Posts filed under ‘Tips Mengarang Cerpen’

Gratis Belajar Menulis Cerpen


Sekadar informasi buat Anda semua yang datang ke blog ini dengan keyword belajar menulis cerpen, mengarang cerita pendek, karya sastra, fiksi dan sebagainya, maka saya beritahukan bahwa saya tidak lagi menulis tentang tips menulis cerpen untuk blog ini. Kalau masih berminat mengikuti tips mengarang atau menulis cerita pendek silakan kunjungi blog yang saya khususkan untuk diskusi cerpen.

Sampai jumpa di sana.


20 April, 2009 at 4:35 pm 5 komentar

Tips Mengirim Karya Sastra ke Surat Kabar (1)


Tips ini saya berikan bukan berarti menjamin 100% karya sastra Anda akan diterbitkan oleh koran. Tapi bukan berarti Anda tidak memiliki kesempatan untuk itu. Berikut akan saya uraikan hal-hal yang patut diperhatikan sebelum mengirim karya sastra ke surat kabar. Semoga mencerahkan.

Surat Kabar Apa yang Anda Tuju?
Memahami karakter sebuah media sangat penting dilakukan jika karya Anda ingin mendapat peluang diterbitkan oleh media tersebut. Bagaimanapun, tiap-tiap surat kabar memiliki kriteria masing-masing. Jadi, tak ada salahnya mempelajari satu demi satu karya sastra yang terbit di tiap-tiap surat kabar. Bagaimana cara mempelajarinya? Mudah kok. Coba Anda baca karya sastra koran yang dipublikasikan kembali oleh http://www.sriti.com. Lakukanlah riset kecil-kecilan dengan cara memilah surat kabar yang memuatnya. Ambil 10 cerpen atau 10 puisi, bahkan lebih. Sediakan waktu untuk membaca keseluruhan karya sastra tersebut. Dengan cara itu, Anda akan mengetahui kecenderungan masing-masing media surat kabar ketika meloloskan (menerbitkan) sebuah karya sastra di surat kabar mereka. (lebih…)

29 Juli, 2008 at 1:19 pm 16 komentar

Proses Kreatif Seorang Agus Noor


Sudah lama ingin menulis tentang ini, tapi baru sekarang bisa diwujudkan. Waktu Kongres Cerpen Indonesia di Banjarmasin kemarin, saya sempat menanyakan bagaimana proses kreatif Agus Noor saat menyelesaikan cerpen-cerpennya.

Satu hal yang bisa digarisbawahi bahwa Agus Noor adalah pengarang yang tekun dan sabar. Ia ceritakan sejak SMA (maaf lupa, SMP atau SMA) hingga sekarang masih menyimpan buku catatan yang isinya semua kumpulan kata-kata. Kemanapun buku itu selalu ia bawa. Menurutnya, banyak kata-kata yang indah, imajinatif, luar biasa datang dalam keadaan tidak sengaja. Dengan kata lain, proses kreatif Agus Noor banyak dimulai lewat buku catatannya tersebut. Ada kata-kata yang bisa dijadikan judul, isi dan lain-lain.

Sayang sekali saya lupa bagaimana ceritanya. Suatu kali Agus Noor bertemu dengan seseorang dan ia mengagumi bola mata orang tersebut. (Jadi ingat cerpen saya sendiri; Chantika dan Bola Matanya) hehehe…Lanjut lagi ceritanya, dari hal-hal semacam itu, kata Agus Noor kadang juga menjadi inspirasi yang tidak terduga. Agus Noor tidak tahu ingin bercerita tentang apa tapi ia terusik dengan mata itu. Ia bayangkan ada sebuah kehidupan di dalam sana. Begitulah, dengan bantuan imajinasi, Agus Noor bisa menjadikannya sebuah cerita lewat sebuah mata, masuk ke dalamnya. Itula proses kreatif seorang Agus Noor yang ia ceritakan kepada saya.[]

17 Januari, 2008 at 2:28 pm 5 komentar

teknik-berani-mengawali-mengakhiri-sebuah-cerpen # 2


Langsung saja, ini menyambung tulisan yang di bagian bawahnya diakhiri dengan kalimat bersambung (hehehe…model sinetron saja). Tulisan itu mengenai teknik mengawali sebuah cerpen.

Entah kenapa saya cenderung untuk memulai cerpen dengan menyampaikan sebuah permasalahan lebih dulu atau bisa saja dengan memancing akan adanya sebuah permasalahan. Contohnya kalau secara lisan, “Eh, kamu tahu tidak tentang seorang ibu yang sangat rindu dengan anaknya sendiri?”

Mungkin pertanyaan di atas itu biasa saja. Tapi coba perhatikan, banyak kata yang bisa dijelaskan kemudian. Bagaimana kondisi ibunya tersebut? Ada apa antara ibu dan anak?

Contoh di atas saya ambil dari judul cerpen “Jempol Kaki Ibu Ada di Televisi”. Maaf, ini bukan narsis. Soalnya itu cerpen saya sendiri. Bukankah dengan begitu akan lebih mudah untuk menjelaskanya?

Mengawali cerpen dengan memancing sebuah permasalahan bagi saya akan berhasil apabila permasalahan itu sendiri sesegera mungkin dimunculkan. Bukan sebaliknya, menyimpan permasalahan tersebut di akhir cerita. Kenapa itu saya lakukan?

Saya meyakini bahwa seorang pembaca pada awalnya hanya melakukan proses scaning. Semacam kerja alat scanner. Jika dalam proses scaning tersebut ia merasa menemukan sebuah objek yang menarik bagi dirinya, ia akan menempatkan dirinya sebagai pembaca yang aktif. Ia akan mencari jawaban atau alasan cerita kita. Bahkan sangat mungkin si pembaca akan memvonis baik atau jelek karya kita. Itulah kenapa saya juga meyakini bahwa pembaca adalah seorang kritikus yang patut didengar ketika ia mulai mengeluh. Jadi jangan marah. Saya cenderung banyak belajar dari keluhan-keluhan itu. Tapi bukan berarti setiap keluhan harus membuat kita pusing.

Hemat saya, keluhan seseorang itu bisa ditelusuri lebih jauh. Pertama, apakah keluhannya itu logis? Kedua, cari informasi jenis bacaan yang ia sukai. Seseorang bisa saja mengatakan cerpen si anu jelek. Ketika ditanyakan alasannya, ia tak bisa menyebutkan bagian-bagian jelek yang dimaksud. Anehkan? Andainya pun bisa, ia menyebut sesuatu yang sebenarnya adalah kekuatan cerpen tersebut. Nah, ada baiknya juga mengetahui jenis bacaan yang ia sukai. Kenapa ini juga harus dilakukan? Seseorang yang telah menyukai sesuatu, berapa persenkah ia bisa memberikan rasa sukanya kepada cerpen yang lain? Itu kalau si pembaca sudah sampai pada tingkatan fanatik. Masih ada lagi yang lain. Hobi bacaan seseorang kadangkala mempengaruhi juga terhadap cara ia memandang sebuah karya. Entah itu soal aliran, pengarangnya dan lain-lain. Nah, apakah kita memiliki cara berpikir yang sama? Atau boleh tidak sama asal saling terbuka.

Baiklah, jika cerpen sudah dibuka dengan sebuah permasalahan atau memancing permasalahan, maka di situ saya akan bermain-main dengan penceritaan. Maksudnya saya akan bercerita untuk mendeskripsikan masalah tersebut. Deskripsi itu penting, Bagaimana kondisi si ibu dan anak? Jika ibunya bersedih, kenapa ia bersedih? Jika ibunya lantas menangis, kenapa ia harus menangis? Disitulah saya sedang menceritakannya. Bukankah ini cerita? Bagaimana mungkin cerita kita akan dipercaya kalau banyak hal-hal janggal di dalamnya. Rasa sedih yang tak terjelaskan membuat pembaca akan bertanya-tanya bahkan sedikitpun tak merasakan apa yang ingin kita sampaikan.

Soal pemilihan kata atau kalimat untuk membuka sebuah cerita, itu masuk dalam wilayah keterampilan seseorang. Seseorang tidak mungkin bisa mengendarai sepeda motor tanpa ada proses berlatih. Proses itulah yang dibutuhkan. Rasa cemas, takut, khawatir, kecewa bisa saja dialami seseorang ketika pertama kali menyalakan sepeda motor. Baru dinyalakan, gugupnya bukan main. Bagaimana kalau sudah berjalan, pasti dibenaknya terbayang tentang jatuh, sakit, berdarah. Saat-saat seperti itulah yang harus dilewati. Jika ia terpaku dengan pikirannya itu, kapan ia akan bisa. Seorang pengarang, bagi saya, harus melawan rasa malas untuk rajin membaca karangan orang lain. Cara yang paling praktis hanya itu, mengamati masing-masing pengarang dalam membuka ceritanya. Pilih pengarang mana yang kita suka. Bisa tidak kita menirunya? (Bukan njiplak lo). Biarlah awalnya meniru, toh proses juga yang akan menuntun kita. Bahkan kita sendiri tidak harus menyadari bahwa kita telah memiliki style tersendiri. Biasanya orang yang mengatakannya kepada kita. Apakah itu perlu? Untuk bersenang-senang memang iya. Tapi lebih menyenangkan lagi kalau kita tetap bisa menulis dan terus saja menulis.

Sepertinya ini akan bersambung lagi….saya akan berbicara tentang “unik” bagi saya ini juga penting. Kelak ini akan menjelaskan cerita kita berbeda dengan cerita orang lain. Meski tema yang diangkat sama. Tahukah Anda kenapa tokoh ibu dalam cerpen saya begitu merindukan anaknya? Ada masa lalu yang unik terjadi antara ibu dan anak. Dulu, sewaktu anaknya masih bayi, si ibu pernah menyusui anaknya itu dengan jempol kaki. Oke…mudahan ada yang menginginkan tulisan ini berlanjut.

28 November, 2007 at 7:17 pm 10 komentar

Teknik Berani Mengawali & Mengakhiri Sebuah Cerpen


…….Bpk Harie, ulun salah satu penikmat sastra jua…
Ni lg belajar nulis2 cerpen..n esai
Cuma kadang2 bingung waktu mbuat endingnya,,pasti kada seperti yang diharapkan..
Btakun lawan pian.. Kyapa caranya biar bikin awal dan ending yang keren??
Makasih sebelumnya
Slam kenal.. Aulia Rachman…..

Tulisan di atas adalah komentar Aulia Rachman yang sengaja saya letakkan di atas agar saya tetap fokus dengan  apa yang ditanyakannya. Berikut adalah cara saya untuk mengawali dan mengakhiri sebuah cerpen. Maaf jika tak berkenan. Toh saya masih pemula.

Dalam kelas penulisan kreatif di sanggar sastra Darul Hijrah Putri Martapura, saya selalu mengingatkan agar berhati-hati ketika mengawali sebuah cerpen. Saya menganggap bagian awal adalah saat-saat dimana cerpen menawarkan daya pikat (sebut saja rayuan kepada pembaca) agar diperhatikan. Dan, ketika menutupnya, justru lebih berhati-hati lagi. Anggap saja tulisan ini adalah strategi seorang pengarang dalam menyampaikan karangannya kepada pembaca.

Apa strateginya? Untuk tujuan apa strategi tersebut?

Setiap orang memiliki strategi dan tujuannya masing-masing. Entahlah bagi mereka yang tak mau pusing dengan urusan semacam ini. Logikanya begini, setelah Anda membuka cerita dan pembaca memperhatikannya dengan serius, sampai-sampai pembaca terbius, penasaran, apa yang akan Anda lakukan setelah itu? Apakah Anda tiba-tiba akan berteriak bahwa Anda ternyata sedang berbohong, atau Anda mengatakan bahwa cerita itu cuma terjadi dalam mimpi saja?

Biarlah sementara menjadi pertanyaan karena saya menulis ini jam 3 pagi.  Bukankah jam-jam seperti itu orang-orang sedang memanjakan rasa kantuknya?  Saya minta ijin untuk tidur. Besok [Insya Allah] dengan perasaan yang segar, diskusi ini kita lanjutkan. ( Bersambung…)

26 November, 2007 at 8:08 pm 9 komentar


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia
Komunitas Blogger Kalimantan Selatan Ensiklopedi Borneo Kalimantan

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 241,208 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Fotografi

IMG_9999

IMG_9997

IMG_9982

More Photos

RSS ClickBorneo.Com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.