Gadis kecil itu bernama Nauka
25 Juni, 2008
Catatan: Kepada Nauka, gadis kecil yang datang membeli buku.
Masih lekat dalam ingatan saat Nauka menanyakan kenapa dataran bulan bisa berlubang-lubang. Sebelum menjadi serius, aku justru balik bertanya. Pernahkah Nauka mendengar cerita seorang lelaki tatkala merayu kekasihnya? Sungguh itu pertanyaan sesat. Belum saatnya Nauka mendengar cerita semacam itu. Entah apa kata orangtuanya jika tahu. Tapi untuk menghibur diri, sesungguhnya Nauka mengangguk saat aku menanyakannya. Pertanda bahwa aku bukan orang pertama. Nauka sudah tahu sebelumnya. Entah dari siapa?
“Jika kelak kau besar, Nauka. Jangan kau bahagia jika kecantikanmu itu dibandingkan dengan bulan. Seperti yang kau lihat, dataran bulan itu berlubang-lubang.”
Nauka tersenyum. Ia terus memandangi gambar bulan dari sebuah buku yang baru saja dibelinya. Lubang-lubang itu tampak besar dan kasar. Tapi Nauka belum puas. Itu bukan jawaban yang ingin ia dengar. Kenapa ada lubang di bulan? Aku bukan ahli astronomi tapi juga tidak ingin terlihat bodoh di depannya. Paling tidak aku punya jawaban yang masih bisa dipahami. Jika ternyata salah, aku yakin, suatu saat ia juga akan belajar banyak hal dan menemukan kebenaran dari pertanyaannya itu.
“Sebuah meteor, Nauka. Ketika jatuh di bulan, maka akan menyisakan lubang di sana,” jawabku saat ia menanyakan kenapa dataran di bulan berlubang-lubang sambil menunjuk gambar meteor yang ada di buku miliknya itu. Untunglah, Nauka tidak meminta agar aku juga menjelaskan, apa itu meteor dan dari mana asal meteor? Tapi sebaliknya, Nauka membuat kesimpulan yang membuat tawaku meledak saat itu juga.
“Jalan menuju ke rumah Nauka di Banjarmasin juga berlubang-lubang!”
Maaf, Nauka. Kita tidak sedang membicarakan jalan-jalan menuju rumah kita. Sebenarnya sama saja. Jalan menuju ke rumahku juga banyak lubangnya. Tapi percayalah, tidak pernah ada meteor jatuh di jalanan itu. Saat ini, banyak hal yang belum bisa kau pahami tapi suatu saat, kekuatan waktu akan datang untuk memberikan jawaban atas semua ketidakmengertianmu itu. Belajarlah yang rajin, seraplah ilmu pengetahuan yang kau baca dari buku-buku.
Malam semakin larut. Nauka, gadis kecil yang cerdas itu akhirnya mengikuti orangtuanya pamit untuk meninggalkan bookcafe. Berhati-hati Nauka menyimpan buku yang dibelinya itu ke dalam kantong plastik. Akh, tiba-tiba aku ingat kebiasaanku dulu waktu SMA. Tentang buku-buku pelajaran yang kulipat di saku celana. Alamak!
7 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed








1.
M | 26 Juni, 2008 at 10:17 am
Ehem… ehem! Masih kecil Mas. Nanti saja tunggu kalau ia sudah dewasa, baru Mas goda! He…he…he…he!
2.
Pakacil | 26 Juni, 2008 at 5:52 pm
memang jauh lebih sulit menjelaskan kenapa jalan-jalan itu (cepat) berlubang. Apalagi kalau sudah menyangkut kontraktor pelaksana dan dinas teknis terkait.
3.
The Carbonized | 26 Juni, 2008 at 9:11 pm
Ini bukan masalah Nauka, meteor, buku atau kenangan masa SMA-nya kan?
ini lebih menekankan pada masalah tidak dapat menjelaskan kan har?
4.
The Carbonized | 26 Juni, 2008 at 9:28 pm
maaf om jangan marah ya?
5.
ichalgila | 27 Juni, 2008 at 12:59 am
mas hari gerobaknya di pinggirin dulu mas…bulannya aku ga bisa liat
6.
suhadinet | 27 Juni, 2008 at 6:43 am
He..he…jadi kaingatan waktu sakulah di SMA 1 Amuntai dahulu nah..
Hari Sabtu katuju mbolos.
Hari Senin kada umpat apel.
He..he…
Pada dasarnya saya bukan anak nakal, cuma terbawa-bawa teman (Halah!).
7.
nauka | 9 Januari, 2009 at 3:59 pm
om sekarang Nauka punya blog.ceritanya bagus.kenapa cerita nauka disebarkan?nauka jadi malu sekarang.