada kritikus atau pihak akademisi. Pembaca sastra pada umumnya selain orang-orang pecinta sastra sendiri adalah mereka orang-orang yang membutuhkan hiburan dan kesenangan. Biarpun kritikus dengan kejamnya mengatakan sebuah karya itu jelek, pembaca yang terlanjur menyukainya akan bersikap masa bodoh. Kenyataan ini barangkali juga menjadi alasan perlunya seleksi. Tujuannya agar media cetak memberikan bacaan sastra yang baik. Lantas paradigma sastra yang baik itu bagaimanakah wujud sejatinya?

Jika saya beri pilihan, maka pilihan ini kembali pada selera pembaca. Pilihan pertama adalah fenomena sastra di media cetak beberapa bulan terakhir. Antara Hudan Hidayat dan Taufiq Ismail. Kepada sastra yang bagaimanakah Anda berpihak? Bukankah akhirnya pembaca itu berpihak? Ada yang suka begini, ada yang begitu. Lantas siapakah yang paling berkuasa untuk memenangkan keberpihakan tersebut? Jawabnya adalah tergantung kepada selera redaktur juga bukan? Akhirnya, secara tidak langsung, tidak ada naskah yang benar layak terbit secara ideal. Masing-masing redaktur memunyai alasan dan kriteria masing-masing. Maka jika karya Anda tidak diterbitkan oleh redaktur, bukan berarti karya Anda murni 100% jelek atau bisa saja memang jelek.

Tapi yang jelas, dalam konteks selera. Terbit di media cetak yang menasional sekalipun tidak menjamin karyanya akan disenangi pembaca kebanyakan. Karena tidak semua naskah yang terbit berdasarkan kualitas semata. Namun ada baiknya sebelum kita terlanjur berprasangka buruk kepada redaktur atau penerbit kita mempelajari karya kita terlebih dahulu. Di dalam tulisan genre apa pun, ada kaidah-kaidah yang berlaku. Sebagai penulis, tentu wajib memahaminya dengan amat baik. Entah soal ejaan, tata bahasa dan sebagainya. Percayalah. Tulisan tak ada artinya tanpa pembaca. Maka yang diperlukan adalah memfungsikan semaksimal mungkin proses kreatif kita agar tulisan menjadi layak baca. Carilah caranya. Setelah layak baca, lanjutkan menjadi layak terbit. Dari layak terbit kita tingkatkan menjadi layak jual. Buktikan!

Tak semua penerbit mampu memiliki feeling kedahsyatan sebuah naskah. Naskah yang sebenarnya laku bisa saja ditolak mentah-mentah,” kata Dan Poynter.

Sebenarnya, jika karya Anda memang baik. Terbitkan saja di situs-situs internet yamg mengkhususkan di bidang sastra. Dengan sendirinya orang akan menilai karya Anda. Percayalah, banyak faktor hanya untuk membicarakan layak dan tidak layak terbit. Dunia kita sekarang bukan dunia yang dipenuhi idealisme. Yang perlu Anda lakukan, segeralah menulis. Tuangkan ide Anda. Selesaikan dengan cara yang paling baik. Publikasikan di media apa pun juga. ngeblog juga oke. Umumkan kepada orang bahwa Anda sudah menulis. Mintalah komentar kepada orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab. Kata sahabat saya, belajarlah dulu bagaimana caranya menulis dengan benar, lalu kemudian berusahalah menulis dengan baik. Selanjutnya menulislah dengan cemerlang. Soal redaktur dan tetek-bengeknya, jangan jadikan Anda berhenti menulis. Kalau Anda berpikir menulis di blog tidak menguntungkan dari segi finansial dibandingkan media cetak. Saya hanya bisa katakan, silakan Anda kirim karya tulis Anda ke media cetak sekarang juga. Supaya Anda berpengalaman.

Pertanyaan paling penting adalah, “Apakah Anda sudah menulis hari ini? Seberapa dahsyat dan seberapa hebat?” Tulislah yang banyak. Berdoalah mendapatkan rejeki agar bisa mengumpulkannya ke dalam satu buku. Cetak sendiri dan terbitkan sendiri. Jika tulisan Anda memang hebat, apa ruginya jika saya membeli karya Anda. Meski Anda sendiri tidak pernah mempublikasikannya di media cetak manapun. Saya siap pesan sekaligus tiga buku karya Anda. Tapi apakah Anda ‘sungguh-sungguh’ sudah menulis? Itu masalahnya dan juga menjadi masalah bagi saya. Bagaimana cara Anda menanggapinya?***

ruMahcerita, 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Entry filed under: Esai.

Lampu Merah Bernyanyi “Miskin” Selembar Tiket Pesawat

14 Komentar Add your own

  • 1. fani krismawati  |  24 Oktober, 2007 pukul 3:58 am

    saya seorang penulis baru. dan baru saja diterbitkan novel fiksi pertama saya tentang psikologi anak. dan saya baru saja mengirim cerpen saya yg termasuk sastra bebas alias tak terlau ditinggikan dengan lukisan2 kata2 yg membumbung tinggi dan banyak orang tak tahu. saya malah melukiskan yg dimengeri banyak orang.

    tapi, entah mau dimuat atau tidak…saya hanya baru saja mencoba mengirim k media cetak walaupun buku2 banyak yg diterima jg.

    entah, saya sedikit grogi…

    Balas
  • 2. hariesaja  |  25 Oktober, 2007 pukul 4:20 am

    yang paling penting Fani sudah melakukan sesuatu yang benar dalam hidupnya. Menulis dan berusaha mempublikasikannya ke media massa atau pun dalam bentuk lain. Kalo saya sih, setelah kirim gak usah dipikiran lagi apakah karya saya akan dimuat atau tidak. Lebih baik menulis dan menulis lagi. Gimana menurut Fani dan kawan2 lainnya?

    Balas
  • 3. fani krismawati  |  26 Oktober, 2007 pukul 11:58 am

    wah,memang tidak perlu dipikirkan siy…tapi karena baru pertama kirim ke media cetak tuh, rasanya berbeda sekali. lebih grogi daripada sekedar kirim novel yang panjang seabrek2 tebalnya ke penerbit ternama,entah….apa gituy,rasanya berbeda sekali. hihihihi..aku jadi malu sendiri, skarang sedang ngumpulin cerpen2 baru yg baru ditulis dalam bentuk buku. hehehe,,,lagian aku lebih seneng kl dalam bentuk buku, bisa dibaca orang banyak dan dapatnya banyak pula, ya nggak?

    mengenai cerpen yg akan kukirimkan ke kamu, rasanya sangat memalukan jika harus saya beritahu langsung lewat email, krn saat cerpen2 itu kukirim ke redaktur yg aku kenal orangnya, sempat aku kirim sms kalo saya memang tidak canggih menulis cerpen dengan lihai, apalagi kata2 yg gila gitu.

    tp ngomong2, kenapa para cerpenis kebanyakan tidak cepat maju seperti novelis biasa lainnya? apa karena terlalu jual mahal gitu ya….hhehehhe…

    Balas
  • 4. hariesaja  |  29 Oktober, 2007 pukul 4:02 am

    Pengalaman Fani mengasyikkan juga. Sampai-sampai tak tergambarkan saat pertama kali ia mengirimkan cerpennya ke media cetak. Hehehe…Tuhkan, Fani lebih suka terbit dalam bentuk buku. Ya udah, terusin aja perjuangannya. Buku-buku yang sudah ditulis Fani judulnya apa saja sih? Jadi penasaran. Hehehe…takut kehabisan…hehehe

    Kalo Fani saja tidak Pede nunjukin cerpennya ke saya (padahal saya bukan siapa-siapa lo, cuma orang biasa, bagaimana mungkin fani bisa Pede nunjukin ke redaktur media cetak yang notabenenya paham betul tentang sastra. Hayooooo….

    Nah, soal para cerpenis yang tidak cepat maju ketimbang novelis biasa lainnya, kenapa ya? perlu jawaban neh. Apa betul terlalu jual mahal seperti kata Fani. Emangnya Fani gak jual mahal? novelis biasa itu maksudnya yang mana?

    Balas
  • 5. fani krismawati  |  26 November, 2007 pukul 3:55 am

    novel agama saya akan diterbitkan, dan itu merupakan novel kedua saya. senang sekali rasanya tahun depan ada buku yg terbit.

    Balas
  • 6. aa fin  |  27 November, 2007 pukul 10:52 am

    Saya suka sekali dengan tulisan ini,santai namun sistematik dan berisi.Bisa juga dijadikan suatu pandangan dan arahan bagi ara penulis-penulis atau sastrawan yang masih pemula atau masih amatir istilahnya.Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah popularitas menjadi dambaan hampir atau bahkan semua orang,dan publikasi karya di media masa seperti koran dan majalah adalah sebuah “jalan pintas” yang sangat memungkinkan untuk menggapai sebuah popularitas itu sendiri.Namun seperti yang dikatakan mas Harie,apa salahnya jika karya – karya kita dimuat dalam sebuah Blog atau komunitas -komunitas yang mudah ditemukan di internet.Mudah,murah,bahkan gratis.Meskipun seandainya blog yang telah kita buat nanti,sepi atau bahkan tanpa pengunjung,bukan berarti kita tidak mendapat suatu keuntungan,meskipun jauh dari kata “populer”namun setidaknya kita bisa lega dan bangga bahwa kita sudah berkarya.membantu Mengurangi stres,karena uneg-uneg dalam kepala kita bisa tuangkan sekaligus disana.Klo soal honor,bukankah faktor nomor wahid toh ke rezeki – rezeki kita juga,siapa tau blog yang kita buat secara tidak sengaja dibaca seorang redaktur atau penyeleksi dari sebuah media masa,lalu dia tertarik dengan karya kita,dia sendiri yang akan meminta karya kita untuk dimuat di media masa-nya,WHO KNOWS kan?

    ‘Sory nih ma yang punya rumah ane koment panjang banget,saking tertariknya ma ni tulisanya mas harie.hehehehe….salam kenal mas dari ane,ane dukung….

    Balas
  • 7. mariyana  |  3 Desember, 2007 pukul 3:49 am

    aku masih seorang siswi SMK yang mempunyai hoby menulis,aku juga sudah pernah mengirimkan salah satu cerpenku ke salah satu majalah,tetapi sudah kurang lebih 1 tahun cerpen saya tidak mendapat tanggapan dari redaktur majalah tsb. Duh……….malang sekali ya nasib cerpenku….! he…he…

    tapi sepertinya aku setuju juga apa kata aa fin kalau kita mencoba mempublikasikan cerpen kita ke situs blog,”karena saat ini yang kita cari khan bukan materi,,melainkan kesuksesan..kalau nanti sudah sukses khan bisa mendapat materi yang lebih dari yang kita inginkan sekarang….betul gak?”

    Balas
  • 8. fani krismawati  |  12 Desember, 2007 pukul 3:35 am

    betul…pertama aku jg dari blog, terus ke buku. abis itu tulisannya berkembang sendiri jadi lebih baik. tapi, ada jg penerbit yg mau nindas2 penulis lo…

    Balas
  • 9. kreator sejati  |  18 Desember, 2007 pukul 4:05 am

    Ngomong-ngomong masalah naskah. Saya sendiri juga seorang penulis dan sekarang bekerja di sebuah penerbitan berskala nasional. Jadi bagi temen-temen yang senantiasa berkarya dengan penanya, dapat mencoba untuk mengirimkan naskahnya. Naskah dapat dikirim ke alamat naskah@yahoo.com. Naskah yang akan saya terbitkan adalah fiksi dan non fiksi juga buku-buku referensi. Apabila naskah dirasa layak cetak maka MoU akan dibuat untuk proses lebih lanjut. untuk keterangan lebih lanjut dapat langsung hub ke nomor saya (hani)di 085647260961.
    Selamat berkarya….

    Balas
  • 10. ara Ska  |  31 Desember, 2007 pukul 6:44 pm

    kata adalah kata
    uang adalah uang
    nama adalah nama
    dalam kata mudah mengeja
    bila kata bersanding uang
    alamat harap dan gamang
    kawanpun bisa ditendang
    dan yang punya nama pada gawang
    muluslah melenggang
    karya ambrolpun bisa ongkang-ongkang

    he he he
    ya ga rie!

    ara Ska – Bjm
    KASSBSS-TPCL

    Balas
  • […] dilakukan dengan penulis lain yang lebih dulu memiliki nama besar. Sisi negatif tulisan ini juga pernah saya posting di sini. Tapi, bukankah setiap orang yang memiliki nama besar, awalnya juga bukan siapa-siapa? Maka, […]

    Balas
  • 12. andi  |  22 Januari, 2009 pukul 11:44 am

    mimpiku terkadang kandas.
    setelah kulemparkan karyaku ke koran
    mereka seakan berkata tak layak
    bagiku di muat dikoran hanyalah sebagai sangkar buat karyaku
    bukan popularitas, aku ingin karyaku selamat.

    Balas
  • 13. Gen  |  17 Februari, 2010 pukul 4:01 pm

    bahasannya bagus & komen2 jg boleh tuh. klo memang merasa layak naskahnya (non fiksi) bole coba kirim ke genpromo@yahoo.com. (ssst… kami penerbit di bandung sejak 2002).

    Balas
  • 14. Hinata chan  |  8 Desember, 2014 pukul 7:29 pm

    saya pernah juga mengirimkan naskah, udah 3 kali ditolak semua. dan sekarang saya sedang buntu, ga ada ide… bahkan novel yang udah saya buat 2 tahun lalu masih belum kelar2 juga…. ada saran tidak ya? terimakasih 🙂

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 287,787 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: