Undangan Resepsi Pernikahan atau Undangan Resepsi Perkawinan

22 Mei, 2012 at 2:55 pm 5 komentar


undangan resepsi-pernikahanSaya tulis catatan ini bukan karena ingin menikah lagi. Ini semua berangkat dari pertanyaan seorang kawan baik. Kawan baik, selalu memberikan pertanyaaan-pertanyaan baik pula. Karena ia baik, saya pun merasa wajib memberikan jawaban sebaik mungkin. Ini tentang undangan pernikahan atau undangan perkawinan.

Manakah yang benar diantara keduanya? Undangan pernikahan atau undangan perkawinan. Loh! Kok gaya pertanyaannya seperti soal-soal di sekolah dasar.  Hehehe, saya jamin pertanyaan model begitu tak pernah singgah di kamus para guru di sekolah. Pertanyaan itu justru sering muncul di ruang-ruang desain grafis, industri percetakan dan juga mereka-mereka yang sudah bertemu jodoh lantas ingin menikah.

Jujur, saya bukan orang ahli bahasa. Nilai Bahasa Indonesia di raport pun menunjukkan angka di bawah rata-rata. Untuk menjawab pertanyaan teman tadi, saya cuma mengandalkan logika berpikir ala Albert Einstein.

Dasar Pemikiran Penggunaan “UNDANGAN RESEPSI PERNIKAHAN”

  • Acara pernikahan adalah acara sakral. Dalam konsepsi Islam yang sering saya temui, calon mempelai akan bersanding di hadapan penghulu. Si lelaki akan menyampaikan ijab kabul dan disaksikan oleh para wali dan saksi-saksi. Menurut saya itu adalah pernikahan. Tak ada resepsi, kecuali dalam bentuk syukuran. Itupun kecil-kecilan. Dibacakan doa lalu makan-makan. Nah, ketika pihak keluarga ingin mewujudkan rasa syukurnya dengan bentuk mengundang sanak-saudara, kerabat dan teman-teman secara besar-besaran, berarti rujukannya adalah melaksanakan resepsi. Resepsi apa? Resepsi pernikahan. Kalau pernikahan saja, itu tadi, pada bagian ijab kabulnya.
  • Kata pernikahan lebih mulia tetimbang perkawinan. Pernahkah mendengar kalimat kucing menikah? Kambing menikah? Gajah menikah? Tapi kalau kawin, tak perlu ditanyakan lagi.

Dasar Pemikiran Penggunaan “UNDANGAN RESEPSI PERKAWINAN”

  • Tidak sedikit saya jumpai kalimat undangan resepsi perkawinan di dalam kartu undangan. Tentu penggunaanya pun memiliki alasan yang sama kuat. Manusia selalu berusaha memberikan identitas. Tanpa identitas, tentu akan terjadi kebingungan. Nah, untuk pemberian identitas, sekaligus membedakan pernikahan dan perkawinan, maka kalau nikah itu adalah acara ijab kabul, sementara resepsinya adalah perkawinan.
  • Berangkat dari tradisi lisan masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan, entah di tempat lain – jarang ditemui kalimat, “Si anu menikah!” Justru sering terjadi adalah, “Si anu kawin!” Berangkat dari tradisi lisan itulah penggunaan kalimat undangan resepsi perkawinan digunakan.

Sebuah Jalan Keluar di Gang Buntu

Saran adalah yang terbaik. Setiap orang memiliki ranah pijak dan dasar pemikiran masing-masing. Kadang kala, sesuatu yang tabu di masyarakat lain, belum tentu menjadi tabu di masyarakat lainnya pula. Apalagi jika sudah menjadi tradisi.  Dalam kasus di atas, saya hanya menyarankan untuk menggunakan Resepsi Pernikahan. Alasannya:

1. Resepsi merupakan sebuah bentuk syukur dari kedua mempelai. Jika disandingkan dengan kata Pernikahan, maka artinya menjadi bentuk syukur karena kedua mempelai sudah resmi/sah menikah sesuai aturan agama, adat istiadat, dan juga pemerintah.

2. Dalam pemberian identitas, Resepsi memiliki makna sendiri, Pernikahan pun juga memunyai  makna sendiri. Jadi tak perlu diganti dengan perkawinan.

3. Namun jika kata Perkawinan adalah sebuah kebiasaan, maka itu tak jadi soal. Karena sebuah kebiasaan tentunya sudah memiliki kesepakatan makna tersendiri yang tak tertulis secara linguistik di suatu tempat. Tentunya pula tak akan dipersoalkan bahwa, kawin itu untuk binatang, menikah itu untuk manusia.

Itu saja pendapat saya. Maaf jika kurang berkenan.

About these ads

Entry filed under: Desain Grafis, Ulasan. Tags: , .

Membuat Forum di Sub Domain Blogspot Custom Domain Perilaku Pengiklan di Blog Polanya Sama, Mainstream

5 Komentar Add your own

  • 1. Amd  |  22 Mei, 2012 pukul 7:37 pm

    Nah, jadi ini ceritanya om Harie mau nikah atau mau kawin?
    *salah fokus*
    *dipentung Gendis*

    Balas
  • 2. dunk2  |  23 Mei, 2012 pukul 12:24 pm

    Ente pilih kawin atau nikah Rie??

    Balas
  • 3. bagus  |  10 Juni, 2012 pukul 5:11 am

    jadi kepengin berpikiran kritis kayak agan nicg

    Balas
  • 4. jaka  |  14 Juni, 2012 pukul 11:28 am

    Salam Kenal Ya Untuk Semuanya.. :)

    Balas
  • 5. nadiananda  |  14 Juni, 2012 pukul 11:29 am

    Inilah Ane yang mau ikut berpartisipasi nongkrong, ngunjungin setia dan berkomentar.. Hehehehe.. :P

    Balas

Tinggalkan pesan sesuai konteksnya:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia
Komunitas Blogger Kalimantan Selatan Ensiklopedi Borneo Kalimantan

Kata Bijak Selamanya

"Mencoba Mengumpulkan Yang Berserak, Karena Ide Tak Sekedar Dalam Pikiran. Melainkan Lewat Tulisan!! “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna"Pramoedya Ananta Toer"

Arsip

Kategori

Twitter Terbaru

Statistik:

  • 244,390 Kali Mendapat Kunjungan
Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Fotografi

IMG_9999

IMG_9997

IMG_9982

More Photos

RSS ClickBorneo.Com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d bloggers like this: