Susahnya Menulis…
2 Juli, 2008
“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” – Pramoedya Ananta Toer
Kalimat ini saya tulis dalam keadaan sadar. Bahkan rambut juga masih basah usai mandi dan di atas meja ada segelas kopi hitam yang menemani. Apa pun kata orang, saya tidak percaya kalau menulis itu mudah. Tapi entah mengapa, selalu dalam sebuah acara bimbingan menulis, seseorang di depan sana, sambil memegang mikrofon lantas mengatakan bahwa menulis itu mudah. Saya tidak setuju dan kenapa harus setuju?
Dulu pernah ada janji dalam hati, bahwa saya akan menulis setiap hari. Berharap, menulis menjadi sesuatu yang mengasyikkan, jika sehari saja tidak menulis, maka tidak asyik. Sama saja dengan orang yang setiap hari chatting, kalau tidak chatting, pusing. Seperti pepatah bilang, ala bisa karena terbiasa. Tapi itu dulu, sekarang janji hanya tinggal janji. Bukankah setiap janji tidak selalu bisa ditepati? Tapi kenapa dulu saya berjanji? Karena saya ingin belajar disiplin. Karena menulis bukan sekadar main-main. Karena menulis memang butuh perjuangan. Saya ingin jadikan, menulis itu candu. Akh, terlalu banyak jawaban tapi satu pun tidak terbukti.
Banyak alasan kenapa seseorang ingin belajar ilmu tulis-menulis. Minimal, aktifitas tulis-menulis bisa melatih kesabaran dan ketelitian. Entah ilmu itu nanti akan digunakan untuk menulis fiksi atau non fiksi, itu soal belakangan. Tergantung minat masing-masing. Tapi bagi saya, ilmu tulis-menulis tidak begitu saja turun dari langit. Seperti hujan, lalu ditampung dengan ember. Jadi saya tidak sepakat, kalau menulis itu mudah. Tapi bagi yang mengatakan itu, sah-sah saja, tapi tidak untuk semua orang, dan yang paling penting, adalah alasannya. Orang mengatakan bahwa menulis itu mudah, pasti awalnya juga mengalami susahnya menulis, lantas berhasil melewati masa-masa itu dan akhirnya mampu mengatakan menulis itu ternyata mudah. Silakan saja. Saya tetap mengatakan bahwa menulis itu susah. Kenyataannya memang begitu. Seandainya mudah, tentu saya akan mampu melakukan posting di blog ini setiap hari. Bahkan tidak hanya untuk satu tulisan, tapi lebih. Apakah penyebabnya?
Sibuk, sibuk dan sibuk. Saya sangat sibuk. Tidak percaya? Logikanya begini, menulis itu perlu waktu. Minimal, waktu khusus untuk menulis. Tapi sayang, kesibukan membuat badan jadi lelah. Pulang kerja, mata sudah ngantuk. Badan lemas dan pikiran juga suntuk. Seandainya ada waktu pun, dengan pikiran suntuk, apa yang bisa saya tulis? Sebaliknya, pikiran fresh, badan segar-bugar, tapi waktunya tidak ada. Bagaimana?
Susahnya menulis itu kompleks. Tidak hanya soal menuangkan ide dan pikiran menjadi tulisan tapi juga di luar teknis penulisan itu sendiri. Contohnya kesibukan tadi. Meski itu sudah lumayan, masih punya semangat untuk menulis, bagi saya kurang pas. Ini soal sistem, harusnya aktifitas menulis itu menjadi bagian dari hidup saya. Antara pekerjaan, istirahat, dan menulis, diatur dengan sebaik mungkin. Tapi masalahnya adalah, kenapa kita harus menulis? Apakah pertanyaan itu layak disandingkan dengan, kenapa kita harus bekerja?
Mudah sekali untuk menjawab pertanyaan kedua. Bekerja itu harus. Motivasinya jelas. Kalau tidak, bagaimana dapur bisa mengepul? Tapi bagaimana dengan pertanyaan pertama? Kenapa kita harus menulis? Bisakah dikaitkan dengan dapur yang mengepul?
Memang, keahlian menulis dapat digunakan untuk mendapatkan materi. Mengirim ke surat kabar, misalnya. Atau mengirim tulisan ke penerbit untuk dijadikan buku. Tapi itu bukan motivasi yang baik. Orang akan mudah lelah dan putus asa. Bagaimana jika surat kabar menolak tulisan yang kita kirim? Bagaimana jika penerbit menolak naskah kita? Penolakan-penolakan rentan dengan kekecewaan ketimbang menjadi sebuah tantangan untuk tetap menulis.
Kadangkala, saya butuh motivasi ketika menulis. Itu terjadi ketika semangat sedang luntur. Tapi saya percaya satu hal, susahnya menulis harus dilawan. Salah satu bentuk perlawanannya adalah dengan paksaan. Itulah motivasi yang sebenarnya. Lawan, lawan dan lawan. Punya ide atau tidak, yang penting hari ini ada sesuatu yang kita tulis. Semakin terbiasa menulis, maka kebiasaan itu membuat sesuatu yang awalnya rumit menjadi mudah. Tapi bagaimana pun, menulis bukan perkara mudah, karena saya sadar, yang dilawan bukanlah orang lain, tapi diri kita sendiri, otak kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri. Jadi, perkara menjadi susah atau mudahnya menulis, saya rasa berpulang kepada diri kita sendiri. Jika selama ini begitu banyak tips-tips penulisan, cerita-cerita sukses dari orang lain, itu adalah ilmu pengetahuan sekaligus motivasi yang tidak ada harganya jika Anda tidak memerintahkan otak Anda dengan kalimat, “Ayo menulis!”. Akh ternyata begitu susahnya untuk bisa menulis…
Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. Tepatnya, untuk otak, tubuh dan hati yang selalu dipaksa agar saya tetap menghasilkan tulisan. Menulislah, menulislah, menulislah…
Entry Filed under: Tips Menulis. Tag: belajar menulis, menulis., motivasi, mudah, susahnya menulis, Tips Menulis.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed








1.
annmolly | 3 Juli, 2008 at 11:07 am
ada salah satu jalanbagi mereka bener2 males agar tetap disiplin menulis bisa mencoba layanan microblogging macam kronologger, twitter, pownce ato tumblr, yang bisa dilakukan dimana saja melalui ponsel ber-GPRS.