“Miskin” Selembar Tiket Pesawat

4 Oktober, 2007 at 6:13 am 1 komentar


Kata istri saya, Satu minggu sebelum ramadhan, Pak Dibyo, pedagang sayur keliling akan mudik ke Jawa. Rencana keberangkatan pak Dibyo lantas menjadi buah bibir di komplek perumahan tempat kami tinggal, terutama para ibu-ibu rumah tangga. Jika kemudian pak Dibyo selalu dibicarakan, itu bukan tanpa alasan. Rata-rata di lingkungan kami, sebagian adalah para pendatang. Ada yang dari Sumatra dan selebihnya macam-macam Jawa.

 

Barangkali sudah menjadi tradisi bagi para pendatang untuk melaksanakan mudik lebaran. Alasannya macam-macam, tapi intinya lebaran adalah kesempatan berkumpul keluarga. Jika selama ini masing-masing menjalani hidup dan kesibukkannya, lantas jarang bertemu, ngumpul, dan bercanda, maka setidaknya ada hari yang disakralkan untuk memenuhi ketiadaan di atas. Waktu yang tepat itu adalah saat lebaran.

 

Soal pak Dibyo yang akan mudik. Ternyata obrolan tentang dirinya tidak hanya terjadi di luar rumah. Tapi menjalar hingga ke dalam kamar, dapur hingga ruang keluarga. Pada saat-saat tertentu, istri saya mulai menanyakan kenapa saya belum membuat keputusan apa pun tentang lebaran kali ini. Saya kira ini juga terjadi dengan tetangga kami. Pengalaman selalu mengatakan, menjelang lebaran hingga setelahnya, harga tiket pesawat pasti mengalami kenaikan. Itu sebabnya kenapa saya menangkap nada cemas setiap kali nama pak Dibyo direkomendasikan. Padahal, sekarang sudah memasuki bulan ramadhan.

 

Tahun lalu, 2006. Satu bulan lebih dulu saya sudah melaksanakan mudik. Tujuan kami Yogyakarta dan Salatiga. Saat itu harga tiket + Rp. 400.000,- an dan baliknya + Rp.900.000,-. Dengan jalur Banjarmasin-Yogya-Banjarmasin. Kalau dihitung-hitung, untuk biaya transport pesawat kami harus menyediakan dana Rp. 2.600.000,- an. Ini belum terhitung biaya transportasi darat ke tempat tujuan plus biaya lain selama di rumah atau tempat mertua. Agar semuanya berjalan lancar, bisa membantu kesiapan dalam menghadapi lebaran dan lain-lain, setidaknya kami harus memiliki dana tiga kali lipat dari harga transportasi. Rp. 7.800.000,-

 

Kenapa perhitungan di atas mesti saya utarakan?

 

Suatu kali pak Dibyo tidak langsung pergi menjajakan kembali dagangannya. Untuk diketahui, pak Dibyo ini masih terbilang sederhana dibandingkan banyak pedagang sayur yang lewat di depan rumah. Pak Dibyo masih mengenakan sepeda, sementara yang lain sudah melaju dengan motor demi efisiensi waktu dan kenyamanan pelanggan. Nah, hari itu pak Dibyo merasa haus, ia bermaksud meminta air putih di rumah saya. Menunggu istri saya menuangkan air putih ke dalam gelas, pak Dibyo ngobrol dengan saya mengenai usaha yang ia jalani. Katanya, jika lagi mujur, pak Dibyo bisa mendapat keuntungan bersih Rp. 200.000 atau lebih sedikit. Yang jelas tidak mencapai Rp.300.000. Kalau sedang sepi, keduluan pedagang yang mengenakan motor, “Pelanggan itu kan raja, apalagi soal masak-memasak, tidak bisa telat. Kalau saya datang terlambat, mereka sudah tentu membeli ke pedagang yang lain,” ucapnya menjelaskan jika sedang sepi penghasilannya antara RP.100.000 atau Rp. 200.000 kurang sedikit.

Sekarang kita hitung rata-rata penghasilan pak Dibyo. (hehehe…memangnya sedang kuliah akutansi). Ambil rata-rata Rp.250.000,- x 11 bulan = Rp. 2.750.000,- Nah, kebetulan tujuan mudik pak Dibyo juga ke Yogyakarta. Ia berangkat bersama istri dan dua orang anak yang cukup besar. Artinya harga tiket tetap dihitung empat orang. Alasan pak Dibyo berangkat satu minggu sebelum bulan puasa agar mendapat harga ringan. Rp.400.000,-an. Berarti Rp.400.000 x 4 orang = Rp. 1.600.000,-

 

Jika arus balik nanti masih mengalami harga yang sama dengan tahun lalu, berarti pak Dibyo harus menyiapkan dana transportasi pesawatnya saja sebesar Rp. 5.200.000,- Belum lagi persiapan hidup selama satu bulan di Yogyakarta sana. Seperti alibi saya, dana transportasi di kalikan tiga. Rp. 15.600.000,- Kenapa harus dikalikan tiga? Karena seringkali pengeluaran tidak sesuai dengan rencana semula. Sama halnya kita pergi ke pasar dengan tujuan membeli baju kaos, sesampainya di sana, masih beli ini dan itu. Bagaimana jika tiba-tiba harga tiket mudik Rp.1 juta. Bukankah ada penambahan Rp.100.000,- lagi.

 

Berapa penghasilan pak Dibyo selama 11 bulan bekerja sebagai pedagang sayur keliling? Ternyata jauh dari harapan agar mudik bisa menjadi nyaman. Saya kira pak Dibyo juga memikirkan hal ini. Seperti yang ia bilang, pak Dibyo balik lagi ke Kalimantan akan menggunakan transportasi laut. “Satu tiket pesawat cukup untuk dua orang,” ucapnya getir.

 

Sekarang, berapa penghasilan saya selama 11 bulan yang bekerja sebagai guru kontrak di salah satu SMP swasta? Yang tidak mendapat THR dan harus membayar sewa rumah setiap bulannya?

 

Saya maklum untuk bisa menikmati segala sesuatu yang ekslusif, efisien dan nyaman laiknya pesawat terbang, kita harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Saya maklum, keistimewaan pesawat terbang bukan tidak membutuhkan biaya operasional yang besar. Tapi kadang saya bertanya dalam hati, alasan apa yang membuat harga tiket dalam hitungan detik bisa langsung naik? Sekarang, saat tulisan ini dibuat, harga tiket ke Yogyakarta dari Banjarmasin sudah mencapai Rp.900.000,-an. Sementara lebaran masih dalam hitungan minggu. Berapa harga tiket jika berangkat tiga hari sebelum lebaran?

 

Saya tidak ingin bilang “yang miskin jangan naik pesawat”, apalagi menjelang lebaran. Alasannya sederhana. Tiket mahal. Sebenarnya bukan soal memilih naik kapal laut atau kapal terbang, tapi inilah kondisi kurang bijaknya sistem di negara Indonesia dalam hal transportasi. Apa bedanya bulan September-Oktober 2007 nanti dengan bulan-bulan sebelumnya bagi satu biji kapal terbang? Adakah perubahan signifikan terhadap kondisi pesawat tersebut di bulan September-Oktober 2007? Apa karena di bulan September-Oktober 2007, maskapai penerbangan memberikan servis yang ‘wah’ sehingga harga tiket dinaikkan? Alasan klasik para pemegang saham penerbangan pastilah menjawab sinis seperti ini, “Oktober 2007 itu kan lebaran. Orang-orang akan berbondong-bondong mudik. Ini kesempatan untuk meraih keuntungan lebih banyak lagi.”

Sayang sekali jika pola pikir demikian terus dikembangbiakkan. Perilaku aji mumpung memang tumbuh subur di sebuah negara yang memiliki sistem tidak jelas. Apalagi kebijaksanaan tidak didasari atas kebutuhan orang banyak.

 

Coba kita ingat kembali tentang bencana maskapai penerbangan kita beberapa bulan yang lalu. Rumor yang berkembang mengapa maskapai penerbangan kita sering mengalami kecelakaan. Orang bodoh menjawabnya karena murah. Sesuatu yang murah itu bisa jadi murahan. Kalau murahan, kualitasnya cenderung jelek. Bagi orang pintar, karena maskapai penerbangan kita sedang berebut rejeki dan sadar bahwa masyarakat Indonesia kebanyakan orang miskin, maka orang miskin bisa dijadikan ladang bisnis. Daya tarik harga sangat potensial untuk mengeruk keuntungan. Lazimnya toko pakaian yang menawarkan diskon untuk menarik minat kepada para pembeli. Soal kualitas pesawat, justru mereka sedang menerapkan prinsip ekonomi yang diajarkan di SD. Sedikit-dikitnya pengeluaran, sebanyak-banyaknya pendapatan. Beli pesawat yang sudah uzur, dipoles dikit biar keliatan kinclong. Selesai. Timbul pertanyaan bagi setiap orang, benarkah kenaikan yang drastis pada momen lebaran semacam ini akan digunakan untuk mempersiapkan suku cadang dan layanan servis yang baik kepada para pemakai jasa penerbangan kelak dan sekarang? Bukan semata aji mumpung yang konotasinya menimbun keuntungan tanpa mempertimbangkan banyak orang?

 

Maaf saya hanya orang bodoh. Berpikirnya pun dengan cara yang bodoh. Jika hari-hari biasa harga tiket bisa murah, tentunya di saat lebaran pun juga murah. Syukur-syukur tambah murah. Jika hari-hari biasa tidak kebanjiran penumpang, justru karena ada lebaran, penumpang membludak. Itu artinya, tanpa dinaikan harga, keuntungan sudah bertambah.

 

Tentang pak Dibyo. Sebenarnya saya tidak perlu mempermasalahkan rejeki yang ia peroleh. Setiap orang pasti mampu berpikir. Apalagi ia memiliki 11 bulan untuk menyiapkan rencana mudik ke kampung halaman. Ini masalah rejeki, Tuhan maha pengatur atas segala. Siapa tahu pak Dibyo memiliki usaha lain yang tidak terhitung dalam kalkulasi saya. Siapa tahu orang-orang miskin telah banyak belajar bagaimana mensiasati masalah yang dihadapinya. Bukankah hidup kita ini sedang melewati waktu demi waktu yang penuh rahasia? Maka tak usahlah bingung dan pusing setiap kali membicarakan masalah mudik. Yang penting, rejeki yang kita dapatkan selama ini halal, ibadah puasa kita sempurna, dan lebaran nanti Anda menjadi orang yang merdeka dari dosa. Apakah Anda ingin meniru pak Karso? Tetangga saya. Dia terpaksa hutang jutaan rupiah agar tetap bisa mudik. Pulang-pulang dia akan berurusan dengan penagih hutang. Dan ini tentu lebih memusingkan. Jadi, bagi orang miskin, untuk urusan mudik saja, kerja keras mereka selama 11 bulan ternyata masih belum cukup layak. Bagaimana ini, Pak? Percaya atau tidak, terserah. Anda toh sudah kaya.

 

Apakah saya akan mudik kali ini? Entahlah. Sepertinya saya sudah terlambat untuk mendapatkan tiket murah.

 

RumahCerita, 2007

Iklan

Entry filed under: Esai.

Soal Naskah Layak dan Tidak Layak Terbit Wanita yang Melukai Tubuhmu dengan Pisau

1 Komentar Add your own

  • 1. Tongkonan  |  19 September, 2008 pukul 10:38 am

    dimana ya cari tiket pesawat ke banjar yang murah meriah? rencana setelah lebaran mau pulang ke kalteng lewat banjar, berangkat dari yogya.

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Statistik:

  • 288,134 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

RSS Berita Banjar

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: