Sesuatu yang Mencemaskan

24 September, 2007 at 1:06 pm Tinggalkan komentar


 

Kami tidak suka sepakbola, apalagi menontonnya. Tapi kami suka sepakbola jika musim hujan sudah datang. Begitulah, hujan menawarkan banyak tawa dan menjanjikan keberanian. Kami tidak menertawakan siapa-siapa, kecuali menertawakan diri kami sendiri. Itu lebih baik, dan kami percaya tidak ada yang lebih baik daripada itu. Entah kenapa, jika hujan datang, kami berani berbuat nekat untuk menerjang bola. Agaknya, keberanian itu alasan yang tepat kenapa kami bermain sepakbola ketika hujan datang.

Pernah kami hanya diam mematung sambil memandang ke langit. Cemas kami menunggu apakah hujan akan datang. Entahlah, kami selalu saja menganggap sepakbola adalah permainan. Ada kebahagiaan yang ingin kami cari. Tidak seperti bermain sepakbola tanpa hujan. Bukankah bermain dan bertanding itu dua hal yang berbeda? Pertandingan membuat kami tidak bahagia, terlalu serius, bahkan tertawa pun jarang terjadi. Kami hanya memikirkan menjebol gawang, tidak ada cipratan air, tidak ada seseorang yang diam-diam dari belakang untuk menarik celana kolor kami ke bawah hingga telanjang, tidak ada waktu yang harus kami hentikan sejenak untuk saling berpelukan mengusir gigil yang gemeretak. Tidak ada tontonan si penjaga gawang menangkap bola penuh aksi. Jika hujan datang, penjaga gawang biasanya menjadi bintang lapangan. Ia akan beraksi seperti film-film laga di televisi. Bukan soal apakah bola yang kami tendang sekuat tenaga akan berhasil menjebol gawang, tapi bagaimana penjaga gawang membiarkan bola itu masuk dengan caranya yang paling menawan. Tidak ada yang menang dan kalah di antara kami, sebiji bola tidak boleh membuat kami bertengkar. Kami hanya ingin bersenang-senang dengan tingkah laku kami yang menyenangkan. Kadang kami membiarkan bola itu tak bergeming karena kami sedang sibuk bermain. Ada yang menjadi si Pitung, Gatot Kaca, dan juga Doraemon. Kami saling kejar dan saling mencakar. Kami tahu bagaimana caranya agar tidak ada yang terluka, maka semua gerakan kami buat menjadi lambat. Kecuali satu hal, menarik celana kolor musuh ke bawah hingga telanjang. Kami tertawa sepuasnya dalam hujan.

***

Percayalah, ini semua terancam. Bisa saja kami memutuskan untuk mencari kesenangan lain. Kami bisa tumbuh di meja bilyard, mengakar di ruang-ruang diskotek, berbuah di rumah-rumah pelacuran. Bagaimana jika kami berpikir bahwa semua itu lebih menyenangkan? Tidak ada yang kami dapatkan dari hujan, kecuali tawa yang buncah dan meriah. Tapi setelah itu, kami pulang ke rumah dan harus menanggung segala resikonya. Baju dan celana kami kotor, pantat kami lebam. Orangtua kami selalu marah jika kami pulang saat senja. Semestinya kami sudah rapi dan siap pergi ke surau untuk sholat maghrib berjamaah.

Menjadi lelaki dewasa berarti sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi bagaimana jika kalian juga bisa menghasilkan banyak uang? Bukankah semua itu cukup membuat kalian untuk melakukan sesuatu yang lebih dari biasanya? Jumlah kalian cukup untuk membangun jaringan. Kalian bisa mengontrak rumah agar leluasa mengatur rencana demi rencana tanpa campur tangan siapa pun. Di rumah kontrakan itu kalian juga bisa menginapkan pacar-pacar kalian yang montok. Kalian tak perlu takut jika terjadi sesuatu dengan mereka. Pergi saja ke apotek, memborong kondom sebanyak-banyaknya. Itu sudah biasa dilakukan anak muda sekarang ini? Jika enggan menggunakan kondom, lantas mereka hamil, kalian bawa saja ke salah satu dokter yang mau menggugurkan kandungan dengan sejumlah biaya. Itu bukan masalah. Bukankah setiap hari anak-anak muda akan datang kepada kalian untuk memesan minuman keras, ineks dan sabu-sabu? Bahkan kalian juga bisa belajar cara menjual pacar-pacar kalian kepada orang lain. Dahsyat bukan?

Kesenangan-kesenangan harus direncanakan. Itu yang harus kalian pelajari. Jika ingin mendirikan bisnis tambahan, maka bisnis itu harus mendukung bisnis awal. Seperti mengimport buku-buku porno dan menjualnya jauh lebih murah. Ini paling gampang. Apalagi pembaca komik. Maka komik-komik porno juga harus kami datangkan dalam jumlah besar. Jika anak-anak muda membacanya, mereka akan terangsang dan penasaran untuk mencobanya. Maka seks bebas itu akan segera terwujud. Seks bebas bersahabat dengan alkohol, obat, rokok, dan diskotek. Disitulah masa depan kalian. Jangan main-main dengan masa depan. Kesempatan bisa saja datang sepuluh kali, tapi masalahnya apakah itu terjadi kepada kalian. Jika tangga-tangga kesuksesan mulai tersusun, kalian harus berani bertindak lebih jauh. Kalian bisa saja memulainya dengan mencari penulis-penulis kere dan mensponsori buku mereka dengan syarat tulisan yang berbau seks. Atau membuat sinetron dan meminta para artis berdandan ala paha dan dada yang terbuka.

Jika uang kalian sudah cukup banyak. Biarkan uang itu bekerja untuk kalian. Lihatlah sendiri perdagangan video porno, bisakah dibabat tuntas? Lihatlah film-film bajakan, apakah bisa berhenti operasi? Itu semua bukti bahwa uang sedang bekerja untuk kalian. Percayalah, kalian akan memiliki uang melebihi kekayaan negeri ini. Maka kalian bisa berbuat sesuka maunya. Ha, ha, ha… Bagaimana bisa menghentikan kalian jika negeri ini saja masih numpang hidup dengan uang kalian? Itu logikanya. Jangan-jangan justru kalian yang akan menghidupi negeri ini dengan cara kalian sendiri.

***

Ya, ampun. Apa kau kira kami sudah melakukan semua hal yang tadi kami katakan? Lihat, hujan sudah datang. Kami harus bergegas ke lapangan sepakbola. Tahukah kau? Tak ada yang mau berjudi untuk permainan bola seperti kami. Dan kami tak peduli memainkannya seumur hidup. Termasuk menarik celana kolor musuh ke bawah hingga telanjang. Kami hanya ingin bersenang-senang untuk melewatkan hari-hari kami yang cukup lelah. Setelah itu kami akan kembali ke sawah membantu orang tua kami bekerja. Jika lelah, kami akan menangkap belut atau bermain air di sungai. Tapi percayalah. Hidup adalah pilihan. Dan kami sudah memutuskannya. Yang pasti, kami benci kepada lelaki itu. Kemarin siang, ia datang menemui kami di lapangan sepakbola. Ia menawarkan banyak uang kepada kami jika mau menjual obat terlarang ke sekolah-sekolah. Ia bercerita banyak hal. Katanya kami bisa kaya mendadak dengan pekerjaan itu. Dalam tempo sebulan, kami bisa membeli sepeda motor dan memilih perempuan sesuka maunya untuk menjadi pacar kami. Panjang lebar ia memberi harapan agar kami setuju. Bahkan ia meramalkan masa depan kami akan cerah. Seperti yang telah dilakukan orang-orang. Apa yang telah mereka lakukan, kami rasa kau telah membacanya tadi. Sekarang, jumlah kami sudah berkurang. Barangkali mereka sudah pergi bersama lelaki itu sejak tadi malam.

 

 

RumahCerita, September 2007

 

 

 

Entry filed under: Umum. Tags: .

Lampu Merah Bernyanyi

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 283,231 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

%d blogger menyukai ini: